Kerugian Akibat Serangan Siber Di Indonesia Capai US$ 6,2 Miliar

JAKARTA (Waspada.id): Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti mengatakan, berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan kerugian akibat serangan siber di Indonesia diperkirakan mencapai US$ 6,2 miliar pada 2026.
"Hal ini dampak dari pesatnya adopsi artificial intelligence (AI) dan otomasi yang ikut meningkatkan risiko serangan siber, penyalahgunaan data, fraud hingga scam,” kata Destry dalam acara Festival Ekonomi Keuangan Digital (FEKDI) 2026 di Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Dia menegaskan, risiko tersebut perlu menjadi perhatian seiring semakin luasnya aktivitas ekonomi masyarakat yang berpindah ke ekosistem digital, termasuk pembayaran.
Perkembangan itu terlihat dari penggunaan QRIS yang terus meningkat yang mencapai 47 juta merchant, atau tumbuh 13,83 persen di 2026 secara tahunan. Sementara jumlah pengguna QRIS ditargetkan mencapai 69,32 juta pada akhir tahun ini.
Besarnya jumlah merchant dan pengguna membuat keamanan menjadi bagian penting dalam pengembangan QRIS. BI tidak hanya mengejar perluasan akseptasi pembayaran digital, tetapi juga memastikan ekosistem transaksi tetap aman dan dapat dipercaya masyarakat.
“Bank Indonesia bersama industri dan K/L harus terus memperkuat sinergi kebijakan sistem pembayaran yang aman serta berorientasi pada perlindungan konsumen,” ujar Destry.
Destry menjelaskan BI memiliki mandat untuk menciptakan dan mengembangkan sistem pembayaran yang aman. Penguatan tersebut mencakup ekosistem pembayaran secara keseluruhan agar transaksi dapat berjalan secara andal, aman, dan dipercaya pengguna.
Menurutnya, semakin luas konektivitas dalam ekosistem digital, semakin besar pula risiko yang perlu diantisipasi. Karena itu, literasi dan perlindungan konsumen juga menjadi bagian penting seiring meningkatnya penggunaan layanan pembayaran digital.
Selain QRIS, pertumbuhan transaksi melalui infrastruktur pembayaran digital juga terus terjadi. Hingga Agustus 2026, transaksi melalui Standar Nasional Open API Pembayaran (SNAP) telah mencapai 2,69 miliar transaksi atau tumbuh 67,16% secara tahunan.
Destry menilai, digitalisasi tetap menjadi salah satu instrumen untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya saing.
"Namun, akselerasi tersebut perlu berjalan beriringan dengan penguatan keamanan agar masyarakat tetap terlindungi ketika menggunakan layanan pembayaran digital," tandasnya. (Id88)
















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda