Rupiah Menguat, Tapi Tak Mampu Selamatkan IHSG dan Harga Emas

MEDAN (Waspada.id): Penguatan nilai tukar Rupiah ternyata belum mampu menyelamatkan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari tekanan pasar. Memburuknya bursa saham Asia turut menyeret IHSG ke zona tekanan, meskipun Rupiah justru menguat ke level Rp17.875 per dolar AS pada perdagangan Rabu (7/10/2026).
Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, penguatan Rupiah salah satunya merespons positif posisi cadangan devisa Indonesia yang masih terjaga. Bank Indonesia mencatat cadangan devisa pada September 2026 sebesar US$146,3 miliar, atau hanya turun sekitar US$200 juta dibandingkan bulan sebelumnya.
"Cadangan devisa yang terjaga kerap dikaitkan dengan kemampuan dalam menjaga stabilitas mata uang Rupiah kedepan," ujar Gunawan, Rabu (7/10) sore.
Menurutnya, penurunan cadangan devisa tersebut masih relatif terbatas sehingga belum memberikan tekanan berarti terhadap stabilitas eksternal Indonesia. Terlebih, surplus neraca perdagangan tetap menjadi salah satu penopang penting dalam menjaga ketersediaan devisa di tengah tekanan dolar AS.
Namun, penguatan Rupiah tersebut belum mampu mengangkat kinerja pasar saham domestik. Tekanan bursa saham Asia membuat IHSG tetap berada dalam pusaran pelemahan pasar regional.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pada saat yang sama imbal hasil US Treasury 10 tahun kembali naik dan berada di kisaran 5,32 persen. Kenaikan yield obligasi AS berpotensi meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS sekaligus kembali memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
"Dan penguatan Rupiah sejauh ini juga mampu mengabaikan kenaikan imbal hasil US Treasury 10 tahun yang kembali merangkak naik di kisaran 5.32%. Kenaikan imbal hasil tersebut menyulut kekuatiran bahwa US Dolar masih berpeluang menekan Rupiah pada perdagangan besok," jelasnya.
Gunawan menambahkan, pelaku pasar juga masih mencermati arah kebijakan moneter Bank Sentral AS atau The Fed. Rilis minutes The Fed menjadi salah satu agenda yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga AS ke depan.
Jika sinyal yang muncul semakin hawkish, tekanan terhadap pasar keuangan negara berkembang berpotensi kembali meningkat. Terlebih, tekanan jual terhadap US Treasury dapat mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS lebih lanjut.
"Arah kebijakan moneter Bank Sentral AS sejauh ini masih lebih bernada hawkish. Ditambah dengan tekanan jual US Treasury yang bisa menyulut pengetatan kebijakan moneter lebih cepat," katanya.
Menurut Gunawan, kondisi tersebut membuat sektor keuangan domestik masih rentan mengalami gejolak. Pasar akan sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga AS, pergerakan yield US Treasury, serta arah dolar AS.
"Sektor keuangan tanah air masih rawan bergejolak di tengah arah kebijakan ekonomi yang lebih banyak mengakomodir kepentingan pasar dibandingkan dengan sektor riil," ujarnya.
Emas Tertekan Saat Minyak Menguat
Di sisi lain, harga emas dunia ikut terkoreksi di tengah kenaikan harga minyak mentah. Pada perdagangan sore, harga emas berada di kisaran US$4.114 per troy ounce atau setara sekitar Rp2,37 juta per gram.
Gunawan melihat pergerakan emas saat ini tidak terlepas dari dinamika pasar global yang juga dipengaruhi oleh pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS dan harga komoditas energi.
Kenaikan harga minyak mentah menjadi salah satu faktor yang ikut mewarnai pergerakan komoditas emas. Pasar juga masih mencermati perkembangan geopolitik dan arah kebijakan bank sentral global yang dapat menentukan arah harga emas selanjutnya.
Dengan demikian, meskipun Rupiah mendapatkan katalis positif dari posisi cadangan devisa yang relatif kuat, pasar keuangan domestik masih menghadapi tekanan eksternal. Pergerakan IHSG, Rupiah dan emas dalam waktu dekat akan sangat bergantung pada perkembangan pasar global, khususnya arah yield US Treasury dan kebijakan The Fed. (id09)


















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda