Harga Emas Terjun di Bawah US$4.300, Pasar Mulai Waspadai Bunga The Fed

JAKARTA (Waspada.id): Harga emas dunia kembali mendapat tekanan hebat. Setelah perdagangan Amerika Serikat (AS) ditutup pada Rabu, harga emas spot merosot 1,63% hingga berada di sekitar US$4.286 per ons.
Penurunan emas terjadi setelah data ekonomi AS menunjukkan aktivitas bisnis yang jauh lebih kuat dari perkiraan. Kondisi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS sekaligus memperkuat dolar AS, dua faktor yang biasanya menjadi tekanan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Mengutip Kitco, Kamis (24/9/2026), harga emas spot berada di sekitar US$4.286 per ons, turun 1,63%. Sementara itu, harga perak spot juga tertekan cukup dalam, yakni anjlok 3,88% ke sekitar US$64,33 per ons.
Perhatian investor tertuju pada data Purchasing Managers' Index (PMI) AS periode September. PMI komposit melonjak menjadi 58,4 dari 56,0 pada Agustus, sekaligus menjadi level tertinggi sejak Juli 2021.
Penguatan terjadi pada dua sektor utama. PMI manufaktur meningkat menjadi 57,0 dari 53,9, sedangkan PMI jasa naik menjadi 58,7 dari 56,5.
Tekanan inflasi juga terlihat dari kenaikan biaya input. Indikator tersebut meningkat menjadi 66,4 dari 59,9 dan menjadi level tertinggi sejak Oktober 2022.
Rangkaian data tersebut membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) yang lebih ketat.
Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober meningkat menjadi sekitar 66% hingga 70,9%, dibandingkan sekitar 53% pada awal perdagangan.
Imbal Hasil Treasury Tembus Level Tertinggi Sejak 2007
Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi langsung tercermin pada pasar obligasi AS. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun melonjak hingga 5,106%, menjadi level tertinggi sejak 2007.
Sementara itu, imbal hasil Treasury tenor dua tahun juga mendekati 4,90%.
Kenaikan imbal hasil obligasi membuat aset yang memberikan imbal hasil menjadi relatif lebih menarik dibandingkan emas. Pada saat yang sama, dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama seperti euro, pound sterling, yen, dan dolar Kanada.
Penguatan dolar tersebut turut memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas.
Bursa AS Ikut Tertekan
Tekanan di pasar juga terlihat pada bursa saham AS. Indeks S&P 500 turun 58,61 poin atau 0,8% menjadi 7.706,03.
Dow Jones Industrial Average terkoreksi 352,10 poin atau 0,7% ke 51.511,59. Nasdaq Composite turun 308,24 poin atau 1,1% menjadi 26.936,04.
Sementara itu, Russell 2000 merosot lebih dalam, yakni 51,26 poin atau 1,8% menjadi 2.838,66.
Pergerakan harga minyak juga menjadi perhatian pasar emas. Harga minyak mentah Brent kembali menembus US$103 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$92,60 per barel.
Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan kembali kekhawatiran terhadap inflasi. Jika tekanan inflasi meningkat, pasar dapat memperhitungkan kebijakan suku bunga yang lebih tinggi dalam waktu lebih lama.
Situasi tersebut menempatkan emas dalam posisi yang cukup kompleks. Di satu sisi, ketegangan geopolitik dapat memberikan dukungan terhadap permintaan aset lindung nilai. Namun di sisi lain, kenaikan imbal hasil obligasi dan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi menjadi beban bagi harga emas.
Pasar Menanti Data Ekonomi AS
Pelaku pasar kini menunggu sejumlah indikator ekonomi AS berikutnya untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan The Fed.
Data yang menjadi perhatian antara lain klaim pengangguran mingguan AS pada Kamis, kemudian data pesanan barang tahan lama dan sentimen konsumen pada Jumat.
Rangkaian data tersebut akan menjadi pertimbangan tambahan bagi pasar dalam memperkirakan arah suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober.
Secara teknikal, emas masih memiliki peluang untuk menguji kembali area resistance US$4.369 hingga US$4.400 per ons.
Jika mampu menembus area tersebut, target berikutnya berada di US$4.511 dan US$4.530.
Sebaliknya, tekanan jual berpotensi semakin kuat apabila harga emas menembus US$4.270. Dalam skenario tersebut, harga berpeluang bergerak menuju US$4.235 dan area US$4.160-US$4.180.
Untuk perak, area resistance berada di sekitar US$65,463 dan US$66,505. Sementara itu, support berikutnya berada di US$64,50, kemudian rata-rata pergerakan 50 hari sekitar US$63,43 serta area US$61-US$62.
Pergerakan emas selanjutnya akan sangat bergantung pada kombinasi data ekonomi AS, ekspektasi kebijakan The Fed, pergerakan dolar dan imbal hasil Treasury, serta perkembangan harga energi dan geopolitik global. (Lip6)















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda