JAKARTA (Waspada.id): Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan perdana usai libur panjang Lebaran, Rabu (25/3/2026). Penguatan ini terjadi di tengah melemahnya dolar AS dan meredanya kekhawatiran pasar terhadap konflik geopolitik global.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah mengawali perdagangan di level Rp16.850 per dolar AS atau terapresiasi sebesar 0,74%. Kinerja ini melanjutkan tren positif sebelum libur, di mana pada Selasa (17/3/2026) rupiah ditutup menguat 0,06% ke posisi Rp16.975 per dolar AS.
Sejalan dengan itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah. Pada pukul 09.00 WIB, DXY turun 0,28% ke level 99,158, setelah sebelumnya ditutup menguat 0,49% di posisi 99,434 pada perdagangan terakhir.
Pergerakan rupiah masih sangat dipengaruhi sentimen eksternal, terutama perkembangan terbaru terkait upaya Amerika Serikat dalam meredakan konflik dengan Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan adanya kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran. Namun, pernyataan tersebut belum sepenuhnya menenangkan pasar setelah pihak Teheran membantah adanya negosiasi langsung.
Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati. Investor dinilai mulai mengalami kelelahan terhadap derasnya informasi terkait konflik dan potensi gencatan senjata, meski ketidakpastian masih tinggi. Sikap wait and see pun masih mendominasi pasar global.
Di sisi lain, pelemahan dolar AS memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat. Tekanan terhadap dolar terjadi seiring meredanya harga minyak, menyusul ekspektasi bahwa konflik di Timur Tengah tidak akan semakin memburuk dalam waktu dekat.
Meski demikian, penguatan rupiah diperkirakan masih terbatas. Pasar tetap mencermati arah kebijakan moneter AS, di mana pejabat bank sentral The Federal Reserve mengisyaratkan suku bunga kemungkinan akan dipertahankan lebih lama. Hal ini dipicu oleh inflasi yang belum sepenuhnya terkendali serta risiko lanjutan dari ketegangan geopolitik.
Dengan berbagai faktor tersebut, pergerakan rupiah ke depan masih akan sangat bergantung pada dinamika global, khususnya kebijakan moneter AS dan perkembangan konflik di Timur Tengah. (cnbci)













