Ketika 13 Armada Bertarung dengan 323 Ton Sampah: Kesadaran Masyarakat Aceh Utara Jadi Penentu

“Sampah bukan sekadar masalah teknis, ia adalah cermin perilaku. Armada bisa ditambah, tapi tanpa kesadaran masyarakat, sampah akan tetap menjadi wajah kita yang kusut.” – Plt. Kadis DLHK Aceh Utara, Saiful Fata
Saat ini, Aceh Utara berdiri di persimpangan antara iman dan kelalaian. Dari 27 kecamatan, wajah persampahan masih kusut. Dari 27 unit armada pengangkut sampah yang tersedia, 9 unit di antaranya sudah cukup tua, dan yang benar-benar bekerja setiap hari hanya 13 armada. Armada terbatas ini hanya mampu mengangkut 70 ton dari 323 ton sampah yang dihasilkan masyarakat setiap hari. Sisanya tercecer, menjadi noda di jalan, di pasar, dan di sudut gampong (desa).
Armada yang Tertatih, Tenaga yang Terbatas
Kepada Waspada.id, Saiful Fata menjelaskan bahwa untuk mengangkut 323 ton sampah setiap hari, sedikitnya dibutuhkan 50 unit armada dengan kondisi prima. “Untuk tenaga kebersihan tidak ada masalah. Saat ini kita memiliki tenaga kebersihan sebanyak 362 orang, tersebar di 25 kecamatan. Untuk Geureudong Pase dan Langkahan masih belum tertangani karena jarak tempuh. Jika ada penambahan tenaga, akan difokuskan ke dua kecamatan itu,” ujarnya.
Jumlah sampah terbanyak saat ini, lanjut Saiful, ada di Kota Panton Labu, Kecamatan Tanah Jambo Aye. Idealnya, wilayah ini membutuhkan 5 armada, namun yang tersedia baru dua unit. “Ke depan, selain butuh penambahan armada, kami juga membutuhkan amrol, yaitu truk kontainer yang bisa mengefisienkan pengangkutan. Ini masih menjadi harapan,” tambahnya.
Kesadaran yang Masih Rapuh
Namun, persoalan penanganan sampah bukan hanya soal armada dan tenaga kebersihan. Persoalan terbesar adalah perilaku masyarakat. Tempat sampah disediakan, tetapi sampah tetap dibuang sembarangan. Tingkat sosialisasi masih sangat kurang.
Meski begitu, tidak sedikit para tengku dan khatib di mimbar-mimbar masjid setiap Jumat mengajak masyarakat menjaga kebersihan lingkungan. Bahkan, mereka sering menegaskan dalam khutbah bahwa “kebersihan adalah bagian dari iman.”
Rata-rata sampah yang dihasilkan di Aceh Utara adalah sampah rumah tangga. Sesungguhnya, persoalan ini bisa selesai di pintu rumah masing-masing. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, pupuk yang menyuburkan tanah. Sampah anorganik bisa dipilah, didaur ulang, atau dijual.
“Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 sudah jelas: setiap individu wajib mengelola sampah dengan berwawasan lingkungan.”
Armada Fisik dan Armada Kesadaran
Aceh Utara tidak kekurangan aturan, tidak kekurangan mimbar, tidak kekurangan doa. Yang kurang adalah kesungguhan kita menjaga bumi tempat berpijak. Armada fisik hanya 13, tetapi jika setiap rumah tangga menjadi “armada kesadaran,” maka sampah bisa ditangani sebelum ia menjelma gunung.
Sampah bukan sekadar benda yang dibuang, ia adalah cermin iman, cermin disiplin, cermin tanggung jawab. Jika setiap jiwa mulai peduli, maka Aceh Utara akan bangkit bukan dengan slogan, melainkan dengan lingkungan yang bersih, sehat, dan penuh berkah. WASPADA.id
Maimun Asnawi, S.HI.,M.Kom.I















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda