Breaking News
Memuat breaking news...

Kinerja Sektor Manufaktur Indonesia Kembali Menguat

Redaksi
Redaksi
Kamis, 1 Oktober 2026 - 3.11 PM WIB
Kinerja Sektor Manufaktur Indonesia Kembali Menguat
Sektor Manufaktur/ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Pada September 2026 tercatat kinerja sektor manufaktur Indonesia kembali menguat. Berdasarkan survei terbaru S&P Global, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik menjadi 52,4 poin, dari 49,8 poin pada Agustus 2026.

Angka di atas 50 menunjukkan sektor manufaktur berada dalam fase ekspansi. Capaian September juga menjadi perbaikan kondisi bisnis manufaktur terkuat sejak Februari 2026, sebelum pecahnya konflik di Timur Tengah.

Penguatan tersebut ditopang oleh peningkatan produksi dan pesanan baru. Permintaan terhadap produk manufaktur Indonesia meningkat dengan laju tercepat sejak Februari, seiring kenaikan permintaan pelanggan dan dimulainya proyek-proyek baru.

Pertumbuhan ekspor juga kembali terjadi untuk dua bulan berturut-turut. Bahkan, laju pertumbuhan ekspor pada September menjadi yang tercepat sejak Mei 2022.

Direktur Bidang Ekonomi S&P Global Market Intelligence Trevor Balchin mengatakan, penguatan sektor manufaktur terlihat dari kenaikan produksi dan pekerjaan baru yang solid.

"Sektor manufaktur Indonesia mengakhiri triwulan ketiga dengan kinerja yang sangat kuat," tutur Balchin dalam laporannya, Kamis (1/10/2026).

Dia melanjutkan, produksi dan pekerjaan baru sama-sama meningkat secara solid, didukung oleh kenaikan ekspor. Sehingga menghasilkan kinerja bulanan secara keseluruhan yang terkuat di sektor ini sejak bulan Februari, tepatnya sebelum pecahnya konflik di Timur Tengah.

Sejalan dengan peningkatan pesanan, produksi manufaktur kembali tumbuh setelah sempat mengalami penurunan tipis pada Juli.

Produksi pada September meningkat pada laju tercepat sejak Februari, didukung permintaan pelanggan, proyek baru, peningkatan daya beli dan perluasan jenis produk.

Meski kapasitas produksi bertambah, tunggakan pekerjaan justru meningkat pada laju terkuat dalam lima tahun. Produsen juga mengurangi persediaan barang jadi pada laju tercepat sejak Agustus 2020.

Balchin menyebut, kondisi tersebut menunjukkan adanya tekanan dari peningkatan pesanan yang harus segera dipenuhi oleh produsen.

"Prospek produksi dalam jangka pendek terlihat menjanjikan, dengan tunggakan pekerjaan meningkat paling tinggi dalam lima tahun pada bulan September, meskipun kenaikan tenaga kerja merupakan yang terkuat sejak awal tahun 2025," jelasnya.

Di sisi biaya, tekanan inflasi harga input mulai mereda. Inflasi harga input pada September melambat ke level terendah dalam enam bulan, meski masih berada di atas rata-rata jangka panjang survei.

Kenaikan biaya bahan baku, harga dari pemasok, nilai tukar, kelangkaan bahan tertentu, serta dampak kebijakan bahan bakar masih menjadi faktor yang mendorong biaya produksi.

Sementara itu, kenaikan harga output manufaktur juga melambat ke level terendah dalam enam bulan.

Kondisi tersebut mendorong produsen kembali meningkatkan pembelian input dan menambah persediaan. Inventaris input meningkat pada laju terkuat sejak Maret 2024, setelah sebelumnya mengalami penurunan pada periode April-Juli.

"Sebagai penutup bulan yang baik bagi sektor ini, inflasi harga input melambat ke level terendah dalam enam bulan, mendorong perusahaan meningkatkan pembelian dan menambah kembali stok input, yang meningkat pada laju terkuat sejak bulan Maret 2024," terang Balchin.

Kenaikan biaya bahan baku, harga dari pemasok, nilai tukar, kelangkaan bahan tertentu, serta dampak kebijakan bahan bakar masih menjadi faktor yang mendorong biaya produksi.

Sementara itu, kenaikan harga output manufaktur juga melambat ke level terendah dalam enam bulan.

Kondisi tersebut mendorong produsen kembali meningkatkan pembelian input dan menambah persediaan. Inventaris input meningkat pada laju terkuat sejak Maret 2024, setelah sebelumnya mengalami penurunan pada periode April-Juli.

"Sebagai penutup bulan yang baik bagi sektor ini, inflasi harga input melambat ke level terendah dalam enam bulan,m. Ini mendorong perusahaan meningkatkan pembelian dan menambah kembali stok input, yang meningkat pada laju terkuat sejak bulan Maret 2024," terang Balchin. (Id88)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement