Breaking News
Memuat breaking news...

Gencatan Senjata Terancam Bubar, IHSG Dan Rupiah Kembali Melemah

Redaksi
Redaksi
Kamis, 9 April 2026 - 10.04 AM WIB
Gencatan Senjata Terancam Bubar, IHSG Dan Rupiah Kembali Melemah
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Iran menuding Amerika Serikat melanggar kesepakatan gencatan senjata. Kondisi tersebut langsung memicu kekhawatiran di pasar global dan berdampak pada pelemahan sejumlah instrumen keuangan, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan, meningkatnya ketegangan ini membuat pelaku pasar cenderung mengambil sikap hati-hati, terutama di tengah ketidakpastian arah kebijakan global.

“Memanasnya kembali konflik di Timur Tengah menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan. Investor cenderung menghindari risiko, sehingga pasar saham dan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia, mengalami tekanan,” ujarnya, Kamis (9/4).

Harga minyak mentah dunia turut bereaksi terhadap situasi tersebut. Minyak jenis WTI dan Brent terpantau bergerak stabil dengan kecenderungan naik, diperdagangkan di kisaran 96,6 dolar AS per barel. Kenaikan harga energi ini dinilai turut memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter global.

Di sisi lain, mayoritas bursa saham Asia pada perdagangan hari ini bergerak di zona merah. IHSG pada sesi pembukaan tercatat melemah ke level 7.238, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gagalnya kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran.

Gunawan menjelaskan bahwa rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) juga menjadi faktor tambahan yang menekan pasar.

“FOMC minutes membuka peluang kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS. Ini diperkuat oleh kenaikan harga minyak yang membuat tekanan inflasi berpotensi meningkat kembali,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut mengurangi peluang kebijakan dovish dari bank sentral AS dan justru membuka ruang pengetatan lanjutan di tahun ini.

Sementara itu, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi ini tercatat melemah ke kisaran Rp17.020 per dolar AS. Pelemahan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap risiko global yang semakin tinggi.

Di tengah gejolak tersebut, harga emas dunia relatif stabil di level 4.713 dolar AS per ons troy. Jika dikonversikan ke rupiah, harga emas berada di kisaran Rp2,59 juta per gram.

“Emas masih menjadi aset lindung nilai yang cukup diminati di tengah ketidakpastian. Namun secara keseluruhan, pasar keuangan masih akan bergerak volatil selama risiko geopolitik belum mereda,” tutup Gunawan. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement