Satu Jalur, Sejuta Cerita Merayakan Kisah-kisah Jalur Komuter Indonesia



JAKARTA (Waspada.id): Kereta api kini menjadi salah satu tulang punggung mobilitas masyarakat Indonesia. Sepanjang 2025, KAI Commuter mengangkut lebih dari 400 juta penumpang secara nasional atau tumbuh sekitar 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dari jumlah itu, 349,3 juta merupakan pengguna KRL Commuter Line Jabodetabek.
Pertumbuhan tersebut diiringi modernisasi armada. Sejak Juni 2025, sebanyak 11 rangkaian KRL generasi baru produksi CRRC Sifang, dengan total 132 kereta, secara bertahap dioperasikan di lintas Bogor dan Cikarang.
KRL generasi baru itu dilengkapi sistem pendingin yang lebih baik, interior lebih lega, teknologi keselamatan terbaru serta fasilitas yang lebih ramah bagi penyandang disabilitas, lansia dan ibu hamil.
Di balik perkembangan tersebut tersimpan jutaan cerita perjalanan. Mulai pelajar yang berangkat sekolah, pekerja yang pulang ke rumah hingga keluarga yang menjelajah berbagai sudut kota.
Untuk mengapresiasi perkembangan transportasi publik sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat mengabadikan berbagai cerita tersebut, CRRC Sifang selaku produsen Kereta Cepat Whoosh dan KRL generasi baru kembali menggelar CRRC Commuter Line Drawing and Photography Competition 2026.
Kompetisi bertema “Satu Jalur, Sejuta Cerita” itu merupakan edisi kedua, setelah kegiatan perdana digelar pada 2024 dalam rangka memperingati satu tahun beroperasinya Kereta Cepat Whoosh.
Melalui tema tersebut, peserta diajak menuangkan pengalaman, pengamatan maupun imajinasi mengenai kehidupan yang terhubung melalui Commuter Line. Setiap karya diwajibkan menampilkan KRL generasi baru produksi CRRC Sifang sebagai elemen utama.
Kompetisi menggambar yang digelar secara gratis bagi pelajar SMP/MTs dan SMA/SMK/MA di wilayah Jabodetabek itu diikuti 1.414 peserta dari 29 sekolah.
Peserta terdiri atas 754 pelajar SMP/MTs dari 13 sekolah dan 660 pelajar SMA/SMK/MA dari 16 sekolah. Setelah melalui proses kurasi oleh dewan juri, terpilih 10 karya terbaik.
Sementara itu, kompetisi fotografi terbuka bagi komunitas pencinta kereta api (railfans) dan masyarakat umum di seluruh lintas layanan Commuter Line Jabodetabek. Setiap peserta dapat mengirimkan maksimal tiga karya foto. Kompetisi ini diikuti 269 peserta dari 43 komunitas.
Seluruh karya dinilai dewan juri yang terdiri atas praktisi dan profesional di bidang seni dan fotografi. Penilaian meliputi kesesuaian tema, kreativitas dan orisinalitas, teknik, komposisi visual serta kekuatan pesan.
“Kami terkesan melihat bagaimana tema ‘Satu Jalur, Sejuta Cerita’ ditafsirkan dengan begitu beragam. Peserta tidak sekadar menggambar atau memotret kereta, tetapi menangkap manusia dan cerita di dalamnya. Bagi kami, ini menunjukkan transportasi publik telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat,” ujar General Manager CRRC Sifang Co., Ltd. untuk Wilayah Indonesia, Mr. Han Wenfeng.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, CRRC Sifang juga mengajak siswa dan guru SMPN 3 Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, mengikuti study tour untuk mengenal teknologi kereta cepat dan KRL generasi baru, Rabu (16/9).
Perjalanan dimulai dari Stasiun Padalarang menggunakan Kereta Cepat Whoosh menuju Stasiun Halim, Jakarta. Selanjutnya, rombongan melanjutkan perjalanan menggunakan KRL Commuter Line sebelum mengunjungi Museum Nasional.
Selama kegiatan, para siswa mendapat penjelasan mengenai perkembangan Indonesia dari sisi transportasi publik, khususnya Kereta Cepat Whoosh dan KRL Commuter Line generasi baru produksi CRRC Sifang.
Melalui pengalaman tersebut, para siswa tidak hanya merasakan langsung kenyamanan dan kecepatan Whoosh, tetapi juga memahami peran transportasi publik dalam menghubungkan kota-kota di Indonesia.
“Kami ingin para siswa tidak hanya mengenal kereta cepat dan KRL dari gambar, tetapi merasakan langsung teknologinya. Harapannya, pengalaman ini dapat menumbuhkan minat mereka terhadap dunia teknologi dan transportasi sehingga kelak sebagian dari mereka ikut membangun perkeretaapian Indonesia,” kata Han Wenfeng.
Dengan terselenggaranya edisi kedua tersebut, CRRC Sifang berharap kompetisi dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak pelajar, komunitas serta masyarakat pada tahun-tahun mendatang.
“Kereta yang kami bangun pada akhirnya adalah tentang manusia yang menggunakannya. Melalui kompetisi ini, kami ingin generasi muda dan komunitas melihat transportasi publik bukan sekadar sarana berpindah tempat, melainkan bagian dari cerita hidup mereka,” pungkas Han Wenfeng. (id23)























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda