Breaking News
Memuat breaking news...

FIB USU Beri Beasiswa Tiga Mahasiswa ASEAN, Ikuti Summer Course 2026

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 26 September 2026 - 4.32 PM WIB
FIB USU Beri Beasiswa Tiga Mahasiswa ASEAN, Ikuti Summer Course 2026
Foto bersama pada saat pembukaan Summer Course 2026 di Gedung Prof. T. Amin Ridwan, Ruang Serbaguna FIB USU. Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU) memberikan beasiswa kepada tiga mahasiswa dari negara ASEAN untuk mengikuti Summer Course 2026 bertajuk “North Sumatra Cultural Heritage: Documentation and Fostering Sustainability”.

Ketiga mahasiswa tersebut berasal dari Filipina, Malaysia, dan Thailand. Mereka adalah Brooke Eunice Montalla dari University of the Philippines Cebu, Sheena Julius dari Universiti Malaya, serta Fasila Chehae dari Amoh Prince of Songkla University.

Ketiganya mendapatkan fasilitas beasiswa berupa tiket perjalanan pulang-pergi dari negara masing-masing ke Medan, akomodasi, biaya pendaftaran, serta biaya perkuliahan selama mengikuti Summer Course 2026.

Kegiatan yang berlangsung selama enam hari, 21–26 September 2026 tersebut menjadi ajang pertukaran pengetahuan dan pengalaman bagi mahasiswa serta akademisi dari sejumlah perguruan tinggi di kawasan ASEAN untuk mengenal lebih dekat kekayaan budaya Sumatera Utara. Rangkaian Summer Course 2026 diawali dengan Welcome Dinner di Hotel Grandhika Setiabudi Medan, Senin (21/9/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Dekan FIB USU, para Wakil Dekan, Ketua Panitia, narasumber, serta para peserta Summer Course. Pembukaan kegiatan kemudian diisi dengan sambutan dan persembahan tari yang memperkenalkan kekayaan seni dan budaya Indonesia kepada para peserta internasional.

Dekan FIB USU, Mhd. Pujiono, S.S., M.Hum., Ph.D., menyampaikan sambutan dalam Welcome Dinner Summer Course 2026 di Hotel Grandhika Setiabudi Medan. Waspada.id/ist

Dekan FIB USU, Mhd. Pujiono, S.S., M.Hum., Ph.D., menyampaikan apresiasi kepada seluruh pembicara, peserta, panitia, dan pihak-pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan.

Menurutnya, warisan budaya tidak hanya berkaitan dengan masa lalu, tetapi juga memiliki arti penting bagi masa depan. “Warisan budaya kita bukan hanya bagian dari masa lalu, tetapi juga bagian penting dari masa depan kita,” ujar Mhd. Pujiono.

Ia berharap para peserta tidak sekadar mengikuti perkuliahan, tetapi juga aktif berbagi pengalaman dan memperluas pemahaman tentang kekayaan warisan budaya Sumatera Utara.

“Kami berharap seluruh peserta dapat memperoleh pengetahuan baru, berbagi pengalaman, dan mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang kekayaan warisan budaya Sumatera Utara,” katanya.

Ketua Panitia Summer Course 2026, Dr. Tasnim Lubis, M.Hum., mengatakan bahwa kegiatan tersebut dirancang tidak hanya sebagai forum akademik, tetapi juga sebagai ruang bagi peserta untuk mengenal perkembangan budaya tradisional Melayu dan Batak. Peserta juga dilibatkan dalam proses dokumentasi budaya melalui berbagai karya. Salah satu hasil yang diharapkan adalah video pendek tentang Sumatera Utara.

“Sebagai bagian dari perkembangan ini, para peserta akan mempersembahkan video pendek tentang Sumatera Utara,” ujar Tasnim.

Sementara itu, Direktur Direktorat Inovasi, Kawasan Sains Teknologi, dan Pembangunan Berkelanjutan USU, Prof. Dr. Ir. Noverita Sprinse Vinolina, M.P., menegaskan luasnya kekayaan budaya yang dimiliki Sumatera Utara.

Menurutnya, kekayaan tersebut tidak hanya berupa kesenian, tetapi juga mencakup tradisi, pengetahuan, bahasa, arsitektur, kuliner, teknologi, ritual, dan praktik sosial yang diwariskan lintas generasi.

“Sumatera Utara bukan hanya sebuah wilayah geografis, tetapi juga memiliki kekayaan peradaban, tradisi, pengetahuan, seni, bahasa, arsitektur, kuliner, teknologi tinggi, ritual, dan praktik sosial,” ungkapnya.

Noverita menilai dokumentasi sebagai bagian penting dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya. Sebab, sejumlah pengetahuan dan kesenian tradisional berpotensi hilang apabila tidak didokumentasikan dan diperkenalkan kepada generasi muda.

“Dokumentasi bukan hanya tentang mengingat masa lalu. Ini untuk mengembalikan ingatan, pengetahuan, dan menciptakan kemungkinan untuk masa depan,” tambahnya.

Suasana perkuliahan Summer Course 2026 di Gedung Prof. T. Amin Ridwan, Ruang serbaguna FIB USU. Waspada.id/Ist

Selama kegiatan, peserta mengikuti sembilan sesi perkuliahan dengan tema yang beragam, mulai dari budaya dan masyarakat Sumatera Utara, dokumentasi warisan budaya, manuskrip Jawi, digitalisasi, literasi visual, hingga tradisi lisan dan kearifan lokal masyarakat Batak Toba.

Pada sesi pertama, Prof. Dr. Drs. Budi Agustono, M.S. dari USU menyampaikan materi “North Sumatra: Culture, People and Heritage” dengan moderator Muhammad Rasyidin.

Sementara itu, Prof. Dr. Stefanie Shamila Pillai dari Universiti Malaya membawakan materi “Beyond Records: Sustainable Documentation of Cultural Heritage”.

Dari Thailand, Dr. Uniansasmita Samoh dari Prince of Songkla University menyampaikan materi mengenai manuskrip Jawi dan pelestarian warisan budaya Melayu di Thailand Selatan.

Materi lainnya disampaikan Dr. Sawirman, M.Hum. dari Universitas Andalas, Lusia Marliana Nurani, Ph.D. dari Institut Teknologi Bandung, Prof. Drs. Syaifuddin, M.A. dari USU, Ph.D., Prof. Aurelio P. Vilbar, Ph.D. dari University of the Philippines Cebu, Dr. Tomson Sibarani, S.S., M.Hum dari USU, serta Ahmad Arief Tarigan, S.Sn., M.Si, dari USU.

Para peserta tidak hanya mendapatkan materi dari ruang kuliah. Pada 24 September 2026, mereka mengikuti Field Trip and Documentation Practice ke Parapat dan Pulau Samosir. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat secara langsung kehidupan masyarakat serta berbagai bentuk warisan budaya di kawasan Danau Toba.

Rangkaian kegiatan berlanjut pada 25 September 2026 melalui Course 9: “Documenting Ethnomusicology through Ethnographic Film: The Case of Gordang Tano, Bunyi dari Bumi” yang disampaikan .

Setelah sesi perkuliahan, peserta mengikuti praktik dokumentasi melalui pertunjukan seni, di antaranya Mak Inang Pulau Kampai Dance dan Batak Toba Dance yang ditampilkan oleh Performing Arts Division.

Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran peserta dalam memahami bagaimana seni dan budaya dapat direkam, didokumentasikan, dan diperkenalkan melalui berbagai media.

Setelah berlangsung selama enam hari, Summer Course 2026 resmi ditutup pada 26 September 2026.

Penutupan diisi dengan pameran proyek peserta sekaligus pengumuman karya terbaik yang dihasilkan selama kegiatan. Dua mahasiswa penerima beasiswa, Brooke Eunice Montalla dari University of the Philippines Cebu dan Sheena Julius dari Universiti Malaya, diumumkan sebagai peraih penghargaan video dokumenter pendek terbaik. Sementara itu, penghargaan peserta terbaik diraih oleh Amirah Syifa, mahasiswa Universitas Sumatera Utara.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pidato penutup yang disampaikan oleh Wakil Dekan II FIB USU, Andi Pratama Lubis, S.S., M.Hum., pada Sabtu (25/9/2026).

Pemberian beasiswa kepada mahasiswa dari tiga negara ASEAN dalam Summer Course 2026 menjadi salah satu bentuk keterbukaan FIB USU dalam memperkuat kerja sama akademik lintas negara.

Melalui pertemuan mahasiswa, akademisi, dan praktisi budaya dari berbagai negara, kegiatan tersebut sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan tentang bagaimana warisan budaya Sumatera Utara dapat terus didokumentasikan, diperkenalkan, dan diwariskan kepada generasi mendatang. (id08)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement