Breaking News
Memuat breaking news...

Harga Minyak Naik 1,8%, Trump Tolak Proposal Iran Buka Selat Hormuz

Redaksi
Redaksi
Senin, 28 September 2026 - 8.37 AM WIB
Harga Minyak Naik 1,8%, Trump Tolak Proposal Iran Buka Selat Hormuz
Foto ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Harga minyak mentah dunia kembali bergerak naik pada perdagangan awal Asia, Senin (28/9/2026). Kenaikan terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak proposal Iran yang menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai bagian dari upaya mengakhiri konflik di Timur Tengah.

Mengutip CNBC, Senin (28/9/2026), harga minyak mentah AS untuk pengiriman November naik 1,3% menjadi US$93,62 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent sebagai patokan harga minyak dunia melonjak 1,8% menjadi US$106,31 per barel.

Kenaikan harga minyak terjadi ketika pasar kembali mencermati risiko terhadap pasokan energi global. Penolakan Trump terhadap proposal Iran meningkatkan ketidakpastian mengenai konflik dan masa depan akses pelayaran melalui Selat Hormuz.

The Wall Street Journal melaporkan Trump menolak tawaran bersyarat Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Trump juga mengatakan kepada para pembantunya bahwa serangan AS terhadap Iran diperkirakan kembali berlanjut setelah pemilihan umum paruh waktu pada November.

Trump kemudian mengonfirmasi telah menolak proposal terbaru dari Teheran.

“Mereka mengajukan sebuah proposal, tetapi saya menolaknya,” kata Trump kepada wartawan.

Di sisi lain, koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman mengatakan telah mencegat sejumlah proyektil yang diluncurkan kelompok pemberontak Houthi yang didukung Iran.

Iran Tawarkan Buka Selat Hormuz

Sebelumnya, Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz sekaligus dimulainya kembali perundingan nuklir dengan Washington dalam waktu tujuh hari.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan tawaran tersebut pada Jumat dengan sejumlah syarat yang harus dipenuhi pemerintahan Trump.

“Jika kondisi tertentu terpenuhi, Selat Hormuz akan terbuka pada akhir tujuh hari, dan pembicaraan akan dimulai kembali,” kata Araghchi kepada wartawan di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan sejumlah syarat tersebut mencakup penghentian apa yang disebut Teheran sebagai “tindakan agresi” AS, pencabutan blokade laut dan perang ekonomi, serta pelepasan aset-aset Iran.

Selat Hormuz Jadi Sorotan Pasar Minyak

Selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar energi karena merupakan salah satu jalur pelayaran strategis dalam perdagangan minyak dunia.

Ketidakpastian mengenai pembukaan kembali jalur tersebut dapat meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap kelancaran distribusi energi global.

Sebelumnya, Trump mengatakan konflik yang dimulai setelah serangan udara AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari diperkirakan segera berakhir setelah pemilihan umum paruh waktu.

Pernyataan tersebut sempat mendorong harga minyak turun karena pasar memperkirakan risiko gangguan pasokan akan berkurang.

Namun, penolakan Trump terhadap proposal terbaru Iran kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek pasokan minyak global.

Pergerakan harga minyak selanjutnya akan menjadi perhatian pasar, terutama terkait perkembangan konflik AS-Iran dan kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement