MEDAN (Waspada.id): Pasar keuangan masih dibayangi kebijakan tarif impor tambahan Amerika Serikat (AS), namun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah justru mampu menutup perdagangan di zona hijau.
Kebijakan terbaru Presiden AS Donald Trump yang menetapkan tarif impor global sebesar 15% menambah ketidakpastian di pasar. Langkah tersebut diambil setelah kebijakan tarif resiprokal sebelumnya dibatalkan oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin, menilai manuver tersebut membuat pelaku pasar kembali menghitung ulang dampak kebijakan terhadap masing-masing negara.
“Bagi negara yang sebelumnya dikenakan tarif gabungan di atas 15%, kebijakan ini bisa dianggap lebih ringan. Namun bagi negara yang tarifnya di bawah itu, tentu menjadi beban tambahan. Dampaknya tidak akan seragam dan ini membuat pergerakan pasar menjadi sangat variatif,” ujar Gunawan, Senin (23/2) sore.
Di tengah dinamika tersebut, IHSG mampu bertahan di zona positif dan ditutup menguat 1,5% di level 8.396,082. Sejumlah saham unggulan seperti BBRI, BBCA, BMRI, ANTM, ASII hingga TINS turut menopang penguatan indeks.
Sementara itu, rupiah juga menunjukkan kinerja solid dengan ditutup menguat ke level Rp16.785 per dolar AS. Penguatan mata uang Garuda terjadi di tengah pelemahan USD Index yang turun ke level 97,5.
Di sisi lain, harga emas dunia justru mengalami koreksi dibandingkan sesi pagi. Logam mulia tersebut ditransaksikan melemah ke level 5.130 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,78 juta per gram.
Menurut Gunawan, pelemahan emas lebih bersifat teknikal setelah lonjakan sebelumnya, di tengah perubahan kebijakan tarif dan meningkatnya tensi geopolitik global.
“Ketidakpastian memang masih ada. Namun sejauh ini pasar domestik menunjukkan ketahanan yang cukup baik. IHSG dan rupiah masih mampu bergerak positif meski sentimen global berfluktuasi,” tutupnya. (id09)











