Breaking News
Memuat breaking news...

Hong Kong Dibanjiri Emas Rusia, Sanksi Barat Geser Jalur Perdagangan ke Asia

Redaksi
Redaksi
Selasa, 6 Oktober 2026 - 9.08 PM WIB
Hong Kong Dibanjiri Emas Rusia, Sanksi Barat Geser Jalur Perdagangan ke Asia
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Sanksi Barat terhadap Rusia mengubah peta perdagangan emas global. Emas Rusia yang sebelumnya banyak mengalir ke London kini beralih ke Hong Kong dan pasar Asia, dengan volume impor Hong Kong bahkan mencetak rekor baru.

Mengutip CNBC, Selasa (6/10/2026), Hong Kong mengimpor 112,7 ton emas asal Rusia dalam tujuh bulan pertama 2026. Data tersebut dianalisis perusahaan investasi logam mulia BullionVault berdasarkan data Departemen Sensus dan Statistik Hong Kong.

Volume tersebut telah melampaui rekor impor sepanjang 2025 yang mencapai 92,1 ton. Angkanya juga melonjak jauh dibandingkan 2021, ketika Hong Kong hanya mengimpor 3,3 ton emas dari Rusia.

Lonjakan impor ini menunjukkan perubahan besar dalam jalur perdagangan emas Rusia sejak invasi ke Ukraina pada 2022. Sanksi yang diberlakukan negara-negara Barat membuat produsen emas Rusia kehilangan akses ke sejumlah pasar utama.

Pada tujuh bulan pertama 2026, emas Rusia menyumbang hampir 15% dari impor emas nonmoneter Hong Kong. Porsi tersebut meningkat tajam dibandingkan 2021 yang hanya mencapai 0,6%.

“Hong Kong telah menjadi pusat penting perdagangan Rusia-China sejak invasi skala penuh,” kata konsultan senior di Gatehouse Advisory Partners Vita Spivak.

“Sebagian besar emas tersebut masuk ke China daratan karena negara itu tidak menjatuhkan sanksi terhadap emas Rusia,” ujarnya kepada CNBC.

“Untuk emas batangan secara khusus, Hong Kong juga menawarkan keuntungan selain menghindari sanksi. Hong Kong memberikan akses langsung ke pasar konsumen emas terbesar di dunia,” lanjut Spivak.

Sanksi Barat Tutup Akses Emas Rusia ke London

Perubahan jalur perdagangan tersebut tidak terlepas dari pembatasan yang diberlakukan negara-negara Barat terhadap emas Rusia.

Pada Maret 2022, London Bullion Market Association menangguhkan enam perusahaan pemurnian emas dan perak Rusia dari daftar Good Delivery.

Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara Barat lainnya kemudian memberlakukan pembatasan terhadap emas Rusia. Langkah tersebut secara efektif menutup pasar yang sebelumnya menjadi tujuan utama ekspor emas Rusia.

Sebelum perang, industri emas Rusia sangat bergantung pada London. Data BullionVault menunjukkan ekspor emas Rusia ke Inggris pada 2019-2021 setara sekitar dua pertiga dari produksi tambang emas negara tersebut.

“Fakta bahwa data resmi Hong Kong dengan jelas menunjukkan lonjakan tajam impor emas Rusia mencerminkan bentuk dukungan dan perdagangan bilateral yang berulang kali disampaikan Putin kepada Xi,” kata Adrian Ash, direktur riset BullionVault.

“Ekspor emas Rusia ke Inggris dan negara-negara Barat yang menerapkan sanksi tentu saja anjlok,” tambah Ash.

Hong Kong Jadi Pintu Masuk ke China

Hong Kong kemudian menjadi salah satu alternatif utama bagi perdagangan emas Rusia. Wilayah tersebut sejak lama berfungsi sebagai pintu masuk emas ke China daratan, sekaligus terus memperluas infrastruktur penyimpanan, kliring, dan perdagangan emas.

“Hong Kong selalu menjadi pusat penting untuk emas yang masuk ke China,” kata Rhona O’Connell, kepala analisis pasar EMEA dan Asia di StoneX.

Posisi Hong Kong semakin strategis karena China merupakan salah satu pasar konsumen emas terbesar di dunia. Arus emas Rusia ke Hong Kong pun menunjukkan semakin pentingnya jalur perdagangan Asia di tengah pembatasan pasar Barat.

China sendiri tengah meningkatkan pembelian emas. Beijing telah menetapkan emas sebagai “mineral strategis” dan mendorong masyarakat menyimpan emas fisik sebagai aset bernilai.

Data S&P Global menunjukkan cadangan emas resmi China bertambah lebih dari 40 ton pada semester I 2026, lebih dari dua kali lipat pembelian pada periode yang sama tahun sebelumnya.

“Dalam kondisi ketidakpastian yang tinggi, konsumen cenderung ingin melindungi tabungan mereka, dan mereka melihat emas sebagai salah satu instrumen untuk itu,” kata Charles Chang dari S&P Global Ratings.

Dengan meningkatnya arus emas Rusia ke Hong Kong dan bertambahnya cadangan emas China, perdagangan emas global menunjukkan pergeseran jalur yang semakin kuat ke Asia. Sanksi Barat bukan hanya membatasi akses Rusia ke pasar emas tradisional, tetapi juga mendorong terbentuknya rute perdagangan alternatif melalui pusat-pusat emas di Asia. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement