Breaking News
Memuat breaking news...

Ancaman Global Meningkat, Rupiah Diprediksi Bisa Tembus Rp20.000 Per Dolar AS

Redaksi
Redaksi
Selasa, 24 Maret 2026 - 8.59 AM WIB
Ancaman Global Meningkat, Rupiah Diprediksi Bisa Tembus Rp20.000 Per Dolar AS
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Memanasnya konflik geopolitik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel mulai menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas nilai tukar rupiah. Dalam skenario terburuk, rupiah bahkan diprediksi bisa melemah hingga menyentuh level Rp 20.000 per dolar AS.

Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, menilai potensi tersebut bukan lagi sekadar spekulasi, melainkan risiko nyata yang didukung oleh pola historis pergerakan rupiah saat krisis global terjadi.

Menurutnya, eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia, mengganggu rantai pasok global, serta mendorong arus keluar modal (capital outflow) dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Konflik di Iran berpotensi mengganggu pasokan minyak dan gas global beserta turunannya, dengan implikasi serius terhadap ekonomi dunia, termasuk Indonesia,” ujar Anthony dalam keterangan resminya, dikutip dari investor.id, Selasa (24/3/2026).

Ia menjelaskan, perekonomian Indonesia masih cukup rentan terhadap tekanan eksternal. Hal ini tercermin dari sejumlah episode pelemahan rupiah di masa lalu. Pada periode 2014–2015, rupiah tercatat melemah hingga 20 persen ke level Rp14.650 per dolar AS.

Kemudian pada 2018, depresiasi sekitar 13,5 persen membawa rupiah ke level Rp15.202. Sementara saat awal pandemi Covid-19 pada 2020, rupiah kembali anjlok hampir 20 persen dalam waktu singkat, dari Rp13.675 menjadi Rp16.575 per dolar AS.

Dari pengalaman tersebut, Anthony menilai bahwa besarnya cadangan devisa bukan satu-satunya faktor penentu stabilitas nilai tukar. Keberlanjutan aliran dana asing justru menjadi faktor krusial, yang sering kali direspons pemerintah melalui penerbitan utang atau obligasi global.

“Kenaikan harga minyak, gangguan rantai pasok global, dan pergeseran arus modal dari emerging market ke aset safe haven akan menciptakan tekanan simultan terhadap neraca eksternal Indonesia,” jelasnya.

Berdasarkan data Bloomberg per Senin (23/3/2026), rupiah saat ini berada di kisaran Rp16.997 per dolar AS. Dengan pola depresiasi historis yang berkisar 15–20 persen, level Rp20.000 dinilai masih berada dalam batas yang realistis jika tekanan global terus meningkat.

“Angka ini bukan lagi spekulatif, tetapi berbasis data historis. Bahkan dalam kondisi geopolitik yang lebih ekstrem, depresiasi rupiah bisa melampaui 20 persen dan terjadi dalam waktu relatif singkat, sekitar tiga hingga enam bulan ke depan,” pungkasnya. (invid)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement