BRIN Dan FKIP UM Tapsel Gelar Lokakarya Pelestarian Bahasa Batak AngkolaBRIN Dan FKIP UM Tapsel Gelar Lokakarya Pelestarian Bahasa Batak Angkola

P.SIDIMPUAN (Waspada.id) : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UM Tapsel) bekerjasama dengan tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) gelar Lokakarya Dokumentasi Bahasa Batak Angkola.
Dekan FKIP UM Tapsel, Eli Marlina Harahap, S.S., M.Pd, Jumat (3/7/2026) mengatakan loka karya yang digelar selama dua hari (29 sampai 30 Juni 2026) merupakan bagian dari riset pengembangan bahan ajar Bahasa Batak Angkola dalam pendidikan multibahasa berbasis bahasa ibu.
Riset dan kajian ilmu pengembangan bahan ajar yang bertujuan untuk melestarikan Bahasa Batak Angkola yang telah mendapat persetujuan dari Rektor UM Tapsel, Assoc. Prof. Dr. Darliana Sormin, S.E.I, M.A pada tanggal 26 Juni 2026 diikuti dosen dan mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan UM Tapsel.
Rektor UM Tapsel, Assoc. Prof. Dr. Darliana Sormin, S.E.I, M.A, menekankan agar kerjasama antara UM Tapsel dan BRIN dapat terus berlanjut serta dikembangkan melalui kolaborasi pada bidang-bidang lainnya demi peningkatan kualitas pembelajaran dan lulusan.
Sebagai pembicara dalam Lokakarya yang digelar di di Ruang Rapat FKIP UM Tapsel dan dibuka Wakil Rektor III dan Dekan FKIP UM Tapsel ini, panitia menghadirkan Ketua Tim Peneliti dari BRiN, Dr. Risa Mufliharsi, M.Pd serta Satwiko Budiono, M.Hum, dan Taufan Jaya, S.Pd, M.Hum, sebagai pemateri.

Dekan FKIP UM Tapsel, Eli Marlina Harahap, S.S., M.Pd, (kiri) dan Dr. Risa Mufliharsi, M.Pd foto bersama usai tandatangani naskah kerja sama. Waspada.id/Ist
Dekan FKIP UM Tapsel, Eli Marlina Harahap, S.S., M.Pd dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh atas terjalinnya kerja sama antara UM Tapsel dan BRIN.
"Kami mendukung penuh kolaborasi ini sebagai langkah nyata dalam pelestarian bahasa daerah sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam menghasilkan penelitian yang bermanfaat bagi dunia pendidikan dan masyarakat," ucapnya.
Ketua Tim Peneliti BRIN, Dr. Risa Mufliharsi, M.Pd dalam paparannya menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian pengembangan bahan ajar Bahasa Batak Angkola berbasis bahasa ibu bagi siswa sekolah dasar.
Menurutnya, dokumentasi bahasa menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan bahasa daerah sekaligus menyediakan sumber belajar yang berakar pada budaya lokal.
Satwiko Budiono, M.Hum, sebagai pemateri kedua pada hari pertama, menjelaskan tentang pengantar dokumentasi bahasa serta pemanfaatan data hasil dokumentasi. Ia menekankan pentingnya dokumentasi bahasa sebagai upaya pelestarian bahasa daerah sekaligus sumber data bagi penelitian dan pengembangan bahan ajar.
Menjawab pertanyaan peserta tentang bagaimana peneliti memastikan data bahasa tetap valid meskipun terdapat perbedaan dialek di berbagai wilayah Angkola, Satwiko Budiono, M.Hum, menjelaskan bahwa setiap dialek merupakan bagian dari kekayaan bahasa yang perlu didokumentasikan.
"Oleh karena itu, setiap data dilengkapi metadata, seperti identitas penutur, asal daerah, dan situasi penggunaan bahasa, kemudian diverifikasi bersama penutur asli sehingga keakuratan data tetap terjaga," jelasnya.
Pada hari kedua, ungkap Dekan FKIP UM Tapsel, kegiatan difokuskan pada praktik yang dipandu Taufan Jaya, S.Pd, M.Hum. Peserta dibagi ke dalam kelompok yang terdiri dari tiga orang tiap kelompok.Masing-masing kelompok mempraktikkan perekaman data bahasa, pembuatan metadata, serta transkripsi hasil rekaman melalui aplikasi ELAN yang dilaksanakan dalam dua tahap.

Peserta lokakarya Dokumentasi Bahasa Batak Angkola sedang mempraktikkan pengucapan dan terjemahan bahasa Batak Angkola. Waspada.id/Ist
Selain melakukan simulasi wawancara dan mengoperasikan alat perekam, setiap kelompok juga menyimak hasil rekaman, mentranskripsikan, dan menerjemahkan tuturan Bahasa Batak Angkola ke dalam bahasa Indonesia sebelum mempresentasikan hasilnya di hadapan peserta lain.
"Saat membimbing praktik, Taufan Jaya menekankan pentingnya memperoleh data kebahasaan yang alami dan menegaskan bahwa perekaman sebaiknya memuat apa yang dialami oleh penutur dalam sebuah setting kejadian," ujar Dekan FKIP Eli Marlina.
Dalam sesi praktik, ungkapnya, kerja sama antar peserta berlangsung dengan baik dan setiap kelompok saling berbagi tugas sesuai perannya. Kemudian mempresentasikan hasil transkripsi di hadapan peserta lainnya.
"Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung mengenai seluruh tahapan dokumentasi bahasa, mulai dari pengumpulan data hingga pengolahannya menjadi data linguistik yang siap dimanfaatkan untuk penelitian, jelas Eli Marlina.
Mewakili peserta Cindy Azelia dari prodi Pendidikan Bahasa Indonesia menuturkan, lokakarya tersebut memberikan pengalaman baru dalam memahami dokumentasi bahasa secara langsung.
"Kami tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga praktik mulai dari wawancara, perekaman, pencatatan metadata, hingga transkripsi menggunakan aplikasi ELAN," katanya.

Menurutnya, lokakarya tersebut telah menambah wawasan mereka sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya melestarikan Bahasa Batak Angkola melalui pendekatan ilmiah dan teknologi.
Dekan FKIP mengungkapkan bahwa, penelitian tersebut melibatkan lima mahasiswa sebagai pembantu lapangan, terdiri atas tiga mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia (Cindy Azelia, Dinda Hafizah, dan Rodyah Ulfah Siregar) dan dua mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris (Anggina Syahrina Daulay dan Devita Sari Harahap).
"Seluruh kegiatan lapangan dikoordinasikan langsung, Nikmah Sari Hasibuan, M.Pd, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan," ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, lanjut Eli Marlina, tim BRIN berharap hasil dokumentasi bahasa dapat menjadi dasar penyusunan bahan ajar Bahasa Batak Angkola bagi siswa sekolah dasar sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang mampu berkontribusi dalam pelestarian bahasa daerah di tengah perkembangan zaman.(id46)






























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda