Breaking News
Memuat breaking news...

Survei: 100% Analis Wall Street Prediksi Harga Emas Naik Pekan Ini

Redaksi
Redaksi
Senin, 21 September 2026 - 8.12 AM WIB
Survei: 100% Analis Wall Street Prediksi Harga Emas Naik Pekan Ini
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Harga emas kembali menunjukkan penguatan setelah melewati perdagangan yang bergejolak sepanjang pekan lalu. Menariknya, perubahan sentimen kini terlihat jelas di kalangan analis Wall Street. Seluruh 16 analis yang mengikuti survei Kitco News memprediksi harga emas akan kembali naik pekan ini.

Perubahan ekspektasi tersebut terjadi setelah sejumlah tekanan yang sebelumnya membebani emas mulai mereda, mulai dari kenaikan harga minyak, imbal hasil Treasury AS yang mendekati 5%, hingga kekhawatiran terhadap arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve.

Mengutip Kitco, Senin (21/9/2026), harga emas spot mengawali perdagangan pekan lalu di kisaran US$4.340 per troy ounce. Namun, tekanan jual kemudian membawa harga turun hingga sekitar US$4.279,30 pada Selasa, sekaligus menjadi level terendah dalam lebih dari sebulan.

Tekanan kembali muncul setelah The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%–4%. Harga emas bahkan sempat menyentuh titik terendah mingguan di sekitar US$4.261,80.

Namun, kondisi berbalik pada paruh kedua pekan. Pelemahan harga minyak, dolar AS yang melemah serta penurunan imbal hasil Treasury memberikan ruang bagi emas untuk bangkit.

Harga emas kemudian melonjak hingga US$4.400,60 pada Jumat (18/9/2026) sebelum terkoreksi dan ditutup di sekitar US$4.377 per troy ounce.

Dengan kinerja tersebut, emas berhasil mencatat kenaikan mingguan sekaligus memutus tren penurunan yang berlangsung selama tiga pekan berturut-turut.

16 Analis Kompak Ramal Emas Naik

Perubahan pergerakan harga tersebut ikut menggeser sentimen analis menjadi lebih positif.

Dalam survei mingguan Kitco News, 16 analis Wall Street atau 100% responden memproyeksikan harga emas akan naik pada pekan ini.

Managing Director Bannockburn Global Forex Marc Chandler mengatakan kenaikan emas pada pekan lalu memang masih terbatas. Namun, menurutnya, arah pergerakan harga mulai menunjukkan sinyal positif.

“Emas di pasar spot mencatat kenaikan untuk pertama kalinya dalam empat pekan, meskipun kenaikannya masih tipis, yakni sedikit di atas 0,5%,” ujar Chandler.

Adam Button, Head of Currency Strategy investingLive, juga melihat peluang kenaikan harga emas.

“Naik,” kata Button.

“Pembeli emas mulai bermunculan setelah FOMC mengambil sikap hawkish. Itu cukup mengesankan,” tambah dia.

Senior Market Analyst Barchart.com Darin Newsom juga memperkirakan harga emas bergerak naik pekan ini. Ia melihat indikator teknikal menunjukkan meningkatnya minat beli investor.

Sementara itu, Mark Leibovit, Publisher VR Metals/Resource Letter, memberikan pandangan singkat, “BUY,” dan menyebut kondisi tersebut sebagai cycle low.

Adrian Day dari Adrian Day Asset Management menilai kondisi pasar obligasi AS dan inflasi yang masih bertahan dapat menjadi faktor yang mendukung harga emas.

Investor Ritel Juga Mayoritas Pilih Naik

Optimisme terhadap emas ternyata tidak hanya muncul dari kalangan analis Wall Street. Jajak pendapat daring Kitco juga menunjukkan mayoritas investor ritel memperkirakan harga emas akan kembali menguat pekan ini.

Dari total 220 suara, sebanyak 127 investor atau 58% memperkirakan harga emas naik. Sementara itu, 52 investor atau 24% memperkirakan harga turun dan 41 investor atau 19% memperkirakan harga bergerak mendatar.

Sean Lusk, Co-Director Commercial Hedging Walsh Trading, melihat sejumlah faktor yang berpotensi menopang harga emas hingga Oktober. Ia menyoroti kemungkinan penurunan harga energi serta faktor musiman yang dapat meningkatkan permintaan fisik emas.

“Saya pikir ada cukup banyak data positif di sini. Jadi, bahkan jika mereka kembali menaikkan suku bunga, saya melihat harga emas bisa melonjak dari level saat ini hingga Oktober, kemudian kemungkinan mulai mereda menjelang pemilu paruh waktu,” ujar Lusk.

Meski sentimen analis cenderung positif, Lusk mengingatkan terdapat risiko yang perlu diperhatikan, terutama apabila harga minyak mentah kembali melonjak.

Menurutnya, risiko tersebut dapat muncul apabila harga minyak kembali menuju kisaran US$110–US$115 per barel.

Untuk sementara, ia melihat harga emas masih memiliki peluang bergerak menuju kisaran US$4.300–US$4.400 per troy ounce.

Namun, arah emas tetap akan sangat dipengaruhi perkembangan inflasi Amerika Serikat, kebijakan The Fed, harga minyak, imbal hasil obligasi pemerintah AS serta kondisi geopolitik global.

Survei Kitco tersebut mencerminkan ekspektasi para analis dan investor yang menjadi responden, sehingga bukan merupakan kepastian mengenai arah pergerakan harga emas. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement