Breaking News
Memuat breaking news...

Harga Cabai Tembus Rp100 Ribu, Bebani Usaha Kuliner dan Ibu Rumah Tangga

Redaksi
Redaksi
Kamis, 1 Oktober 2026 - 4.16 PM WIB
Harga Cabai Tembus Rp100 Ribu, Bebani Usaha Kuliner dan Ibu Rumah Tangga
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Harga cabai di sejumlah pasar tradisional Sumatera Utara (Sumut) kembali menunjukkan tren kenaikan. Bahkan, harga cabai rawit di sejumlah wilayah sudah menembus Rp100 ribu per kilogram, sementara cabai merah yang saat ini berada di kisaran Rp90 ribu hingga Rp95 ribu per kilogram berpeluang ikut menyentuh level yang sama.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, kenaikan harga cabai terjadi di tengah terbatasnya pasokan dan tingginya kebutuhan masyarakat. Kondisi tersebut membuat harga komoditas bumbu dapur ini semakin sulit ditekan.

Dari hasil pemantauan di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Deli Serdang, seperti Pasar Tanjung Morawa, Delimas dan Bakaran Batu, harga cabai merah berada pada rentang Rp80 ribu hingga Rp85 ribu per kilogram. Sementara cabai rawit dijual sekitar Rp90 ribu hingga Rp95 ribu per kilogram.

Kenaikan juga terjadi pada jenis cabai lainnya. Harga cabai hijau berada di kisaran Rp60 ribu per kilogram, sedangkan cabai caplak mencapai sekitar Rp96 ribu per kilogram.

Menurut Gunawan, kenaikan harga cabai merah sebelumnya ikut mendorong perubahan pola permintaan konsumen. Sebagian konsumen kemudian beralih ke jenis cabai lainnya sehingga permintaan terhadap komoditas tersebut meningkat.

"Harga cabai merah pada perdagangan hari ini masih bertahan mahal dengan kecenderungan naik di sejumlah daerah," ujar Gunawan, Kamis (1/10).

Selain faktor permintaan, kondisi cuaca juga menjadi persoalan yang memengaruhi produksi dan distribusi cabai.

"Curah hujan yang sangat tinggi juga turut memicu gangguan produksi maupun distribusi yang turut mendorong kenaikan harga cabai," sebutnya.

Cabai Rawit Tembus Rp100 Ribu

Tekanan harga bahkan lebih tinggi terjadi di Kabupaten Langkat. Cabai rawit dilaporkan telah diecer hingga Rp100 ribu per kilogram.

Sementara itu, cabai merah yang saat ini berada di kisaran Rp90 ribu hingga Rp95 ribu per kilogram berpotensi dibeli konsumen dengan harga mendekati Rp100 ribu per kilogram, tergantung lokasi dan kondisi pasokan.

Berdasarkan pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) di Kota Medan, harga cabai merah tercatat sekitar Rp84 ribu per kilogram di Pasar Brayan. Sementara harga cabai rawit berada di kisaran Rp82 ribu per kilogram di Pasar Petisah.

Gunawan menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan cabai bukan hanya terkait tingginya harga di tingkat pedagang, tetapi juga menyangkut kesinambungan pasokan ke depan.

"Ada banyak faktor fundamental yang membuat pasokan cabai alami penurunan sehingga menyulut kenaikan harga yang signifikan. Dan ketidakpastian terkait kesinambungan pasokan kedepan masih menghantui konsumen saat ini," katanya.

Menurutnya, kondisi cuaca yang berbeda antara Sumut dengan sejumlah wilayah lain turut membuat proyeksi harga cabai menjadi semakin sulit. Sejumlah wilayah produksi cabai di Sumut telah melewati masa panen, sementara permintaan dari luar Sumut masih relatif konsisten.

"Faktor cuaca yang timpang antara Sumut dan wilayah lain yang terkena musim kering (el nino) membuat proyeksi harga kedepan menjadi sulit diukur," katanya.

Usaha Kuliner Mulai Tertekan

Lonjakan harga cabai tidak hanya berdampak kepada rumah tangga. Pelaku usaha kuliner yang menjadikan sambal sebagai bagian penting dari menu juga ikut menghadapi kenaikan biaya produksi.

Usaha seperti ayam penyet menjadi salah satu sektor yang cukup sensitif terhadap kenaikan harga cabai. Sebelumnya, pelaku usaha kuliner juga menghadapi harga daging ayam yang masih relatif tinggi.

"Daya beli masyarakat pastinya tertekan saat ini. Bagi pelaku usaha kuliner seperti ayam penyet sangat terpukul dengan kenaikan harga tersebut," ujar Gunawan.

Kondisi tersebut membuat pelaku usaha menghadapi pilihan sulit. Di satu sisi, menaikkan harga menu berisiko menekan permintaan konsumen. Namun di sisi lain, mempertahankan harga jual ketika biaya bahan baku meningkat dapat mempersempit margin usaha.

"Selain mereka terbebani dengan harga daging ayam yang belakangan bertahan mahal, saat ini mereka harus menghadapi kenaikan harga cabai. Dan dipastikan kenaikan harga cabai ini akan memukul usaha kuiliner yang sudah memiliki nama besar tanpa terkecuali," ujarnya.

Cabai Tebar Ancaman Inflasi Oktober

Gunawan menilai kenaikan harga cabai pada awal Oktober perlu menjadi perhatian karena komoditas tersebut merupakan salah satu bahan pangan yang banyak digunakan masyarakat.

"Di awal bulan Oktober ini, cabai telah menebar ancaman inflasi. Sebagai salah satu komoditas yang dominan dalam perbumbuan dapur," katanya.

Bagi rumah tangga, kenaikan harga cabai berpotensi mendorong perubahan pola konsumsi. Masyarakat dapat mengurangi pembelian atau memilih menu dengan penggunaan cabai yang lebih sedikit untuk menyesuaikan pengeluaran.

"Kenaikan harga akan memaksa para ibu rumah tangga untuk merubah menu yang lebih akomodatif dengan isi kantong," sebutnya.

Sementara bagi pelaku usaha kuliner, penyesuaian dapat dilakukan melalui pengurangan porsi sambal maupun strategi harga.

"Sementara bagi pelaku usaha kuliner baik kecil maupun besar, berpeluang mengurangi porsi sambal dibandingakn dengan menaikkan harganya," sambungnya.

Dengan kondisi pasokan yang masih dipengaruhi faktor cuaca dan sejumlah sentra produksi yang telah melewati masa panen, perkembangan harga cabai akan menjadi salah satu indikator penting yang perlu dicermati pada awal Oktober, terutama karena dampaknya langsung terasa pada biaya rumah tangga maupun biaya produksi sektor kuliner. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement