Tgk H Musliadi Punie: Bahagia Tak Selalu Harus Dicari Jauh-Jauh

ACEH BESAR (Waspada.id): Kebahagiaan sering dicari jauh-jauh, padahal sumbernya bisa berada sangat dekat, di rumah, di tengah keluarga, di lingkungan tetangga, bahkan dari rezeki yang diperoleh di negeri sendiri.
Aktivis dakwah Tgk. H. Musliadi Punie menyampaikan hal itu dalam khutbah Jumat di Masjid Baitul Kiram, Peukan Biluy, Kecamatan Darul Kamal, Aceh Besar, Jumat (02/10/2026) , bertepatan dengan 20 Rabiul Akhir 1448 Hijriah.
Dalam khutbahnya, Tgk Musliadi mengangkat lima perkara yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib sebagai bagian dari kebahagiaan seseorang. Kelima perkara itu ialah pasangan yang sejalan, anak-anak yang berbakti, saudara atau sahabat yang baik, tetangga yang saleh, dan rezeki di negeri sendiri.
Ungkapan tersebut antara lain dicatat dalam Tanbih al-Mughtarrin, karya yang dinisbatkan kepada Abdul Wahhab al-Sya’rani. Dalam nasihat itu disebutkan, kebahagiaan seseorang antara lain terletak pada pasangan yang sejalan, anak yang berbakti, saudara yang bertakwa, tetangga yang saleh, serta rezeki yang berada di negerinya.
Menurut Tgk Musliadi, lima perkara tersebut tidak perlu dipahami sebagai ukuran mutlak seseorang bahagia atau tidak. Pesan itu lebih merupakan gambaran tentang pentingnya keluarga, pergaulan, lingkungan, dan sumber penghidupan dalam membangun kehidupan yang tenteram.
Perkara pertama berkaitan dengan pasangan hidup. Sejalan dengan itu, menurutnya, bukan berarti suami dan istri harus selalu memiliki pendapat yang sama. Perbedaan merupakan hal yang wajar dalam rumah tangga.
Yang lebih penting adanya kesamaan arah dalam nilai kehidupan, saling memahami, menjaga kehormatan, serta bersama-sama membawa keluarga menuju kebaikan.
Hal tersebut sejalan dengan Surah Ar-Rum ayat 21 yang menjelaskan, Allah menciptakan pasangan agar manusia memperoleh ketenteraman serta menumbuhkan mawaddah dan rahmah di antara keduanya.
Kebahagiaan rumah tangga, karena itu, tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya rumah, kendaraan, atau banyaknya harta. Ada kebahagiaan yang lebih mendasar, yakni ketika seseorang pulang dan menemukan keluarga sebagai tempat merasa aman, dihargai, dan diterima.
Kebahagiaan berikutnya memiliki anak yang berbakti. Anak bukan hanya penerus nama keluarga, tetapi amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Tgk Musliadi mengingatkan, anak yang banyak belum tentu menjadi sumber kebahagiaan. Kebahagiaan orang tua tumbuh ketika anak memiliki iman, akhlak, ilmu, kemandirian, serta kepedulian kepada sesama.
Karena itu, orang tua tidak cukup hanya mewariskan rumah dan harta. Iman, ilmu, adab, dan keteladanan juga harus diwariskan.
Pendidikan tersebut dimulai dari rumah. Anak belajar bukan hanya melalui nasihat, tetapi terutama dari apa yang dilihat setiap hari. Orang tua yang menginginkan anak mencintai salat, kejujuran, dan kebaikan harus lebih dahulu memberikan teladan.
Manusia juga membutuhkan saudara dan sahabat yang baik. Di tengah era media sosial, seseorang bisa memiliki banyak teman secara virtual, tetapi tetap merasa kesepian.
Sahabat yang baik bukan sekadar teman tertawa. Ia juga menjadi orang yang berani mengingatkan ketika kita mulai salah jalan.
Karena itu, kualitas persahabatan tidak hanya diukur dari seberapa sering bertemu, tetapi dari sejauh mana hubungan tersebut membawa seseorang kepada kebaikan.
Lingkungan tempat tinggal juga menjadi bagian penting dari kebahagiaan. Rumah yang bagus belum tentu menghadirkan ketenteraman jika hubungan dengan tetangga dipenuhi konflik.
Sebaliknya, rumah sederhana dapat menjadi tempat yang membahagiakan ketika tetangga saling menjaga, membantu, dan menghormati.
Hal ini sekaligus mengingatkan agar seseorang tidak hanya bertanya apakah tetangganya sudah baik. Pertanyaan yang lebih penting ialah apakah dirinya sendiri telah menjadi tetangga yang baik.
Sementara itu, ungkapan tentang rezeki di negeri sendiri tidak berarti Islam melarang seseorang merantau. Sejak dahulu manusia bepergian untuk mencari ilmu, berdagang, dan memperoleh penghidupan.
Pesan tersebut lebih tepat dipahami sebagai gambaran kenyamanan ketika seseorang dapat memperoleh rezeki tanpa kehilangan hubungan dengan keluarga, lingkungan, dan kampung halaman.
Jika harus merantau, seseorang tetap dapat menjaga hubungan dengan keluarga melalui komunikasi, kepulangan secara berkala, dan perhatian yang tidak terputus.
Kebahagiaan bukan hanya tentang berapa banyak harta yang dimiliki atau seberapa jauh seseorang pergi mencari penghidupan. Kebahagiaan juga tumbuh dari pasangan yang saling menguatkan, anak yang berbakti, sahabat yang baik, tetangga yang saleh, dan rezeki yang halal serta berkah.
“Jangan sampai mencari rezeki membuat seseorang kehilangan keluarga, nilai, identitas, ibadah, dan hubungan baik dengan kampung halaman,” ungkapnya.
Lima perkara itu, menurut Tgk Musliadi, sekaligus menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu berada jauh di luar diri. Bisa jadi, kebahagiaan yang dicari selama ini justru sedang menunggu di rumah, menyapa dari rumah sebelah, hadir melalui keluarga, atau tumbuh dari rezeki yang diperoleh dengan penuh keberkahan.(id66)
















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda