BI Tahan Suku Bunga, IHSG dan Rupiah Justru Merespons Positif

MEDAN (Waspada.id): Keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% justru mendapat respons positif dari pasar keuangan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah sama-sama bergerak menguat pada perdagangan hari ini, Rabu (23/9).
IHSG ditutup menguat signifikan sebesar 1,56% ke level 6.374,912. Sementara itu, rupiah mampu menguat ke level Rp17.795 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, menilai keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan tersebut menjadi sinyal bahwa bank sentral masih melihat kondisi perekonomian dan nilai tukar dalam batas yang dapat dikendalikan.
"Bank Indonesia memutuskan besaran bunga acuan tetap bertahan di level 5.75% pada perdagangan hari ini. Langkah BI tersebut disambut positif oleh pasar saham (IHSG) yang ditutup menguat signifikan 1.56% di level 6.374,912," ujar Gunawan.
Menurut Gunawan, keputusan tersebut cukup berani karena dilakukan ketika arah kebijakan moneter global masih dibayangi kenaikan suku bunga. Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) maupun Bank Sentral Eropa sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuannya.
"Di sisi lain Rupiah juga mampu ditutup menguat di level 17.795 per US Dolar. Rupiah justru bergerak di teritori positif, sekalipun tekanan pada mata uang Rupiah belakangan ini alami peningkatan khususnya setelah 9 September kemarin dan setelah The Fed naikkan bunga acuan," ujarnya.
Meski tekanan terhadap rupiah meningkat dalam beberapa waktu terakhir, Gunawan melihat kondisi rupiah saat ini masih berbeda dibandingkan periode ketika mata uang Garuda sempat menembus level Rp18.000 per dolar AS.
"Meski demikian Rupiah tidak seburuk seperti yang pernah terjadi sebelumnya, dimana Rupiah sempat menyentuh 18 ribu per US Dolar," ujarnya.
Rupiah Masih Mampu Dikendalikan
Gunawan mengatakan, respons positif rupiah pada perdagangan hari ini menunjukkan bahwa tekanan eksternal belum serta-merta membuat stabilitas nilai tukar kehilangan kendali.
Menurutnya, sepanjang 2026, BI sebelumnya memang sempat menghadapi tekanan terhadap rupiah dan harus meresponsnya dengan kebijakan suku bunga. Dimana BI harus merespon dengan menaikkan bunga acuan hingga 100 basis poin di tahun 2026.
Namun, ruang kebijakan BI ke depan tetap akan dipengaruhi oleh arah suku bunga global. Jika bank-bank sentral utama kembali menaikkan bunga, tekanan terhadap pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia, berpotensi meningkat.
"Meskipun akan terus dibayangi potensi lonjakan kenaikan bunga acuan di banyak Bank Sentral, langkah BI pada hari ini setidaknya menunjukan bahwa Rupiah masih mampu dikendalikan sekalipun tekanan pasar terlihat alami peningkatan di tengah spekulasi kenaikan bunga acuan dunia," katanya.
Harga Emas Ikut Tertekan
Di tengah penguatan IHSG dan rupiah, harga emas dunia justru bergerak melemah. Harga emas tercatat berada di sekitar US$4.310 per troy ounce.
Jika dikonversikan ke rupiah, harga emas berada di kisaran Rp2,49 juta per gram.
"Harga emas dunia ditransaksikan melemah ke level $4.310 per ons troy pada perdagangan hari ini. Jika dirupiahkan harag emas ditransaksikan di kisaran 2.49 juta per gram," sebutnya.
Gunawan mengatakan, pelemahan harga emas masih berkaitan dengan ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS. Kenaikan suku bunga biasanya menjadi salah satu faktor yang meningkatkan tekanan terhadap aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga seperti emas.
"Harga emas kembali melemah, dan masih dibayangi oleh rencana kenaikan bunga acuan yang akan dilakukan Bank Sentral AS sebelum tutup akhir tahun," ujarnya.
Perebutan Likuiditas Mengintai
Menurut Gunawan, potensi kenaikan suku bunga global perlu menjadi perhatian karena semakin tinggi biaya dana, semakin besar pula tekanan terhadap aktivitas ekonomi.
Rencana kenaikan tersebut sejauh ini juga terus menghantui pelaku pasar keuangan. Semakin tinggi suku bunga dinaikkan, maka semakin besar tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Ia menilai kebijakan suku bunga yang lebih tinggi juga berpotensi diikuti oleh negara-negara lain untuk menjaga stabilitas mata uang dan mencegah arus modal keluar.
"Dan tentunya berpeluang direspon dengan kebijakan yang tidak jauh berbeda di banyak negara lain yang memicu perebutan likuiditas di pasar keuangan," katanya.
Dengan demikian, respons positif IHSG dan rupiah pada perdagangan hari ini menjadi perkembangan yang perlu dicermati, terutama karena pasar keuangan global masih menghadapi ketidakpastian arah suku bunga dan likuiditas hingga akhir 2026. (id09)















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda