Minyak Dunia Anjlok di Bawah US$100, Rupiah dan Emas Kompak Menguat

MEDAN (Waspada.id): Harga minyak mentah dunia kembali mengalami tekanan dan turun di bawah level US$100 per barel. Kondisi tersebut menjadi salah satu sentimen positif bagi pasar keuangan Indonesia, ditandai dengan penguatan nilai tukar rupiah dan harga emas dunia.
Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, pergerakan pasar keuangan pada perdagangan hari ini, Rabu (30/9) turut dipengaruhi oleh sejumlah sentimen global, termasuk membaiknya aktivitas manufaktur China yang mulai kembali memasuki zona ekspansi.
Data manufaktur China tercatat berada di level 50,1. Angka di atas 50 menunjukkan sektor manufaktur berada dalam fase ekspansi. Kondisi tersebut memberikan sentimen positif terhadap pasar saham di kawasan Asia.
“Data manufaktur China yang masuk zona ekspansi menjadi angin segar bagi pasar saham di kawasan Asia. Namun setelah itu perhatian pelaku pasar akan beralih ke data inflasi Amerika Serikat,” kata Gunawan, Rabu (30/9).
Menurutnya, data inflasi AS menjadi salah satu indikator penting yang akan menentukan arah pasar keuangan global. Jika inflasi kembali menunjukkan tekanan yang tinggi, pasar akan meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
“Data inflasi AS harus sangat diwaspadai karena berpeluang memengaruhi ekspektasi terhadap kenaikan bunga acuan. Kondisi tersebut tentunya akan berpengaruh terhadap likuiditas dan pasar keuangan global,” ujarnya.
Di pasar saham domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat dibuka melemah tipis di level 6.118. Namun, indeks kemudian mampu berbalik arah dan bergerak di zona hijau.
Gunawan memperkirakan pergerakan IHSG masih cenderung terbatas atau sideways sepanjang perdagangan. IHSG berpeluang bergerak dalam rentang 6.070 hingga 6.145.
Sementara itu, rupiah menunjukkan penguatan cukup signifikan dan berada di level sekitar Rp17.885 per dolar AS.
Menurut Gunawan, penguatan rupiah salah satunya berkaitan dengan penurunan harga minyak mentah dunia. Harga minyak yang sebelumnya berada di atas US$100 per barel kini turun ke kisaran US$96 per barel.
“Penguatan rupiah terjadi beriringan dengan melemahnya harga minyak mentah dunia. Penurunan harga minyak ini dipicu oleh peningkatan pasokan,” jelasnya.
Penurunan harga minyak menjadi sentimen penting bagi negara importir minyak seperti Indonesia karena dapat mengurangi tekanan terhadap kebutuhan devisa untuk impor energi serta meredakan potensi tekanan inflasi yang bersumber dari energi.
Di sisi lain, harga emas dunia justru bergerak menguat. Harga emas tercatat berada di level sekitar US$4.180 per troy ounce atau setara dengan sekitar Rp2,41 juta per gram.
Gunawan menilai penguatan emas juga tidak terlepas dari perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga global menyusul pelemahan harga minyak.
“Penguatan harga emas juga dipicu oleh masalah yang sama, yakni melemahnya harga minyak yang mengikis spekulasi kenaikan suku bunga acuan,” katanya.
Dengan demikian, pasar keuangan domestik saat ini menghadapi sejumlah sentimen yang saling berlawanan. Perbaikan data manufaktur China memberikan dorongan positif bagi aset berisiko, sementara arah kebijakan moneter AS dan pergerakan harga komoditas tetap menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Gunawan mengingatkan bahwa pergerakan pasar selanjutnya akan sangat bergantung pada data ekonomi global, khususnya inflasi AS, serta bagaimana pasar menerjemahkan data tersebut terhadap arah kebijakan The Fed. (id09)















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda