Harga Emas Mendadak Anjlok, Yield Treasury Tertinggi Sejak 2002 Jadi Tekanan

JAKARTA (Waspada.id): Harga emas mendadak berbalik turun setelah sempat melonjak lebih dari 1% pada awal perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026 waktu Amerika Serikat atau Sabtu pagi waktu Jakarta.
Penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) menjadi tekanan bagi emas yang merupakan aset tanpa imbal hasil.
Mengutip CNBC, Sabtu (3/10/2026), harga emas di pasar spot turun 0,8% menjadi US$4.145,68 per ons. Sementara harga emas berjangka AS melemah 0,7% menjadi US$4.173,50 per ons.
Meski dolar AS sempat melemah tipis pada perdagangan terakhir, mata uang tersebut masih berada di jalur penguatan secara mingguan. Pada saat yang sama, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun dan 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2002 pada Kamis.
Data Tenaga Kerja Sempat Angkat Harga Emas
Emas sempat melonjak lebih dari 1% pada awal sesi perdagangan setelah data menunjukkan pertumbuhan tenaga kerja AS pada September melambat lebih tajam dari perkiraan.
Laporan Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan penggajian non-pertanian (non-farm payrolls) hanya bertambah 29.000 pada bulan lalu.
Angka Agustus juga direvisi turun menjadi 133.000, dari sebelumnya dilaporkan tumbuh 162.000.
Sementara itu, ekonom dalam survei Reuters sebelumnya memperkirakan penambahan tenaga kerja September mencapai 90.000.
Namun, sentimen tersebut tidak bertahan lama. Harga emas kemudian berbalik turun seiring perhatian pasar kembali tertuju pada kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) dan tingginya imbal hasil obligasi AS.
"Para investor emas tampaknya belum ingin terburu-buru mengambil risiko, menyadari bahwa Bank Sentral AS (The Fed) masih cenderung mempertahankan sikap ketat (hawkish)," kata analis pasar utama di Bybit, Han Tan.
"Dalam beberapa bulan ke depan, arah pergerakan harga emas akan sangat bergantung pada sejauh mana The Fed bersedia menoleransi potensi pelemahan pasar tenaga kerja, dengan fokus utama tetap pada upaya meredam inflasi AS."
Emas Tertekan Prospek Suku Bunga AS
Pergerakan emas juga dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga AS.
Data inflasi terbaru yang lebih rendah dari perkiraan, ditambah penolakan dari setidaknya dua pejabat tinggi The Fed terhadap kenaikan suku bunga pada Oktober, memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada akhir bulan ini.
Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar kini melihat peluang kenaikan suku bunga AS pada Oktober hanya sekitar 22%, turun tajam dari sekitar 70% pada awal pekan.
Meski demikian, tingginya yield Treasury tetap menjadi tantangan bagi emas. Kenaikan imbal hasil obligasi meningkatkan daya tarik aset berbunga dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Harga Emas Turun Lebih dari 20%
Harga emas disebut telah merosot lebih dari 20% sejak perang AS-Israel dengan Iran dimulai pada akhir Februari.
Penurunan tersebut didorong perkiraan bahwa tekanan inflasi akibat konflik dapat membuat suku bunga AS bertahan pada level tinggi dalam periode yang lebih panjang.
Analis Marex Edward Meir memperingatkan pergerakan emas masih menghadapi ketidakpastian teknikal.
"Prospek teknis pada grafik masih terlihat cukup buram, dan harga emas bisa merosot lebih dalam jika siklus kenaikan suku bunga kembali berlanjut," ujar analis di Marex, Edward Meir.
Logam Mulia Lain Ikut Melemah
Tekanan juga terjadi pada sejumlah logam mulia lainnya.
Harga perak spot turun 1,1% menjadi US$60,17 per ons. Platina melemah 1,9% menjadi US$1.692 per ons, sedangkan paladium turun 0,4% menjadi US$1.166,25 per ons.
Ketiga komoditas tersebut juga berpotensi mencatatkan penurunan secara mingguan. (Lip6)

















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda