Rupiah Berbalik Menguat, IHSG Bangkit dan Harga Emas Naik

MEDAN (Waspada.id): Rupiah menunjukkan perlawanan setelah sebelumnya sempat bergerak di kisaran Rp18.000 per dolar AS. Mata uang Garuda akhirnya ditutup menguat tipis, seiring dengan penguatan sejumlah mata uang Asia terhadap dolar AS.
Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, rupiah berbalik arah setelah sebelumnya mendapat tekanan cukup kuat di pasar valuta asing.
“Rupiah berbalik arah setelah sempat ditransaksikan di kisaran harga 18 ribuan per US Dolar. Rupiah ditutup menguat tipis di level 17.960,” kata Gunawan, Selasa (29/9) sore.
Menurutnya, penguatan rupiah tersebut belum sepenuhnya didukung oleh perubahan sentimen yang signifikan terhadap dolar AS. Pasalnya, sejumlah indikator utama pasar keuangan AS masih menunjukkan tekanan.
Indeks dolar AS atau USD Index masih berada di kisaran 101,33. Sementara itu, imbal hasil US Treasury 10 tahun masih bertahan di atas level 5,2%.
“Sehingga pelemahan US Dolar pada perdagangan hari ini lebih mengarah pada tekanan teknikal serta kemungkinan adanya intervensi,” ujarnya.
Harga Minyak Turun
Di tengah kondisi tersebut, harga minyak mentah dunia juga terpantau mengalami penurunan. Harga minyak Brent berada di kisaran US$104 per barel.
Namun, Gunawan menilai penurunan harga minyak tersebut belum memberikan perubahan signifikan terhadap dua indikator utama pasar keuangan AS, yakni USD Index dan yield US Treasury 10 tahun.
“Pelemahan harga minyak mentah tersebut tidak begitu banyak memberikan perubahan pada kinerja dua indikator keuangan AS selama sesi perdagangan di Asia,” jelasnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar masih mencermati perkembangan imbal hasil obligasi AS dan pergerakan dolar AS sebagai indikator penting dalam menentukan arah aset keuangan global.
IHSG Ikut Menunjukkan Perlawanan
Tidak jauh berbeda dengan rupiah, pasar saham domestik juga menunjukkan adanya upaya perlawanan setelah IHSG sempat mengalami tekanan cukup dalam.
IHSG sempat turun hingga level 6.013 sebelum akhirnya berbalik mengurangi kerugiannya. Meski demikian, indeks tetap ditutup melemah 0,43% ke level 6.121.
“Tidak jauh berbeda dengan Rupiah, IHSG pada perdagangan hari ini juga menunjukkan adanya perlawanan,” kata Gunawan.
Menurutnya, pergerakan tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan jual yang sebelumnya cukup kuat mulai mendapatkan perlawanan dari pelaku pasar.
Harga Emas Naik
Sementara itu, harga emas dunia justru bergerak menguat. Harga emas tercatat naik ke level US$4.151 per troy ounce atau sekitar Rp2,4 juta per gram.
Gunawan mengatakan pelemahan harga minyak mentah menjadi salah satu faktor yang turut menopang kenaikan harga emas pada perdagangan kali ini.
Dengan demikian, meskipun pasar keuangan masih dibayangi tingginya yield US Treasury dan dolar AS yang relatif kuat, sejumlah aset mulai menunjukkan pergerakan berlawanan setelah sebelumnya berada dalam tekanan. (id09)















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda