Breaking News
Memuat breaking news...

Harga BBM Melonjak, Eropa Gelontorkan Subsidi hingga Pangkas Pajak

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 26 September 2026 - 8.42 AM WIB
Harga BBM Melonjak, Eropa Gelontorkan Subsidi hingga Pangkas Pajak
Foto AFP
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat perang di Timur Tengah dan Ukraina mulai memaksa sejumlah negara Eropa mengambil langkah luar biasa. Pemerintah di berbagai negara menggelontorkan subsidi, memangkas pajak bahan bakar hingga menyiapkan pembatasan harga untuk menahan tekanan terhadap masyarakat dan dunia usaha.

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) mencatat, tujuh dari 10 negara yang paling aktif mengambil langkah untuk meredam dampak ekonomi krisis energi berasal dari Uni Eropa (UE).

Kondisi tersebut menunjukkan betapa besar ketergantungan Eropa terhadap energi impor ketika konflik geopolitik mendorong harga minyak dan bahan bakar ke level tinggi.

"Ironi kejam bahwa Amerika Serikat (AS) justru paling tidak rentan terhadap krisis buatannya sendiri, sementara ekonomi Eropa kembali menanggung dampaknya," kata Analis Transport & Environment Antony Froggatt, dikutip dari AP News, Jumat (25/9/2026).

Harga BBM Tembus Rp214 Ribu per Galon

Sejumlah negara Eropa mulai mengeluarkan berbagai kebijakan untuk meredam dampak kenaikan harga energi.

Lithuania, misalnya, memangkas separuh harga tiket kereta. Yunani menaikkan pajak perjudian untuk membiayai bantuan publik. Sementara Italia menunda rencana penutupan sejumlah pembangkit listrik tenaga batu bara serta memangkas persyaratan administrasi untuk proyek minyak dan gas.

Belanda menambah anggaran program penghematan energi gratis bagi rumah tangga. Polandia bahkan mengusulkan pajak lebih tinggi terhadap keuntungan besar yang diperoleh sejumlah produsen dan penjual bahan bakar.

Tekanan terhadap konsumen semakin terasa karena harga bahan bakar di sejumlah negara Eropa telah menembus US$12 per galon, atau sekitar Rp214.806 dengan asumsi kurs Rp17.900 per dolar AS.

Kenaikan tersebut membuat masyarakat Eropa harus mengeluarkan tambahan sekitar 203 juta euro per hari, atau sekitar Rp4,1 triliun, hanya untuk membeli solar.

Ketergantungan terhadap energi impor menjadi salah satu persoalan utama. UE mengimpor hampir seluruh minyak yang digunakan serta sekitar 85% kebutuhan gas alamnya.

Prancis Gelontorkan Rp9,1 Triliun

Prancis menjadi salah satu negara yang memperluas bantuan untuk meredam dampak lonjakan harga BBM.

Pemerintah Prancis mengumumkan paket bantuan senilai 450 juta euro, atau sekitar Rp9,1 triliun. Melalui kebijakan tersebut, sekitar 5,5 juta pekerja berhak menerima pembayaran 100 euro, atau sekitar Rp2 juta, untuk membantu menutup biaya bahan bakar hingga akhir tahun.

Pemerintah juga memperpanjang subsidi BBM untuk petani, nelayan dan perusahaan konstruksi.

Selain itu, pemerintah mempercepat penyaluran voucher energi senilai 48-277 euro, atau sekitar Rp979 ribu hingga Rp5,6 juta, bagi sekitar 5,8 juta keluarga.

Presiden Prancis Emmanuel Macron juga meminta Komisi Eropa mempertimbangkan pelonggaran aturan kualitas bahan bakar, termasuk menaikkan batas kandungan biodiesel dalam solar standar dari 7% menjadi 10%.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menilai tekanan harga energi kini semakin terasa baik bagi rumah tangga maupun perusahaan.

"Tekanan dari harga energi dan biaya pinjaman yang lebih tinggi sangat terasa bagi masyarakat dan bisnis. Kami perlu memperkuat energi bersih buatan sendiri, baik energi terbarukan dan nuklir, maupun biometana dan lainnya," kata von der Leyen dalam pidato tahunan State of the European Union pekan lalu.

Jerman Pangkas Pajak BBM, Harga Turun Rp3.468 per Liter

Jerman juga kembali menggunakan instrumen pajak untuk menekan harga BBM.

Pemerintah akan memperpanjang pemotongan pajak bahan bakar yang sebelumnya berakhir pada Juni. Kebijakan tersebut mulai berlaku kembali pada 1 Oktober hingga akhir tahun.

Pemangkasan pajak itu diperkirakan mengurangi harga bensin dan solar sekitar 17 sen euro, atau sekitar Rp3.468 per liter, dengan total biaya kebijakan mencapai 2,5 miliar euro, atau sekitar Rp50,9 triliun.

Jerman juga berencana membahas kemungkinan penerapan batas atas harga BBM bersama industri minyak mulai 1 Januari. Mekanisme serupa sebelumnya telah diterapkan di Belgia dan Luksemburg.

Spanyol Siapkan Diskon BBM Otomatis

Spanyol mengambil langkah serupa dengan memperpanjang pemangkasan pajak bensin dan solar sebesar 5 sen euro, atau sekitar Rp1.020 per liter.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari paket bantuan senilai 5 miliar euro, sekitar Rp101,9 triliun, yang diperkenalkan pada Maret.

Dalam skema tersebut, potongan harga dapat meningkat secara otomatis menjadi 20 sen euro, atau sekitar Rp4.080 per liter, apabila inflasi harga bahan bakar mencapai lebih dari 15% secara tahunan.

Negara-negara UE juga memanfaatkan cadangan strategis sebagai bagian dari kesepakatan dengan International Energy Agency (IEA). Sebanyak 400 juta barel minyak dari stok darurat disiapkan untuk membantu menjaga pasokan pasar.

Eropa Ingin Kurangi Ketergantungan Energi Impor

Krisis energi tersebut kembali mendorong Eropa mempercepat transisi menuju sumber energi domestik.

Von der Leyen menyebut peningkatan elektrifikasi dapat memangkas tagihan energi fosil impor UE hingga 260 miliar euro, atau sekitar Rp5,3 kuadriliun, per tahun pada 2040.

Namun, Eropa juga menghadapi risiko dari kebijakan energi Amerika Serikat.

Dukungan Presiden AS Donald Trump terhadap rencana pelarangan ekspor solar untuk menekan harga domestik AS menjadi perhatian Brussels. Uni Eropa kini melobi Washington agar rencana tersebut dibatalkan karena berpotensi memengaruhi pasokan energi global.

"Kami meyakini ini ide yang buruk. Kerja sama UE-AS di bidang energi kuat, stabil, dan saling menguntungkan," kata juru bicara Komisi Eropa, Olof Gill. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement