Kuah Beulangong Satukan Warga Dalam Maulid Nabi di Abdya

BLANGPIDIE (Waspada.id): Aroma rempah dari puluhan kancah kuah beulangong, menyebar di halaman Masjid Agung Baitul Ghafur, Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Selasa (6/10).
Tradisi memasak secara gotong royong itu, menjadi salah satu warna utama peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, tingkat Kabupaten Abdya.
Bukan sekadar sajian kuliner, kuah beulangong dalam peringatan Maulid tersebut, menjadi ruang kebersamaan masyarakat. Instansi pemerintah, instansi vertikal, organisasi kepemudaan, hingga berbagai elemen masyarakat, ikut mengambil bagian dalam tradisi yang telah mengakar, dalam kehidupan masyarakat Aceh itu.
Bupati Abdya Safaruddin, bersama Wakil Bupati Zaman Akli, Ketua DPRK Roni Guswandi, Kajari Abdya Kardono, SH, MH, Kepala Kankemenag Abdya Drs. H. Marwan Z serta Plt Sekda Amrizal, turut meninjau langsung proses memasak kuah beulangong di sejumlah stan.
Safaruddin mengapresiasi keterlibatan masyarakat dan seluruh unsur, yang ikut menyukseskan peringatan Maulid. Menurutnya, semangat kebersamaan seperti itu penting dipertahankan, karena menjadi bagian dari kekuatan sosial masyarakat Abdya. “Tradisi seperti ini harus kita jaga. Bukan hanya karena kuah beulangong merupakan warisan budaya Aceh, tetapi di dalamnya ada semangat gotong royong, kebersamaan dan silaturahmi,” ujar Safaruddin.

Berbagai jenis daging, mulai kerbau, sapi, kambing hingga bebek, dimasak dalam kancah berukuran besar, dengan racikan rempah khas Aceh. Hidangan kemudian dinikmati bersama warga dan tamu, yang menghadiri rangkaian peringatan Maulid.
Selain menghadirkan suasana kebersamaan, peringatan Maulid juga diisi tausiah oleh Ustadz Anugrah Cahyadi Batubara atau Ustadz Ucay. Dai asal Pematangsiantar, Sumatera Utara itu, kembali hadir setelah sebelumnya mengisi tausiah pada peringatan Maulid di Abdya tahun lalu.
Dalam pesannya, Bupati Safaruddin menekankan pentingnya penguatan nilai-nilai keagamaan, dalam kehidupan masyarakat. Pemerintah daerah, katanya, akan terus mendorong pelaksanaan program Peukong Agama, sebagai bagian dari arah pembangunan Abdya.
Safaruddin mengajak masyarakat tidak hanya menjadikan peringatan Maulid sebagai agenda seremonial, tetapi juga momentum untuk memperbaiki kualitas kehidupan beragama, terutama dengan menjaga shalat lima waktu.
“Jangan kita tinggalkan shalat. Kalau hubungan kita dengan Allah baik, insya Allah kehidupan kita juga akan mendapatkan kemudahan dan keberkahan,” pesannya.
Pada kesempatan itu, Safaruddin turut menyampaikan perkembangan program Doto Saweu Gampong, yang menjadi salah satu program dalam visi Arah Baru Abdya Maju. Program tersebut disebut telah mendapat perhatian dari kementerian.
Ia berharap berbagai program pembangunan yang dijalankan pemerintah, dapat berjalan beriringan dengan penguatan nilai agama dan kehidupan sosial masyarakat, di tingkat gampong.
Safaruddin juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan harta maupun jabatan sebagai ukuran utama dalam kehidupan.
Menurutnya, kekayaan dan kedudukan pada akhirnya tidak memiliki makna, apabila tidak disertai ketakwaan, akhlak dan kepedulian terhadap sesama. “Yang paling penting adalah bagaimana kita menjaga silaturahmi, saling menghargai dan meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Peringatan Maulid Nabi di Abdya pun tidak sekadar menghadirkan tausiah dan jamuan makan bersama. Tradisi kuah beulangong sekaligus memperlihatkan bagaimana nilai keagamaan, budaya dan semangat gotong royong masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat di Bumi Breuh Sigupai.(id82)


















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda