Ekonomi

Pengelolaan Fiskal Jadi Sorotan S&P, Rupiah Melemah Dekati Rp17.200 per Dolar AS

Pengelolaan Fiskal Jadi Sorotan S&P, Rupiah Melemah Dekati Rp17.200 per Dolar AS
Kecil Besar
14px

MEDAN (Waspada.id): Kinerja pasar keuangan global menunjukkan dinamika beragam pada perdagangan hari ini, Jumat (17/4), di tengah perkembangan geopolitik dan sorotan terhadap kondisi fiskal Indonesia. Nilai tukar rupiah tercatat melemah mendekati level Rp17.200 per dolar AS, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap risiko fiskal nasional.

Sentimen positif sempat muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan bahwa konflik di Iran berpotensi berakhir dalam waktu dekat. Selain itu, Israel dan Lebanon juga dilaporkan mencapai kesepakatan gencatan senjata sementara selama 10 hari. Meski demikian, pelaku pasar masih menunggu kepastian lebih lanjut terkait realisasi kesepakatan tersebut.

Di sisi lain, harga minyak mentah dunia justru mengalami kenaikan. Minyak jenis Brent diperdagangkan di kisaran US$98,3 per barel, sementara WTI berada di sekitar US$93 per barel. Kenaikan harga energi ini menekan mayoritas bursa saham Asia yang bergerak di zona merah.

Berbeda dengan tren regional, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat di level 7.645. Namun, pergerakan ini dinilai anomali dan berpotensi terkoreksi seiring tekanan eksternal yang masih kuat.

Tekanan juga datang dari nilai tukar rupiah yang melemah ke level Rp17.170 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah peringatan dari Standard & Poor’s (S&P) terkait potensi penurunan peringkat kredit Indonesia. S&P menyoroti risiko fiskal yang meningkat, terutama akibat beban bunga utang dan subsidi energi.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai bahwa peringatan tersebut menjadi sinyal serius bagi pemerintah.

“Pasar merespons cukup sensitif terhadap isu fiskal. Jika tidak ada langkah konkret dalam menjaga defisit dan beban subsidi, tekanan terhadap rupiah bisa berlanjut,” ujarnya.

Menurut Gunawan, kenaikan harga minyak mentah turut memperbesar tekanan terhadap fiskal, terutama dari sisi subsidi energi. Hal ini dapat mempersempit ruang belanja pemerintah dan meningkatkan persepsi risiko investor.

“Di tengah kondisi global yang belum stabil, pengelolaan fiskal yang hati-hati menjadi kunci untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik,” tambahnya.

Sementara itu, harga emas dunia tercatat melemah ke kisaran US$4.790 per ons troy atau sekitar Rp2,65 juta per gram. Penurunan ini dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak serta sikap wait and see pelaku pasar menjelang negosiasi lanjutan antara Iran dan Amerika Serikat.

Meski demikian, tekanan terhadap emas diperkirakan terbatas, mengingat ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih berlangsung dan berpotensi kembali meningkatkan permintaan aset safe haven.

Secara keseluruhan, pelaku pasar masih mencermati perkembangan geopolitik global serta kebijakan fiskal dalam negeri yang menjadi faktor utama penentu arah pasar ke depan. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE