The Fed Beri Sinyal Naikkan Bunga, IHSG dan Rupiah Rawan Terkoreksi

MEDAN (Waspada.id): Bursa saham dan nilai tukar Rupiah masih dibayangi tekanan setelah pejabat Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) memberikan sinyal bahwa peluang kenaikan suku bunga acuan masih terbuka hingga akhir 2026.
Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, meskipun The Fed belum memastikan kapan kenaikan suku bunga akan dilakukan, arah kebijakan tersebut tetap menjadi perhatian utama pelaku pasar.
“Pejabat pada Bank Sentral AS menyatakan bahwa masih ada kemungkinan kenaikan bunga acuan hingga tutup tahun 2026. Meskipun belum bisa memastikan kapan kebijakan tersebut akan diambil,” kata Gunawan Benjamin, Kamis (8/10/2026).
Menurutnya, peluang kenaikan suku bunga tersebut tidak terlepas dari tekanan inflasi AS yang masih berada di atas target. Kondisi ini membuat pasar akan mencermati perkembangan harga untuk melihat bagaimana ekspektasi inflasi ke depan.
“Harga minyak mentah dunia mengambil peranan penting dalam menentukan arah kebijakan moneter The Fed ke depan. Ditambah dengan data lapangan pekerjaan, yang kalaupun nantinya membukukan angka yang solid maka akan kian mempercepat kemungkinan realisasi kenaikan The Fed Fund Rate,” jelasnya.
Gunawan menilai hasil FOMC Meeting Minutes juga memperlihatkan bahwa arah kebijakan moneter global masih cenderung menuju pengetatan.
Kondisi tersebut mulai tercermin pada pergerakan bursa saham Asia. Mayoritas bursa saham di kawasan tersebut diperdagangkan di zona merah.
IHSG sendiri masih mampu dibuka menguat ke level 6.154. Namun, penguatan tersebut dinilai belum cukup kuat untuk menghapus risiko koreksi.
“Dan pasar saham di Asia merespon negatif arah kebijakan The Fed tersebut. Mayoritas bursa saham di Asia diperdagangkan di zona merah. IHSG masih lebih beruntung karena dibuka menguat di level 6.154. Namun sayangnya penguatan IHSG diproyeksikan hanya sementara. Sesaat setelah dibuka menguat, IHSG justru sempat ditransaksikan di zona merah,” ujar Gunawan.
Ia memperkirakan IHSG masih akan bergerak volatil dengan rentang perdagangan 6.070 hingga 6.170. Sentimen negatif dari bursa Asia menjadi salah satu faktor yang membuat indeks saham domestik masih rawan terkoreksi.
Dari dalam negeri, pasar juga akan mencermati rilis data indeks kepercayaan konsumen September. Menurut Gunawan, data tersebut menjadi salah satu indikator penting yang berpotensi memengaruhi kinerja sektor keuangan di Indonesia.
Rupiah dan Emas Masih Menguat
Di pasar valuta asing, Rupiah masih mampu mencatatkan penguatan pada perdagangan pagi. Mata uang Garuda berada di level Rp17.865 per dolar AS.
Gunawan mengatakan penguatan Rupiah turut ditopang oleh penurunan imbal hasil US Treasury 10 tahun yang berada di kisaran 5,303%. Selain itu, USD Index juga melandai ke level 102,1.
“Sejauh ini mata uang Rupiah masih mampu menguat di level 17.865 per US Dolar di sesi perdagangan pagi. Kinerja mata uang Rupiah diuntungkan dari melemahnya imbal hasil US Treasury yang berada di kisaran level 5.303%. Termasuk juga dengan melandainya kinerja USD Index ke level 102.1. Meski demikian baik IHSG maupun Rupiah masih berpeluang terkoreksi,” katanya.
Menurutnya, peluang koreksi tetap terbuka apabila ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed semakin menguat. Kenaikan suku bunga AS berpotensi meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar sekaligus memberikan tekanan terhadap pasar negara berkembang.
Di sisi lain, harga emas dunia justru masih bergerak menguat. Harga emas tercatat berada di kisaran US$4.138 per troy ounce atau sekitar Rp2,38 juta per gram.
Gunawan menjelaskan, emas masih mendapatkan dukungan karena pasar memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed belum akan dilakukan dalam waktu dekat.
“Di bagian yang berbeda, harga emas dunia ditransaksikan menguat dikisaran level $4.138 per ons troy atau berada dikisaran 2.38 juta per gram. Harga emas terpantau membaik karena sekalipun sinyal kenaikan bunga acuan mencuat, namun diproyeksikan kenaikannya tidak akan terjadi pada perdagangan hari ini,” ungkapnya.
Ia menambahkan, ekspektasi pasar saat ini lebih mengarah pada kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mendatang.
“Dan sejauh ini proyeksi paling kuat kenaikan bunga acuan The Fed terjadi pada bulan Desember mendatang,” pungkas Gunawan. (id09)



















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda