Tgk H Akmal Abzal: Aceh Butuh Ukhuwah, Bukan Saling Menyakiti


ACEH BESAR (Waspada.id): Ukhuwah harus diwujudkan dalam bentuk kepedulian, membantu ketika saudara kesulitan, menjenguk ketika sakit, hadir ketika tertimpa musibah, serta ikut bersyukur ketika memperoleh keberhasilan. Bukan sebaliknya sesama muslim, sesama masyarakat Aceh saling menyinggung, merendahkan bahkan saling menyakiti.
Pimpinan LPI Al Anshar Lambaro Aceh Besar Tgk H Akmal Abzal SHI MH menyampaikan hal itu dalam khutbah di Masjid Jami' Al-Ittihadiyyah Kemukiman Lamreung, Kecamtan Darul Imarah, Aceh Besar, Jumat ( 09/10/2026), bertepatan 27 Rabiul Akhir 1448 Hijriah.
Tgk H Akmal Abzal menegaskan, perbedaan adalah bagian kehidupan manusia. Kita berbeda suku, bahasa, budaya, karakter, pemikiran, bahkan dalam memahami persoalan agama yang bersifat furu‘iyah. Perbedaan merupakan kenyataan yang tidak mungkin dihapuskan. Islam mengajarkan bagaimana menyikapi perbedaan dengan ilmu, akhlak, saling menghormati, dan menjaga persaudaraan.
Allah Swt berfirman: "Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. (QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini mengajarkan, perbedaan bukan alasan saling merendahkan. Perbedaan seharusnya menjadi media saling mengenal dan membangun kebaikan. Allah Swt berfirman "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu."(QS. Al-Hujurat: 10).
“Allah tidak mengatakan bahwa orang beriman harus selalu memiliki pendapat yang sama. Allah menyebut mereka bersaudara,” ungkapnya.
Karena itu, tambah Tgk H Akmal Abzal, perbedaan pendapat tidak boleh menjadi alasan untuk memutuskan persaudaraan. Boleh berbeda pandangan, organisasi, cara berdakwah, bahkan pilihan sosial politik. Namun perbedaan tersebut tidak boleh menghilangkan rasa hormat, kepedulian, dan kasih sayang. Rasulullah saw menggambarkan orang-orang beriman seperti satu tubuh. Jika satu bagian sakit, bagian lainnya ikut merasakan. (HR. Bukhari-Muslim).
Allah Swt berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain."(QS. Al-Hujurat: 11).
Menurut Tgk H Akmal Abzal, ayat ini sangat penting, terutama di era media sosial. Jangan karena berbeda pendapat kita mencaci, berbeda organisasi kita merendahkan, berbeda pilihan kita memutuskan silaturahmi. Kita tidak pernah tahu siapa yang lebih mulia disisi Allah. Bisa jadi, yang kita anggap sederhana justru lebih mulia karena keikhlasan dan amalnya.
Karena itu, berbeda itu biasa, tetapi bermusuhan adalah kebiasaan buruk yang mesti disingkirkan. Jaga lisan dan jemari menjadi hal penting dilakukan agar terhindar dari sifat tercela yang dilarang agama.
Rasulullah saw bersabda "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."(HR. Bukhari-Muslim).
Di zaman sekarang, hadis ini tidak hanya berlaku untuk lisan, tetapi juga untuk jemari. Apa yang ditulis, komentari, dan bagikan di media sosial juga harus dipertanggungjawabkan. “Sebelum berbicara atau menulis, tanyakan kepada diri, apakah ini benar, apakah perlu, apakah bermanfaat, apakah cara menyampaikannya baik,” tegas Tgk H Akmal Abzal.
Allah secara tegas mengajarkan tabayyun, yaitu memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya. Sebagaimana termaktub dalam Surat Al-Hujurat ayat 6.
Realitasnya, banyak perselisihan muncul karena informasi yang belum diperiksa atau tabayyun sehingga yang layak dipuji malah dicaci dan yang seyogyanya dicaci justru dipuj. Karena itu, jangan mudah terprovokasi oleh potongan video, pesan WhatsApp, atau unggahan media sosial.
Karena itu, Tgk H Akmal Abzal, meminta, bangunlah ukhuwah walaupun bukan berarti kita harus selalu sama. Tetapi ukhuwah dalam perberbedaan tanpa saling membenci dan menyakiti. Dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama juga memiliki perbedaan pendapat, perbedaan tersebut tidak menghilangkan penghormatan dan persaudaraan. Begitu pula masyarakat Aceh.
Kita memiliki perbedaan latar belakang, pendidikan, dayah, organisasi, profesi, tradisi, dan pilihan politik beragam. Semua itu tidak boleh menjadi alasan untuk memutuskan persaudaraan. Berbeda dalam pandangan, tetap bersatu dalam kebaikan, berbeda dalam pilihan, tetap menjaga persaudaraan, berbeda dalam cara, tetap peduli kepada sesama.
“Disitulah akhlak Islam dan keteladanan Rasulullah saw benar-benar hadir dalam kehidupan nyata,” pungkas Wakil Ketua PW NU Aceh ini.(id66)


















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda