Sukma Bangsa Pidie Ajarkan Makna Perdamaian

SIGLI (Waspada.id): Sekolah Sukma Bangsa Pidie memperingati Hari Perdamaian Dunia dengan menggelar refleksi bersama siswa dan guru melalui kegiatan morning gathering, Senin (21/9).
Kegiatan tersebut dikemas sebagai pembelajaran karakter. Para siswa diajak memahami bahwa perdamaian bukan hanya terbebas dari konflik, tetapi juga menyangkut rasa aman, saling menghargai dan keberanian menjaga kebaikan di lingkungan sekolah.
Refleksi diawali dengan pemutaran video singkat tentang pentingnya perdamaian dalam kehidupan sehari-hari. Setelah menyaksikan tayangan tersebut, siswa dan guru diajak melihat kembali kondisi lingkungan sekolah serta peran masing-masing dalam menciptakan suasana yang aman dan nyaman.
Peserta kemudian diberikan sticky note untuk menuangkan pandangan mereka. Mereka diminta memberikan penilaian skala 1 hingga 10 mengenai sejauh mana sekolah menjadi tempat yang aman bagi mereka.
Selain memberikan nilai, peserta juga menuliskan refleksi, harapan maupun hal-hal yang ingin disampaikan terkait makna perdamaian.
Hasil refleksi menunjukkan sebagian besar siswa memandang Sekolah Sukma Bangsa Pidie sebagai lingkungan yang aman, nyaman dan mendukung perkembangan diri.
Seorang siswa menuliskan, “Yang membuat saya merasa damai adalah memiliki teman-teman yang baik dan lingkungan yang bagus.”
Catatan tersebut menunjukkan bahwa nilai perdamaian dapat ditanamkan melalui hal-hal sederhana dalam kehidupan sekolah, seperti membangun pertemanan yang sehat, menghargai perbedaan dan menciptakan rasa aman bagi sesama.
Direktur Sekolah Sukma Bangsa Pidie mengatakan, perdamaian membutuhkan keberanian untuk berpihak kepada kebaikan.
“Damai hadir ketika kita berpihak pada kebaikan. Ketika kita sudah mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, memilih untuk diam atau bersikap netral belum tentu menjadi pilihan yang tepat,” ujarnya.
Menurutnya, pendidikan perdamaian perlu membentuk siswa agar berani mendukung hal yang benar dan menolak tindakan yang dapat merugikan orang lain.
“Perdamaian membutuhkan keberanian untuk mendukung hal yang benar dan menolak hal yang merugikan sesama,” katanya.
Ia juga mengingatkan siswa agar tidak diam apabila mengalami atau menyaksikan perundungan, perlakuan tidak menyenangkan, diskriminasi maupun ketidakadilan di lingkungan sekolah.
Siswa diminta segera menyampaikan persoalan tersebut kepada pihak yang dipercaya, seperti wali kelas, wali asrama, konselor atau pihak sekolah lainnya.
“Sekolah tidak dapat menyelesaikan masalah yang tidak diketahui. Karena itu, keberanian untuk berbicara dan melapor merupakan bagian penting dari upaya menjaga perdamaian dan menciptakan lingkungan yang aman bagi semua,” tegasnya.
Menurutnya, lingkungan pendidikan yang damai tidak cukup hanya dibangun melalui aturan. Dibutuhkan kepedulian, keberanian untuk saling menjaga serta komitmen agar setiap warga sekolah merasa aman, dihargai dan didengar.
Peringatan Hari Perdamaian Dunia tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan karakter di Sekolah Sukma Bangsa Pidie.
Nilai tersebut sejalan dengan budaya sekolah melalui No Bullying, No Cheating, No Smoking, dan No Littering.
Melalui refleksi tersebut, siswa tidak hanya belajar tentang arti perdamaian, tetapi juga dilatih untuk berani menyampaikan pendapat, menghargai sesama dan bertanggung jawab menjaga lingkungan sekolah.
Dengan demikian, perdamaian tidak berhenti sebagai tema peringatan, tetapi diharapkan menjadi bagian dari perilaku sehari-hari seluruh warga Sekolah Sukma Bangsa Pidie. (id69)














Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda