Breaking News
Memuat breaking news...

Menahun Dikepung Banjir, Jalur Nasional Depan PNL dan RSUD Cut Meutia Seolah Kehilangan Pemimpin

Redaksi
Redaksi
Senin, 21 September 2026 - 11.36 AM WIB
Menahun Dikepung Banjir, Jalur Nasional Depan PNL dan RSUD Cut Meutia Seolah Kehilangan Pemimpin
Tampak puluhan mobil terpaksa merayap di jalan nasional depan PNL dan RS Cut Mutia akibat genangan banjir di badan jalan itu, Sabtu (19/9/2026) sore.Waspada.id/Maimun Asnawi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Setiap kali langit di atas Kota Lhokseumawe mulai menghitam dan menumpahkan hujan deras, kecemasan seketika melanda para pengguna jalan nasional Medan–Banda Aceh. Jalur vital yang membentang dari depan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Meutia hingga depan Kampus Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) kerap berubah wujud menjadi kolam cokelat buatan.

Air keruh setinggi betis orang dewasa langsung mengepung badan jalan, menenggelamkan aspal, dan mengancam keselamatan berkendara. Pemandangan serupa juga menjadi pemandang rutin di sepanjang jalur Gampong Alue Awe. Dua titik genangan parah ini berada di wilayah administratif Kecamatan Blang Mangat dan Muara Dua, Kota Lhokseumawe.

Ironisnya, lintasan ini bukanlah jalur sepi.

Setiap harinya, ribuan unit kendaraan bermotor memadati jalan trans-Sumatera ini. Mulai dari truk logistik, mahasiswa, tenaga medis, masyarakat umum, hingga mobil-mobil dinas mewah milik para pejabat Provinsi Aceh saban hari melintasi jalur yang sama.

Namun, meski riuh dilewati dan disaksikan langsung oleh para pemangku kebijakan, masalah ini seolah tak pernah menyentuh meja perbaikan. "Tidak ada yang peduli. Masyarakat kehilangan tempat mengadu," sebut Ketua DPP- PWA, Maimun Asnawi.

Bagi masyarakat, pemandangan ini menyisakan luka dan kekecewaan mendalam. Rasa ketidakadilan menyeruak, mengingat jalan yang mereka lalui setiap hari tidaklah gratis. Saban tahun, warga taat menunaikan kewajiban membayar pajak kendaraan bermotor mereka. Namun, hak untuk mendapatkan fasilitas jalan yang layak dan aman tak kunjung mereka terima.

"Kondisi genangan banjir ini sudah menahun dan sama sekali tidak ada tanda-tanda akan diperbaiki. Seolah-olah ada pembiaran," keluh Muhammad, 45, salah seorang pengguna jalan yang kerap terjebak di lokasi tersebut.

Genangan yang tak kunjung surut selama bertahun-tahun pada setiap diguyur hujan deras akhirnya memicu kritik sosial yang tajam di tengah masyarakat.

Ketidakpedulian yang berlarut-larut dari pihak berwenang memunculkan kesan getir di benak warga: bahwa di balik megahnya jalur penghubung antarprovinsi ini, Aceh seolah-olah sedang berjalan tanpa seorang pemimpin. WASPADA.id

Maimun Asnawi, S.HI..Kom.I

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement