Harga Emas Tertekan, Investor Mulai Kurangi Aset Safe Haven

JAKARTA (Waspada.id): Harga emas dunia kembali tertekan setelah perdagangan Amerika Serikat (AS) ditutup pada Senin. Penguatan tajam pasar saham, penurunan harga minyak mentah, serta imbal hasil obligasi AS yang masih tinggi membuat minat investor terhadap emas sebagai aset safe haven berkurang.
Mengutip Kitco, Selasa (22/9/2026), harga emas spot berada di sekitar US$4.337,20 per ounce, turun 0,95%. Sementara harga perak spot berada di sekitar US$66,08 per ounce, melemah 0,44%.
Tekanan terhadap emas terjadi ketika pasar saham AS justru mencatat penguatan signifikan. Indeks S&P 500 naik 1,5% menjadi 7.764,70. Nasdaq Composite melonjak 2,3% ke 27.122,09, sedangkan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,7% menjadi 52.048,83.
Kenaikan pasar saham membuat sebagian investor mengalihkan perhatian dari aset safe haven seperti emas ke aset berisiko. Sentimen tersebut semakin kuat di tengah ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang masih relatif ketat.
The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 16 September dan membawa kisaran target suku bunga menjadi 3,75%-4%. Proyeksi median The Fed masih menunjukkan suku bunga berada di sekitar 4,1% pada akhir tahun.
Suku Bunga Tinggi Jadi Beban Harga Emas
Sejumlah indikator ekonomi AS turut memperkuat ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga yang ketat. Penjualan ritel Agustus meningkat 1,2%, sementara klaim pengangguran awal turun menjadi 196.000.
Pelaku pasar bahkan memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada Desember mencapai 88%. Ekspektasi tersebut menjadi tekanan bagi emas karena komoditas ini tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen berbunga.
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun memang turun ke kisaran 4,95%-4,96%. Namun, level tersebut masih berada dekat dengan batas psikologis 5%.
Kondisi ini membuat emas menghadapi persaingan yang cukup berat. Ketika imbal hasil obligasi meningkat, biaya peluang untuk memegang emas yang tidak memberikan bunga juga ikut meningkat.
Harga Minyak Ikut Tertekan
Sentimen terhadap emas juga datang dari pasar minyak mentah. Harga minyak turun untuk sesi keempat berturut-turut.
Harga minyak Brent ditutup di level US$100,34 per barel, turun 3,4%. Sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$95,78 per barel, atau turun 4,5%.
Penurunan harga minyak turut mengurangi premi risiko geopolitik di pasar komoditas. Kondisi tersebut menjadi salah satu sentimen negatif bagi harga emas dalam jangka pendek.
Analis pasar XS.com Rania Gule mengatakan, “faktor-faktor fundamental yang saling bertentangan sedang membentuk pasar.”
Menurutnya, kenaikan imbal hasil obligasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed membatasi momentum harga emas. Namun, risiko geopolitik, permintaan bank sentral, serta kekhawatiran fiskal masih menjadi faktor pendukung untuk pembelian emas dalam jangka panjang.
Utang AS Jadi Risiko Struktural
Pasar obligasi AS juga masih menjadi salah satu risiko struktural bagi harga emas. Imbal hasil Treasury 10 tahun yang mendekati 5% meningkatkan biaya pinjaman sekaligus membuat aset yang tidak memberikan imbal hasil, seperti emas dan perak, menghadapi tekanan.
Utang pemerintah AS yang dimiliki publik mencapai US$31,3 triliun pada April. Angka tersebut kurang lebih setara dengan ukuran ekonomi AS. Sementara itu, belanja bunga bersih pada tahun fiskal 2025 telah melampaui belanja pertahanan nasional.
Kondisi fiskal tersebut tetap menjadi perhatian investor dalam jangka panjang, meski untuk saat ini tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi dan ekspektasi suku bunga masih lebih dominan terhadap pergerakan emas.
Level US$4.300 Jadi Perhatian Investor
Dari sisi teknikal, pelaku pasar kini mencermati sejumlah level penting harga emas.
Target kenaikan berikutnya berada di area US$4.400-US$4.407,27 per ounce. Jika mampu ditembus secara berkelanjutan, harga emas berpotensi mengarah ke US$4.443 dan US$4.475.
Sebaliknya, level US$4.334 menjadi batas penting untuk tekanan jual. Jika level tersebut ditembus, target pelemahan berikutnya berada di US$4.304 dan US$4.261.
Resistance pertama berada di US$4.370,78, kemudian US$4.407,27. Sementara support pertama berada di US$4.341,90 dan US$4.334.
Dengan demikian, harga emas masih berada dalam tarik-menarik antara tekanan suku bunga tinggi dan imbal hasil obligasi AS di satu sisi, dengan dukungan risiko geopolitik, permintaan bank sentral, serta kekhawatiran fiskal AS di sisi lainnya. (Lip6)














Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda