Breaking News
Memuat breaking news...

LSM Flofa Dorong Perlindungan Petani untuk Jamin Ketahanan Pangan Aceh

Redaksi
Redaksi
Selasa, 29 September 2026 - 3.34 PM WIB
LSM Flofa Dorong Perlindungan Petani untuk Jamin Ketahanan Pangan Aceh
Ketua LSM Flofa Aceh, Darwis Kuta, mengajak petani menggunakan pelindung diri saat menggunakan pestisida, Selasa (29/9). (Waspada.id/ist)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

ACEH UTARA (Waspada.id): Pestisida merupakan salah satu upaya untuk menyelamatkan tanaman dan menjaga hasil panen petani. Namun, jika digunakan tidak sesuai dengan aturan, pestisida tidak hanya membahayakan petani, tetapi juga berdampak negatif terhadap lingkungan hidup dan masyarakat.

LSM Flora dan Fauna (Flofa) Aceh menegaskan bahwa petani menggunakan pestisida untuk menyelamatkan tanaman dari serangan hama. Namun, jika bahan aktif pestisida digunakan secara berlebihan, hal tersebut dapat membahayakan masyarakat dan lingkungan hidup.

"Kita mendorong ketahanan pangan, tetapi tetap melindungi petani," tegas Ketua LSM Flofa Aceh, Darwis Kuta, Selasa (29/9).

Darwis Kuta menjelaskan, pestisida merupakan salah satu bagian penting dalam pertanian modern. Penggunaannya dapat membantu petani mengendalikan organisme pengganggu tanaman ketika diperlukan. Namun, seperti halnya berbagai bahan kimia lainnya, penggunaan pestisida membutuhkan pengetahuan, ketepatan, dan kehati-hatian.

Menurutnya, salah satu hal sederhana adalah perlindungan diri. Sering pihaknya menemukan petani tidak menggunakan alat pelindung diri saat mencampur dan menyemprot pestisida.

"Ini menjadi pengingat kita bersama, mari bersama-sama kita tingkatkan keselamatan dan kesehatan dalam bekerja," ujar Darwis Kuta.

Seorang petani bukan hanya sedang menghasilkan pangan. Tapi jauh dari itu, ia sedang menjaga kehidupan banyak orang. Ketika penyemprotan dilakukan tanpa perlindungan yang memadai, paparan pestisida dapat terjadi melalui kulit maupun pernapasan.

Setelah penyemprotan, perjalanan pestisida juga tidak selalu berhenti pada tanaman. Sebagian dapat mencapai tanah dan sebagian lainnya berpotensi terbawa limpasan air menuju saluran irigasi. Artinya, persoalan pestisida bukan hanya tentang bagaimana mengendalikan hama. Ini adalah tentang bagaimana menjaga keseimbangan antara produktivitas dan keberlanjutan.

Bahan aktif seperti klorpirifos dan sipermetrin dapat membantu pengendalian hama, tetapi penggunaannya tetap perlu mengikuti ketentuan, dosis, sasaran, dan cara aplikasi yang tepat. Penggunaan yang berlebihan juga perlu dihindari karena dapat meningkatkan tekanan terhadap organisme non-target dan berkontribusi terhadap berkembangnya resistensi hama.

Melindungi Pangan

Darwis Kuta juga menjelaskan, kita tidak perlu menciptakan kekhawatiran dengan mengatakan bahwa setiap beras yang menggunakan pestisida pasti berbahaya. Keamanan pangan harus dibuktikan melalui pengujian residu. Indonesia sendiri telah memiliki ketentuan mengenai batas maksimum residu pestisida dalam pangan. Namun, kesadaran ini perlu terus diperkuat.

Begitu pula dengan tanah dan air. Tanah bukan sekadar tempat tanaman tumbuh. Di dalamnya terdapat kehidupan mikroorganisme yang membantu menjaga kesuburan dan siklus unsur hara. Air yang mengalir dari persawahan juga merupakan bagian dari kehidupan masyarakat dan ekosistem di sekitarnya.

Karena itu, sudah saatnya kita melihat pertanian secara lebih utuh. Bukan hanya berapa banyak yang kita panen, tetapi juga bagaimana pangan tersebut dihasilkan.

Solusinya pun bukan dengan menyalahkan siapa pun. Petani membutuhkan pendampingan dan akses terhadap informasi yang mudah dipahami.

Penyuluh memiliki peran penting dalam memperkuat Pengendalian Hama Terpadu. Pemerintah dapat terus memperkuat pengawasan dan edukasi. Dunia usaha dapat mendukung praktik penggunaan pestisida yang bertanggung jawab. Perguruan tinggi dapat memperluas penelitian

dan inovasi. Dan masyarakat sebagai konsumen juga memiliki peran untuk terus menghargai pangan yang aman dan proses produksi yang berkelanjutan.

Kita semua berada dalam satu rantai yang sama. Petani menjaga pangan. Pangan menjaga kehidupan kita. Maka sudah selayaknya kita bersama-sama menjaga petani.

Mungkin sudah waktunya kita mengubah pertanyaan, dari bagaimana membuat hama mati lebih cepat, menjadi bagaimana mengendalikan hama dengan tetap menjaga manusia dan lingkungan.

Dari sinilah pertanian berkelanjutan dapat dimulai. Bukan dengan menghilangkan seluruh pestisida dari pertanian, tetapi dengan menggunakannya secara tepat, bijak, dan bertanggung jawab, sambil memperkuat alternatif, seperti pengendalian hama terpadu, pengendalian hayati, monitoring hama, dan praktik budi daya yang lebih ramah lingkungan.

Karena pada akhirnya, keberhasilan pertanian bukan hanya ketika sawah menghasilkan banyak gabah. Keberhasilan pertanian adalah ketika petaninya terlindungi, pangannya aman, tanahnya tetap hidup, airnya tetap terjaga, dan generasi berikutnya masih dapat menikmati sawah yang sama.

"Mari kita menjaga bukan hanya apa yang tumbuh di atas tanah. Mari kita menjaga kehidupan yang ada di balik setiap butir nasi," tegas Darwis Kuta. (id71)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement