JAKARTA (Waspada.id): Bank Indonesia (BI) memetakan tiga jalur utama transmisi dampak konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global maupun domestik. Ketiga jalur tersebut mencakup sektor finansial, harga komoditas, serta perdagangan dan produksi.
Melansir investor.id, Selasa (14/4), Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa jalur finansial menjadi kanal pertama yang paling cepat merespons meningkatnya tensi geopolitik. Meski Iran dan Israel bukan pusat keuangan dunia, keterlibatan AS sebagai pusat finansial global membuat dampaknya meluas secara tidak langsung.
“Jalur pertama ada jalur finansial. Poinnya jalur ini mengetat. Direct impact Iran-Israel bukan financial hub global. Reaksi pasar di Middle East terbatas, tapi indirect impact besar karena menyangkut AS sebagai financial hub global,” ujar Destry dalam Central Banking Forum 2026 di Jakarta, Senin (13/4/2026).
BI mencatat, kondisi ini tercermin dari penguatan dolar AS yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Indeks dolar (DXY) terpantau bertahan di atas level 100, memicu peningkatan volatilitas di pasar keuangan global.
Selain itu, jalur kedua yang tak kalah krusial adalah harga komoditas, terutama akibat potensi gangguan di Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Ketegangan di kawasan ini mendorong lonjakan harga energi global.
Kenaikan harga minyak tersebut turut berdampak pada komoditas lain seperti batu bara, crude palm oil (CPO), dan emas. Bagi Indonesia, kondisi ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan.
“Dampaknya ada 2 sisi harga minyak naik tapi komoditi ekspor juga meningkat,” jelas Destry.
Sementara itu, jalur ketiga berasal dari sektor perdagangan dan produksi. Meski kontribusi Iran terhadap produk domestik bruto (PDB) global relatif kecil, gangguan di Selat Hormuz tetap memicu disrupsi rantai pasok global (global supply chain). Dampaknya, biaya logistik dan pengapalan meningkat, yang kemudian berimbas pada kenaikan harga bahan baku industri dan berpotensi menekan produksi.
“Harga komoditas global naik, emas, coal, nikel, pertanian juga naik. Yang terbaru plastik karena ada supply chain, ujungnya ada penurunan produksi,” ujar Destry.
Secara keseluruhan, BI menilai kombinasi tekanan dari ketiga jalur tersebut dapat mendorong perlambatan ekonomi global yang disertai kenaikan inflasi atau dikenal sebagai stagflasi.
“Ini namanya stagflasi, gak bagus ya. Respons kebijakan menjadi penting. Beberapa negara kebijakan fiskalnya akan longgar. Moneter yang tren ke bawah akan lebih berhati-hati,” tegas Destry.
Dalam menghadapi situasi tersebut, BI menekankan pentingnya respons kebijakan yang terukur dan sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal guna menjaga stabilitas nilai tukar serta ketahanan pasar keuangan domestik di tengah meningkatnya ketidakpastian global. (invid)










