Ekonomi

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Tertekan, Emas Dunia Dekati US$5.200

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Tertekan, Emas Dunia Dekati US$5.200
Kecil Besar
14px

MEDAN (Waspada.id): Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pagi ini, Rabu (25/2), dibuka menguat di level 8.318. Penguatan tersebut terjadi di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan melemah di kisaran Rp16.840 per dolar AS.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin, menilai pergerakan pasar keuangan regional Asia hari ini relatif minim sentimen. Pelaku pasar, kata dia, masih mengandalkan data indeks kepercayaan konsumen Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan pemulihan sebagai katalis utama.

“Sentimen dari Asia masih terbatas. Pasar saat ini lebih banyak merespons data kepercayaan konsumen AS yang membaik, sehingga memberi dorongan psikologis terhadap pasar saham,” ujarnya.

Meski IHSG dibuka menguat, Gunawan mengingatkan adanya potensi pembalikan arah jika sentimen eksternal berkembang kurang kondusif.

“Walaupun sejauh ini IHSG menguat, tetap ada peluang pasar berbalik arah. Namun secara umum, IHSG masih berpotensi diperdagangkan di zona hijau,” jelasnya.

Dari sisi geopolitik, lanjut Gunawan, rencana perundingan lanjutan antara Iran dan Amerika Serikat pada Kamis mendatang masih menjadi faktor yang menopang harga emas.

Saat ini, harga emas dunia ditransaksikan menguat di kisaran US$5.193 per ons troy dan berpeluang menembus level psikologis US$5.200 dalam perdagangan hari ini.

Menurutnya, ketidakpastian geopolitik menjelang perundingan tersebut membuat emas tetap diminati sebagai aset lindung nilai (safe haven).

Sementara itu, rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang terbatas antara Rp16.780 hingga Rp16.860 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Di tengah minimnya agenda ekonomi global hari ini, pelaku pasar juga mencermati kebijakan tarif yang diberlakukan Presiden AS. Pemerintah AS disebut masih membuka kemungkinan kenaikan tarif lanjutan bagi negara-negara yang dinilai tidak sejalan dengan kebijakan perdagangan mereka.

Selain itu, komentar sejumlah pejabat bank sentral AS atau The Fed yang mengindikasikan penahanan suku bunga untuk sementara waktu turut menjadi perhatian. Kebijakan tersebut berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan pada akhirnya dapat menekan harga emas.

“Pasar saat ini berada dalam fase selektif. Investor cenderung fokus pada satu isu yang dianggap paling dominan sebagai acuan keputusan investasi, sementara isu lain yang dinilai kurang signifikan untuk sementara diabaikan,” pungkas Gunawan. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE