Breaking News
Memuat breaking news...

Harga Minyak Turun di Bawah US$100, Rupiah Menguat Tipis

Redaksi
Redaksi
Rabu, 23 September 2026 - 1.49 PM WIB
Harga Minyak Turun di Bawah US$100, Rupiah Menguat Tipis
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Harga minyak mentah dunia kembali turun ke bawah level US$100 per barel setelah muncul kabar mengenai komunikasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dalam sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah turut memberikan tekanan terhadap harga minyak.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, harga minyak jenis Brent pada perdagangan hari ini, Rabu (23/9) berada di kisaran US$98,7 per barel. Penurunan tersebut terjadi seiring munculnya sinyal komunikasi yang dinilai lebih positif antara AS dan Iran.

"AS menyatakan telah melakukan komunikasi yang baik dengan Iran dalam sidang PBB. Kabar tersebut sontak menekan harga minyak mentah dunia," kata Gunawan, Rabu (23/9).

Menurutnya, perkembangan tersebut menjadi salah satu sentimen yang membuat pelaku pasar kembali mencermati kemungkinan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi itu berpotensi mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dunia.

Namun, penurunan harga minyak belum serta-merta membuat harga emas bergerak menguat. Harga emas dunia justru cenderung melandai dalam perdagangan pagi ini.

Gunawan menyebutkan, harga emas berada di kisaran US$4.338 per troy ounce atau sekitar Rp2,49 juta per gram. Meski demikian, volatilitas emas masih tergolong tinggi.

"Dalam 24 jam terakhir harga emas sempat menyentuh US$4.370 per ons troy," ujarnya.

Rupiah Menguat Tipis

Di pasar valuta asing, Rupiah merespons positif penurunan harga minyak mentah dunia. Mata uang Garuda tercatat menguat tipis ke level Rp17.830 per dolar AS.

Gunawan menjelaskan, penguatan Rupiah juga mendapatkan dukungan dari pergerakan imbal hasil US Treasury 10 tahun yang relatif tertahan di level 4,95%.

"Rupiah ditransaksikan menguat tipis ke level 17.830 per US Dolar. Kinerja Rupiah pada perdagangan hari ini juga diuntungkan dengan imbal hasil US Treasury 10 tahun yang tertahan di level 4.95%," katanya.

Meski demikian, ruang penguatan Rupiah masih menghadapi tekanan dari dolar AS. Hal itu tercermin dari indeks dolar AS atau USD Index yang kembali naik ke level 100,66.

Dengan demikian, menurut Gunawan, penguatan Rupiah masih cenderung terbatas karena terdapat sejumlah faktor eksternal yang tetap menjadi sumber tekanan.

IHSG Berbalik ke Zona Merah

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menguat pada pembukaan perdagangan hingga berada di level 6.297. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama karena IHSG kemudian berbalik masuk ke zona merah.

Gunawan menilai pelaku pasar masih dibayangi oleh sentimen terkait kemungkinan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia serta tren kenaikan suku bunga global.

"Akumulasi sentimen negatif dari kemungkinan kenaikan bunga acuan Bank Indonesia serta kenaikan bunga acuan global menghantui pelaku pasar saat ini," jelasnya.

Di sisi lain, penurunan harga minyak mentah belum cukup kuat untuk memberikan keyakinan kepada pasar bahwa perdamaian di Timur Tengah akan segera tercipta.

Jika ketegangan geopolitik benar-benar mereda, harga minyak berpeluang mengalami penurunan lebih lanjut. Namun, pasar masih menunggu perkembangan lanjutan terkait hubungan AS dan Iran serta situasi geopolitik di kawasan tersebut.

"Penurunan harga minyak mentah sejauh ini belum cukup meyakinkan pasar bahwa akan tercipta perdamaian di Timur Tengah dalam waktu dekat, yang berpeluang menggiring penurunan harga minyak mentah lebih jauh," pungkas Gunawan. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement