Breaking News
Memuat breaking news...

Harga Emas Melejit, Dolar AS dan Yield Treasury Melemah

Redaksi
Redaksi
Rabu, 7 Oktober 2026 - 7.39 AM WIB
Harga Emas Melejit, Dolar AS dan Yield Treasury Melemah
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Harga emas dunia kembali menguat setelah tekanan dari dolar Amerika Serikat (AS) dan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury mulai mereda. Investor juga kembali memburu emas sebagai aset safe haven di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi pasar obligasi global.

Kenaikan harga emas terjadi pada perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026 atau Rabu pagi waktu Jakarta. Pergerakan tersebut turut dipengaruhi oleh sikap investor yang kini menanti risalah rapat Federal Reserve (The Fed) pada September untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga AS selanjutnya.

Mengutip CNBC, Rabu (7/10/2026), harga emas di pasar spot naik 0,7% menjadi US$4.168,33 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember ditutup menguat 0,7% ke level US$4.187,10 per ons.

"Kami melihat adanya permintaan aset safe-haven (untuk emas) akibat gejolak di pasar obligasi Prancis dan kekhawatiran yang meningkat mengenai pasar obligasi pemerintah AS,” ujar Analis American Gold Exchange, Jim Wyckoff.

Yield Treasury dan Dolar AS Mulai Tertekan

Penguatan emas tidak terlepas dari pergerakan dua indikator penting pasar global, yakni yield Treasury dan dolar AS.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sedikit turun setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam lebih dari dua dekade pada Senin pekan ini. Di saat bersamaan, dolar AS melemah dari level tertinggi dalam satu tahun.

Pelemahan dolar membuat emas yang dihargai dalam dolar AS menjadi relatif lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lain. Kondisi tersebut kemudian ikut mendorong permintaan terhadap logam mulia.

Di sisi lain, kekhawatiran investor terhadap peningkatan utang pemerintah dan pelebaran defisit anggaran di sejumlah negara zona euro masih menjadi perhatian. Prancis menjadi salah satu sorotan utama karena tekanan tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah.

Situasi di pasar obligasi global kemudian meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai ketika investor menghadapi ketidakpastian ekonomi dan keuangan.

Menunggu Sinyal Baru dari The Fed

Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) September yang dijadwalkan dirilis pada Rabu.

Risalah tersebut akan menjadi salah satu acuan investor untuk membaca arah kebijakan moneter The Fed, termasuk peluang perubahan suku bunga hingga akhir 2026.

Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober juga mulai berkurang setelah data pertumbuhan lapangan kerja September tercatat lebih rendah dari perkiraan.

Para pedagang kini melihat peluang kenaikan suku bunga The Fed bulan ini hanya sebesar 22%. Namun, pasar masih memperhitungkan probabilitas sebesar 84% untuk kenaikan suku bunga pada Desember, menurut data FedWatch Tool dari CME.

Jika ekspektasi penurunan suku bunga atau kebijakan moneter yang lebih longgar semakin menguat, emas berpotensi mendapatkan tambahan katalis. Pasalnya, emas tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi, sehingga cenderung lebih menarik ketika tingkat suku bunga dan yield mengalami tekanan.

Aksi Beli ETF Jadi Penopang

Di tengah pergerakan pasar yang masih penuh ketidakpastian, aksi beli melalui exchange-traded fund (ETF) turut menjadi penopang harga emas.

Emas memang cenderung kehilangan daya tarik dibandingkan aset yang memberikan imbal hasil, seperti obligasi, ketika suku bunga berada pada level tinggi. Namun, meningkatnya permintaan safe haven dan arus pembelian ETF membuat prospek emas tetap kuat.

Sementara itu, harga minyak turun karena ekspor minyak mentah Timur Tengah masih kuat. Pelepasan cadangan darurat oleh negara-negara G7 juga turut meredakan kekhawatiran investor terhadap pasokan energi global.

Meski demikian, prospek emas dalam jangka menengah hingga panjang masih dinilai positif.

"Terlepas dari hambatan jangka pendek, aksi beli ETF yang terus berlanjut serta permintaan dari investor diskresioner tetap memberikan dukungan bagi emas. Kami mempertahankan pandangan bahwa logam mulia ini akan bergerak melampaui level US$ 5.000 per ons pada tahun 2027,” ungkap para analis TD Securities dalam sebuah catatan. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement