Breaking News
Memuat breaking news...

MUI Sidimpuan Ingatkan Da'i Jangan Jadikan Uang Ukuran Berdakwah

Redaksi
Redaksi
Minggu, 4 Oktober 2026 - 6.13 PM WIB
MUI Sidimpuan Ingatkan Da'i Jangan Jadikan Uang Ukuran Berdakwah
Ketua MUI P.Sidimpuan, Ustadz Dra.H.Zulfan Efendi Hasibuan, MA secara simbolis menyerahkan sertifikat pelatihan da'i dan da'iyah kepada salah seorang peserta, Minggu (4/10/2026). Waspada.id/Mohot Lubis
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

P.SIDIMPUAN (Waspada.id): Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Padangsidimpuan Ustadz Drs. H. Zulfan Efendi Hasibuan, MA mengingatkan calon Da'i dan Da'iyah untuk meluruskan niat dalam berdakwah dan tidak menjadikan materi (uang) jadi ukuran dalam berdakwah.

"Ada yang patut dipertanyakan, jika dakwah yang dilakukan tidak mampu mengubah sikap atau perilaku umat," ucap Ustadz Drs. H. Zulfan Efendi Hasibuan, MA dalam paparannya saat memberikan pembekalan kepala calon Da'i dan Da'iyah Kota Padangsidimpuan Tahun 2026 di Aula Kantor MUI Padangsidimpuan, Minggu (4/10/2026).

Pembekalan atau Pelatihan Da'i dan Da'iyah yang digelar Komisi Dakwah MUI P.Sidimpuan dengan tema" Optimalisasi Media Digital sebagai Sarana Syiar Islam di Masa Kini" berlangsung selama dua hari (3-4 Oktober 2026) diikuti siswa MAN dan santri Ponpes se-Kota Padangsidimpuan.

Menurut Ustadz Zulfan, banyaknya aktivitas dakwah tidak otomatis menunjukkan dakwah telah berhasil. Sebab, ukuran keberhasilan dakwah bukan seberapa sering seorang Da'i berbicara, melainkan apakah pesan yang disampaikan mampu dipahami, menyentuh hati dan mendorong mad’u melakukan perubahan.

Ciri-ciri dakwah yang efektif, paparnya, ceramah yang disampaikan mudah dipahami, menimbulkan kesenangan, mampu mempengaruhi sikap mad’u, dapat mendorong hubungan yang semakin baik serta dapat mendorong umat untuk semakin baik.

Ketua Komisi Dakwah MUI P.Sidimpuan, Drs. H. Syahid Muammar Pulungan SH, menyerahkan sertifikat kepada salah seorang peserta pelatihan da'i dan da'iyah, Minggu (4/10/2026). Waspada.id/Mohot Lubis

Sebaliknya, dakwah akan kehilangan daya jika hanya berhenti pada suara dan kata-kata, Apalagi sang penceramah menjadikan imbalan materi sebagai alasan utama untuk memenuhi undangan dakwah.

Sebagai gambaran, Ustadz Zulfan menceritakan pengalaman puluhan tahun lalu. Dimana ketika Itu ada ada warga dari pelosok datang mengundang seorang ustadz untuk mengisi peringatan Maulid Nabi.

Alih-alih membicarakan materi dakwah, sang ustadz terlebih dahulu menanyakan berapa transportasi yang disiapkan. Ketika mendengar nominal yang ditawarkan, ia menyatakan tidak bisa memenuhi undangan tersebut.

Warga bahkan menawarkan mengumpulkan sumbangan atau durung-durung agar sang ustadz bersedia datang. “Uang perlu, tapi jangan karena uang baru berdakwah. Kalau saat itu saya tidak ada jadwal, sudah menawarkan diri untuk jadi mengisi ceramah itu," tuturnya.

Ia juga mengingatkan peserta pelatihan agar tidak mengingkari janji untuk mengisi pengajian atau kegiatan sejenisnya hanya karena kemudian memperoleh tawaran yang lebih besar.

"Persoalan dakwah bukan hanya terletak pada materi, tetapi juga pada pribadi pendakwah. Jangan sampai apa yang disampaikan berbeda dengan perilaku kita,” pesannya.

Selain krisis keteladanan, dakwah juga bisa gagal karena metode yang monoton, kurangnya persiapan ilmu, penguasaan materi yang lemah serta penggunaan bahasa yang kasar dan tidak santun.

Untuk itu Ketua MUI Padangsidimpuan mendorong calon dai terus belajar. Bahkan, Zulfan mengaku setelah menjadi dai dirinya justru lebih banyak membaca dan membeli buku dibanding ketika masih menjadi mahasiswa.

Terkait dengan humor dalam dakwah, ustadz Zulfan menegaskan bahwa boleh digunakan, tapi harus relevan dan tidak menghilangkan substansi pesan agama."Jangan sampai humor itu mengandung pandangan negatif," tegasnya.

Dakwah Harus Berujung Perubahan

Ustadz Zulfan menekankan, dakwah yang efektif membutuhkan niat yang baik, pengenalan terhadap audiens, mau'idzah hasanah, hikmah dan kelembutan, pemanfaatan media digital, keteladanan serta tawakal kepada Allah.

Namun, seluruh ikhtiar tersebut tetap tidak menjamin keberhasilan tanpa hidayah dan ridha Allah. “Apapun dakwah kita, tanpa hidayah dan ridha Allah tidak akan berhasil. Karena itu, sertakan Allah dalam setiap kegiatan atau usaha, selalu berdoa dan bertawakal kepada Allah. Serahkan diri kepada Allah,” ujarnya.

Calon da'i dan da'iyah uji kemampuan berdakwah dalam pelatihan da'i dan da'iyah di Aula Kantor MUI Padangsidimpuan, Minggu (4/10/2026). Waspada.id/Mohot Lubis

Ia mengajak calon dai tidak hanya belajar bagaimana berbicara di depan jamaah, tetapi juga belajar bagaimana menjadi contoh bagi umat. Sebab, dakwah sejatinya bukan sekadar membuat orang mendengar, tetapi membuat orang mengerti, tersentuh dan mau berubah.

Perubahan karakter masyarakat, khususnya generasi Z, lanjut Ustadz Zulfan, idealnya dilakukan secara dialogis, tidak dogmatis, serta berbasis keteladanan dan memanfaatkan media sosial. “Bicara dengan mereka sesuai dengan tingkat pemahaman mereka,” katanya.

Menurutnya, dai harus mampu mengenali siapa audiensnya, apa kebutuhannya dan media apa yang paling efektif digunakan "Faktor eksternal seperti lingkungan, budaya, materialisme, sekularisme dan gaya hidup juga harus dipahami dai agar pesan agama tidak kehilangan relevansinya," pungkasnya.

Ketua Komisi Dakwah MUI Padangsidimpuan, Drs.H.Syahid Muammar Pulungan SH dalam paparannya menekankan dlama efektivitas dakwah, banyak hal yang harus diperhatikan agar tujuan dari dakwah tercapai, termasuk aspek sasaran dakwah dilihat dari usia dan tingkat pendidikan umat Islam serta karakteristik masyarakat.

Merujuk pada data BPS, ungkapnya, penduduk Padangsidimpuan mayoritas muslim dan aktifitas dakwah tergolong tinggi, namun penyakit masyarakat juga tergolong tinggi. "Untuk itulah dilakukan FGD ini dalam rangka mencari solusi efektifitas dakwah," tuturnya.

Uji Kemampuan Calon Da'i

Pada hari kedua pelaksanaan pelatihan calon Da'i dan Da'iyah, Ketua MUI P.Sidimpuan, Ustadz Dra.H.Zulfan Efendi Hasibuan, MA dan Ketua Komisi Dakwah MUI P.Sidimpuan, Drs.H.Syahid Muammar Pulungan SH, menguji kemampuan calon Da'i dan Da'iyah dalam berdakwah setelah memberikan pembekalan.

Masing-masing utusan dari MAN dan utusan dari Pondok Pesantren diberikan waktu tampil ke podium untuk ceramah singkat. Isi ceramah yang yang dikemukakan peserta pelatihan seperti manfaat dan dampak media sosial, kepemimpinan dan perilaku umat.

Ustadz Zulfan Efendi dan Ustadz Syahid Muammar menilai masih perlu penguatan terhadap calon Da'i seperti ketangkasan dalam berbicara, penguasaan dan pendalaman materi serta kesiapan mental.(id46)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement