Breaking News
Memuat breaking news...

Rupiah Menguat ke Rp17.882, Ekspektasi Kenaikan Bunga The Fed Mereda

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 3 Oktober 2026 - 6.33 AM WIB
Rupiah Menguat ke Rp17.882, Ekspektasi Kenaikan Bunga The Fed Mereda
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan menjelang akhir pekan. Rupiah pada perdagangan Jumat (2/10/2026) ditutup menguat ke level Rp17.882 per dolar Amerika Serikat (AS), seiring meredanya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Mengutip Antara, rupiah menguat 84 poin atau 0,47% menjadi Rp17.882 per dolar AS dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.966 per dolar AS.

Penguatan juga tercermin pada Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. JISDOR bergerak ke level Rp17.898 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.937 per dolar AS.

Analis menilai salah satu faktor yang menopang rupiah adalah data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan. Kondisi tersebut membuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed kembali menurun.

“Data inflasi yang lebih rendah telah menurunkan ekspektasi akan adanya kenaikan suku bunga lagi bulan ini. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan pada bulan Oktober hanya sekitar 26 persen, turun tajam dari 69 persen pada pekan sebelumnya,” kata dia.

Mengutip Xinhua, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) utama AS tercatat naik 3,4% secara tahunan (year-on-year) pada Agustus. Angka tersebut berada di bawah perkiraan konsensus sebesar 3,7%.

Sementara itu, indeks harga PCE inti AS yang tidak memperhitungkan komponen pangan dan energi yang berfluktuasi naik 3%. Angka tersebut juga berada di bawah ekspektasi kenaikan sebesar 3,3%, sekaligus turun dari posisi 3,3% pada Juli.

Secara bulanan, PCE inti meningkat 0,2%. Angka ini turun tipis 0,1 poin persentase dibandingkan bulan sebelumnya dan berada di bawah proyeksi kenaikan sebesar 0,3%.

Konflik AS-Iran Jadi Risiko Baru

Meski tekanan terhadap rupiah dari sisi ekspektasi kebijakan The Fed mereda, pasar valuta asing masih menghadapi risiko dari meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.

Konflik kedua negara tersebut masih memanas seiring ancaman Presiden AS Donald Trump yang berencana melancarkan serangan bom terhadap Iran pada November setelah pemilihan umum paruh waktu AS.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pasar karena berpotensi mengganggu pasokan energi global, khususnya jika eskalasi konflik berdampak terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.

“Potensi eskalasi konflik ini membuat para pelaku pasar terus memantau Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan energi global. Hal ini membuat risiko inflasi cenderung meningkat, yang mendukung argumen bagi kebijakan moneter yang lebih ketat,” ujar Ibrahim.

Sebelumnya, rupiah pada perdagangan Jumat dibuka menguat 11 poin atau 0,06% ke level Rp17.955 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp17.966 per dolar AS.

Namun, pada awal perdagangan, rupiah sempat diperkirakan berpotensi kembali tertekan akibat lonjakan harga minyak dunia di tengah meningkatnya ketegangan AS-Iran.

"Rupiah hari ini diperkirakan melemah pada kisaran 17.950-18.050 dipengaruhi oleh global kenaikan harga minyak harga minyak, yaitu meningkatnya eskalasi konflik AS dan Iran,” kata Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova.

Selat Hormuz Jadi Sorotan Pasar

Mengutip Anadolu, pemerintah Iran menyatakan pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada kesediaan AS memberikan "jaminan objektif" untuk mengakhiri perang di semua lini serta memenuhi komitmen berdasarkan inisiatif diplomatik tujuh hari yang diajukan Teheran.

Selain itu, Teheran menuntut pencairan aset Iran yang dibekukan, pencabutan blokade, pencabutan pembatasan minyak, serta penghentian blokade laut.

Di tengah ketegangan tersebut, AS kembali mengumumkan serangkaian sanksi baru terhadap Iran. Sanksi menyasar sektor perkeretaapian dan otomotif, serta jaringan perbankan bayangan yang diduga memiliki keterkaitan dengan Rusia.

Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap dua produsen mobil terbesar Iran, Iran Khodro dan SAIPA, beserta sejumlah anak perusahaan mereka.

Sanksi juga dikenakan terhadap perusahaan kereta api milik negara, Islamic Republic of Iran Railway Company, serta dua perusahaan kereta api lainnya.

Perkembangan konflik AS-Iran dan pergerakan harga minyak selanjutnya menjadi faktor penting yang akan dicermati pasar, karena dapat memengaruhi inflasi global, arah kebijakan bank sentral, serta tekanan terhadap nilai tukar negara-negara emerging market, termasuk rupiah. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement