JAKARTA (Waspada.id): Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada perdagangan Selasa (24/2/2026), seiring penguatan dolar AS dan meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu sikap risk-off di pasar global.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.04 WIB di pasar spot exchange, rupiah melemah 33 poin atau 0,2% ke level Rp16.835 per dolar AS. Di saat yang sama, indeks dolar AS menguat 0,08% ke posisi 97,78.
Pelemahan ini terjadi setelah sehari sebelumnya, Senin (23/2/2026), rupiah ditutup menguat 86 poin di level Rp16.802 per dolar AS. Namun sentimen eksternal kembali mendominasi pergerakan mata uang Garuda pada awal pekan ini.
Mengutip data dari TradingView, mayoritas mata uang Asia terpantau melemah tipis terhadap dolar AS. Kondisi ini dipicu kekhawatiran pasar atas potensi eskalasi konflik antara AS dan Iran yang berpotensi menekan minat risiko investor global.
“Isu yang dapat menyuntikkan volatilitas ke pasar mata uang pekan ini adalah risiko konflik militer antara AS dan Iran,” ujar Samara Hammoud dari CBA dalam laporan risetnya.
Ia menambahkan, Departemen Luar Negeri AS telah memerintahkan staf non-esensial untuk meninggalkan Kedutaan Besar AS di Beirut, Lebanon. Langkah tersebut memicu spekulasi bahwa Presiden AS, Donald Trump, berpotensi mengambil langkah militer terhadap Iran.
Tekanan terhadap mata uang Asia juga tercermin dari pergerakan pasangan USD/KRW yang naik 0,1% ke level 1.446,13. Sementara itu, USD/SGD turut menguat 0,1% ke posisi 1,2673, berdasarkan data FactSet.
Dengan meningkatnya tensi geopolitik serta penguatan dolar AS, pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati perkembangan global sebagai penentu arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek. (invid)











