Breaking News
Memuat breaking news...

Harga Berlian Anjlok 51%, Kilau Lab-Grown Makin Mengancam

Redaksi
Redaksi
Minggu, 27 September 2026 - 6.51 AM WIB
Harga Berlian Anjlok 51%, Kilau Lab-Grown Makin Mengancam
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Kilau berlian alam mulai meredup di tengah perubahan perilaku konsumen dan semakin kuatnya kehadiran berlian hasil laboratorium. Dalam lima tahun terakhir, harga berlian alam bahkan telah anjlok lebih dari separuh.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (26/9/2026), data platform perdagangan berlian Rapaport Group menunjukkan harga rata-rata berlian alam 1 karat kini berada di US$3.898 atau sekitar Rp69,8 juta dengan asumsi kurs Rp17.914 per dolar AS.

Harga tersebut turun 51% dibandingkan rata-rata US$8.007 pada 2021.

Tekanan terhadap harga berlian juga tercermin dari Diamond Standard Index yang melacak harga berlian kelas investasi. Indeks tersebut menyentuh level terendah sepanjang masa pada awal Agustus 2026, yakni 2.490. Pada pekan ini, indeks berada sedikit di atas level 2.500.

Pasokan Melimpah, Lab-Grown Jadi Penantang

Penurunan harga berlian alam tidak lepas dari meningkatnya pasokan dalam beberapa tahun terakhir. Industri berlian menghadapi kelebihan persediaan setelah produksi berlebih selama pandemi Covid-19.

Kondisi tersebut kemudian mendapat tekanan tambahan dari perubahan preferensi konsumen yang mulai melirik berlian hasil laboratorium atau lab-grown diamonds.

“Ada banyak pesimisme mengenai berlian alam,” kata CEO Diamond Standard Cormac Kinney kepada CNBC.

Menurut Kinney, industri berlian menghadapi kelebihan persediaan yang sangat besar pada 2023 dan 2024 setelah produksi berlebih selama pandemi Covid-19. Kondisi itu diperparah oleh penurunan penjualan seiring meningkatnya penggunaan berlian lab-grown.

Berlian lab-grown memiliki sifat kimia dan fisik yang sama dengan berlian alam. Batu tersebut dibuat melalui proses pemberian panas dan tekanan pada benih karbon atau menggunakan gas yang mengandung karbon dalam ruang vakum.

Meski diproduksi di atas permukaan tanah, berlian lab-grown memiliki tampilan dan karakteristik fisik yang serupa dengan berlian yang terbentuk secara alami di dalam bumi.

Perbedaan paling mencolok justru berada pada harganya.

Berdasarkan pencarian CNBC di marketplace Brilliant Earth, berlian lab-grown hampir tidak berwarna dengan tingkat kejernihan sangat tinggi dan potongan sangat baik dapat dibanderol sekitar US$450.

Sementara itu, berlian alam dengan spesifikasi yang sama dibanderol sekitar US$2.800-US$3.200.

Brilliant Earth menyebut berlian lab-grown memiliki harga lebih rendah dibandingkan berlian alam pada setiap ukuran karat. Harganya bahkan bisa mencapai 90% lebih murah, tergantung ukuran, potongan, dan warna batu.

Harga yang jauh lebih murah membuat berlian buatan manusia semakin menarik bagi konsumen, baik untuk cincin pertunangan maupun perhiasan fesyen.

Berlian Lab-Grown Makin Populer

Perubahan preferensi konsumen tersebut tercermin dalam penjualan cincin pertunangan.

Menurut The Knot 2026 Real Weddings Study, cincin pertunangan dengan berlian lab-grown sebagai batu utama menyumbang 61% dari seluruh penjualan cincin pertunangan pada 2025.

Angka tersebut melonjak 239% dibandingkan 2020.

Pasar berlian lab-grown pun diproyeksikan terus berkembang. Fortune Business Insights memperkirakan nilai pasar tersebut mencapai hampir US$92 miliar pada 2034, naik lebih dari 200% dibandingkan US$29,46 miliar pada 2025.

“Berlian lab-grown membuka peluang bagi orang untuk membelanjakan sesuai keinginan dan mendapatkan apa yang mereka inginkan,” kata Cory Schifter, pemilik Casale Jewelers di New York dan New Jersey, kepada CNBC.

Industri Berlian Alam Mulai Pangkas Pasokan

Di tengah tekanan harga, industri berlian alam mulai mengambil langkah untuk mengurangi pasokan dengan harapan dapat menyeimbangkan kembali pasar.

De Beers Group pada Juli 2026 mengumumkan akan menghentikan produksi di tambang andalannya, Venetia, di Afrika Selatan selama lebih dari dua tahun.

Penghentian produksi tersebut diperkirakan mengurangi pasokan berlian dan berpotensi memberikan tekanan kenaikan terhadap harga.

Sedikitnya dua tambang berlian lainnya juga mengumumkan penghentian operasi secara permanen pada 2026.

“Yang kita lihat sekarang di pasar grosir adalah kenaikan harga untuk kualitas berlian tertentu, dan menurut saya ini merupakan awal dari pemulihan,” ujar Kinney.

Namun, kehadiran berlian lab-grown tetap menjadi tren yang sulit diabaikan.

Analis Raymond James Rick Patel melihat peluang pada perusahaan perhiasan seperti Signet Jewelers yang memiliki eksposur terhadap pertumbuhan berlian lab-grown.

Berlian Bukan Investasi yang Mudah Dicairkan

Di tengah perubahan pasar tersebut, analis dan pelaku industri mengingatkan bahwa berlian bukan instrumen investasi yang mudah.

Berbeda dengan emas yang memiliki pasar lebih terstandardisasi, tidak terdapat pasar spot berlian yang terstandardisasi. Setiap berlian memiliki karakteristik berbeda, mulai dari ukuran, warna, kejernihan hingga potongannya.

Likuiditas berlian juga relatif rendah. Berdasarkan laporan CaratX, sebuah berlian dapat berada di pasar sekunder selama lebih dari satu tahun sebelum akhirnya terjual.

“Anda sebaiknya tidak membeli berlian dengan berpikir bahwa ada aspek investasi finansial di dalamnya,” kata Schifter. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement