EkonomiNusantara

Realisasi Belanja Negara Tumbuh Cepat Sebabkan Defisit APBN 0,21 Persen Dari PDB

Realisasi Belanja Negara Tumbuh Cepat Sebabkan Defisit APBN 0,21 Persen Dari PDB
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa . (ist)
Kecil Besar
14px

JAKARTA (Waspada.id): Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, realisasi belanja negara tumbuh lebih cepat dibandingkan pendapatan negara menyebabkan defisit pada Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBN) sebesar 0,21 persen atau setara 54,6 triliun dari Produk Domestik Bruto (PDB) hingga akhir Januari 2026.

Dikatakan, pendapatan negara mencapai Rp172,7 triliun atau naik 9,5 persen secara tahunan. Sementara itu, belanja negara mencapai Rp227,3 triliun atau tumbuh 25,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Tapi defisit APBN masih sangat terkendali dan berada dalam koridor desain APBN 2026,” kata Menkeu Purbaya dalam taklimat media APBN KiTa Edisi Februari 2026 di Jakarta, Senin (23/2/2026).

Menurutnya, kebijakan pemerintah mempercepat belanja negara dilakukan untuk mendukung program prioritas dan menjaga momentum ekonomi. Sehingga pertumbuhan ekonomi akan terus terjaga.

“Realisasi belanja negara sebesar Rp227,3 triliun atau 5,9 persen dari pagu APBN, ini menunjukkan akselerasi belanja pemerintah sejak awal tahun untuk mendorong berbagai program prioritas, terutama dalam menjaga daya beli dan mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal I,” ujar Purbaya.

Penerimaan perpajakan tetap menjadi kontributor utama pendapatan negara, yakni Rp138,9 triliun. Penerimaan pajak mencapai Rp116,2 triliun atau tumbuh 30,7 persen, sedangkan bea dan cukai turun 14 persen menjadi Rp6,7 triliun, serta penerimaan negara bukan pajak tercatat Rp33,9 triliun.

“Pertumbuhan pajak pada Januari mencapai 30,7 persen dibandingkan tahun lalu. Ini menandakan adanya perbaikan ekonomi dan peningkatan efisiensi pengumpulan pajak di Direktorat Jenderal Pajak. Saya harap ke depan tren ini dapat berlanjut,” kata Purbaya.

Belanja pemerintah pusat tercatat Rp131,9 triliun dan transfer ke daerah Rp95,3 triliun. Defisit keseimbangan primer tercatat Rp4,2 triliun, sementara pemerintah memastikan pembiayaan dilakukan secara terukur untuk menjaga stabilitas fiskal.

“Secara keseluruhan, APBN 2026 tetap berfungsi optimal sebagai shock absorber dan motor penggerak ekonomi, dengan pendapatan yang tumbuh positif, belanja yang terakselerasi, serta defisit yang tetap terkendali. Kami optimistis APBN mampu menjaga stabilitas dan mendukung momentum pemulihan ekonomi nasional,” urai Purbaya. (Id88)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE