Breaking News
Memuat breaking news...

Investor Mulai Tinggalkan Emas, ETF Global Catat Aksi Jual Terbesar pada Juni

Redaksi
Redaksi
Kamis, 9 Juli 2026 - 8.59 AM WIB
Investor Mulai Tinggalkan Emas, ETF Global Catat Aksi Jual Terbesar pada Juni
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

LONDON (Waspada.id): Kilau emas sebagai aset safe haven mulai memudar di mata sebagian investor global. Sepanjang Juni 2026, dana investasi berbasis emas atau exchange traded fund (ETF) mencatat aksi jual besar-besaran seiring pelemahan harga logam mulia dan meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat (AS).

Laporan terbaru World Gold Council (WGC) yang dirilis Selasa (8/7/2026) menunjukkan ETF emas global membukukan arus dana keluar (outflow) sebesar US$8,9 miliar selama Juni. Penjualan terjadi di hampir seluruh kawasan, dengan Amerika Utara menjadi penyumbang outflow terbesar.

Aksi jual tersebut berdampak pada penurunan total aset kelolaan (assets under management/AUM) ETF emas global sebesar 13 persen menjadi US$526 miliar pada akhir Juni. Di saat yang sama, total kepemilikan emas yang didukung ETF juga menyusut 74 ton menjadi 4.047 ton.

Meski demikian, secara kumulatif sepanjang semester I-2026, ETF emas global masih mencatat arus dana masuk (inflow) sebesar US$8 miliar. Kinerja positif tersebut terutama ditopang derasnya aliran dana ke ETF emas di kawasan Asia yang mencetak semester pertama terbaik sepanjang sejarah.

Meredupnya minat investor terhadap emas dipicu oleh koreksi harga logam mulia sepanjang Juni. Di sisi lain, sikap agresif (hawkish) Ketua The Fed Kevin Warsh serta meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran memicu kembali kekhawatiran terhadap inflasi.

Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan. Prospek tersebut mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil riil (real yield), sehingga meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Amerika Utara menjadi kawasan dengan tekanan terbesar. Selama Juni, ETF emas di kawasan tersebut mencatat arus keluar dana sebesar US$5,5 miliar. Secara kumulatif sepanjang semester pertama, outflow mencapai US$7,7 miliar, menjadi yang terburuk sejak 2013.

Asia Masih Jadi Penopang

Di tengah derasnya aksi jual global, Asia tetap menjadi penopang utama pasar ETF emas. Meski mencatat outflow sebesar US$2,3 miliar pada Juni—terbesar sepanjang sejarah untuk satu bulan—kawasan ini masih membukukan inflow sebesar US$12 miliar selama semester I-2026.

Arus keluar pada Juni terutama berasal dari China, seiring membaiknya sentimen di pasar saham serta pelemahan harga emas yang mengurangi minat investor terhadap aset safe haven.

Di Jepang, kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan turut mendorong investor mengurangi kepemilikan ETF emas. Sebaliknya, investor di India justru memanfaatkan koreksi harga untuk menambah kepemilikan logam mulia tersebut.

Sementara itu, ETF emas di Eropa mencatat arus keluar sebesar US$818 juta sepanjang Juni. Meski demikian, secara kumulatif kawasan tersebut masih mengantongi inflow sebesar US$3,2 miliar selama enam bulan pertama tahun ini.

Menariknya, di tengah berkurangnya kepemilikan ETF, aktivitas perdagangan emas global justru tetap sangat tinggi. Rata-rata volume perdagangan emas sepanjang semester I-2026 mencapai US$488 miliar per hari, menjadi level tertinggi sepanjang sejarah.

Volume transaksi ETF emas juga melonjak 73 persen dibandingkan rata-rata tahun lalu menjadi US$12 miliar per hari. Tingginya aktivitas perdagangan tersebut menunjukkan bahwa emas masih dipandang sebagai instrumen lindung nilai yang penting di tengah ketidakpastian ekonomi dan meningkatnya risiko geopolitik global.

Meski sebagian investor mulai mengurangi eksposur terhadap emas, prospek logam mulia sebagai aset safe haven diperkirakan tetap terjaga. Ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi global, serta ketidakpastian pasar keuangan dinilai masih akan menjadi faktor yang menopang permintaan emas ke depan. (invid)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement