Breaking News
Memuat breaking news...

Harga Minyak Terus Melonjak, IHSG, Rupiah dan Emas Terpuruk

Redaksi
Redaksi
Rabu, 8 Juli 2026 - 5.48 PM WIB
Harga Minyak Terus Melonjak, IHSG, Rupiah dan Emas Terpuruk
Foto ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Lonjakan harga minyak mentah dunia kembali mengguncang pasar keuangan. Memburuknya tensi geopolitik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat menyatakan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir memicu aksi jual di pasar saham, menekan nilai tukar rupiah, hingga menyeret harga emas dunia.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, kenaikan harga minyak menjadi sinyal bahwa pelaku pasar kembali mengantisipasi memburuknya kondisi geopolitik global.

"Harga minyak mentah terus menguat pada perdagangan Asia. Minyak jenis WTI naik menjadi sekitar US$74,9 per barel, sementara Brent menyentuh US$78,7 per barel. Kenaikan ini langsung memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global dan meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan," ujar Gunawan, Rabu (8/7).

Menurutnya, sentimen negatif tersebut membuat mayoritas bursa saham Asia bergerak di zona merah. Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,89 persen ke level 5.873,372, sekaligus kembali berada di bawah level psikologis 5.900.

"Tekanan terhadap IHSG semakin besar pada sesi kedua perdagangan. Investor memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di tengah meningkatnya kekhawatiran atas eskalasi konflik di Timur Tengah," katanya.

Tekanan juga dirasakan di pasar valuta asing. Rupiah ditutup melemah di kisaran Rp17.990 hingga Rp18.000 per dolar AS, bahkan sempat menyentuh Rp18.050 per dolar AS selama perdagangan berlangsung.

Gunawan menjelaskan, penguatan dolar AS dipicu ekspektasi bahwa lonjakan harga minyak akan kembali mendorong inflasi Amerika Serikat sehingga membuka peluang bank sentral AS mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

"Pasar kembali berspekulasi bahwa inflasi AS bisa meningkat akibat mahalnya harga energi. Kondisi ini membuat dolar AS kembali menjadi aset yang diburu investor sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah," jelasnya.

Di sisi lain, kondisi domestik juga belum mampu memberikan sentimen positif. Data Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Indonesia pada Juni turun menjadi 117,8, dari 120,9 pada Mei. Perlambatan optimisme konsumen tersebut dinilai semakin memperberat tekanan terhadap pasar keuangan nasional.

"Turunnya indeks kepercayaan konsumen menunjukkan masyarakat mulai lebih berhati-hati dalam melakukan konsumsi. Ini menjadi sinyal perlambatan aktivitas ekonomi yang turut memengaruhi sentimen investor," kata Gunawan.

Tak hanya saham dan rupiah, harga emas dunia juga ikut tertekan. Logam mulia diperdagangkan di kisaran US$4.073 per troy ons atau sekitar Rp2,36 juta per gram. Menurut Gunawan, ancaman inflasi yang berpotensi mendorong suku bunga tetap tinggi membuat ruang penguatan emas menjadi terbatas.

Ia memperkirakan volatilitas pasar masih akan tinggi selama konflik di Timur Tengah belum mereda.

"Selama belum ada kepastian terkait perkembangan konflik dan arah kebijakan bank sentral global, pasar keuangan akan tetap bergerak sangat fluktuatif. Rupiah, IHSG, maupun harga emas masih berpotensi mengalami tekanan dalam jangka pendek," tutupnya. (id09

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement