MEDAN (Waspada.id): Bank Sentral China, People’s Bank of China (PBoC), memutuskan mempertahankan suku bunga pinjaman di level 3%. Kebijakan tersebut dinilai belum memberikan sentimen besar terhadap pergerakan pasar saham di kawasan Asia.
Sejumlah bursa di China seperti Shenzhen Stock Exchange dan Shanghai Stock Exchange terpantau menguat pada perdagangan hari ini. Namun berbeda dengan Hong Kong Stock Exchange yang tercermin dari pergerakan indeks Hang Seng dan justru mengalami koreksi.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin, menilai keputusan PBoC menahan suku bunga memang sudah sesuai ekspektasi pasar sehingga tidak memicu reaksi signifikan.
“Tidak ada kejutan dari kebijakan PBoC. Karena sudah sesuai perkiraan pelaku pasar, dampaknya relatif terbatas terhadap pergerakan bursa di Asia,” ujarnya.
Secara regional, mayoritas bursa Asia diperdagangkan di zona hijau. Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi perdagangan pagi dibuka menguat ke level 8.428. Meski demikian, penguatannya terpantau tipis dan masih membuka peluang koreksi intraday.
Gunawan memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang 8.370 hingga 8.450 pada perdagangan hari ini. “Belum ada sentimen besar yang bisa menjadi motor penggerak pasar. Pergerakan masih cenderung terbatas,” katanya.
Di pasar valuta asing, rupiah ditransaksikan melemah di kisaran Rp16.820 per dolar AS. Tekanan terhadap mata uang domestik muncul seiring penguatan indeks dolar AS yang mendekati level 98 atau berada di sekitar 97,8.
“Selama indeks dolar AS masih menguat, rupiah berpeluang bertahan di atas Rp16.800 per dolar AS hingga akhir sesi perdagangan,” jelasnya.
Sementara itu, harga emas pada perdagangan pagi di Asia terkoreksi ke kisaran US$5.167 per troy ons atau sekitar Rp2,8 juta per gram. Padahal pada sesi perdagangan Amerika sebelumnya, emas sempat diperdagangkan di kisaran US$5.220 per troy ons dan menembus level psikologis US$5.200.
Meski terkoreksi di sesi Asia, harga emas masih menunjukkan tren kenaikan jika dibandingkan dengan posisi sore sebelumnya. Gunawan menilai, ketegangan geopolitik global masih menjadi faktor utama yang menopang harga emas dalam beberapa waktu terakhir.
“Emas tetap menjadi aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global. Selama tensi geopolitik belum mereda, potensi volatilitas harga emas masih cukup tinggi,” pungkasnya. (id09)











