Agusni AH, penyair kosmik asal Aceh, kembali menelurkan trilogi puisi bertajuk “Gadai Langit”—sebuah gema lirih yang menjelma riuh di negeri bernama Indonesia.
Pada bait-baitnya, langit tak lagi sekadar cakrawala, melainkan amanah yang tergadai di meja-meja kepentingan; udara menjadi saksi bisu yang diperdagangkan, dan rakyat sepertinya dipaksa menghirup sisa dari haknya sendiri. Trilogi ini menjelma jeritan estetik—menggugat, menyayat, sekaligus mengingatkan bahwa langit sejatinya tak pernah diciptakan untuk dimiliki segelintir tangan.
Agusni AH menulis khusus untuk tayang di waspada.id sebagaimana berikut ini:
GADAI LANGIT (I)
Langit Indonesia digadai diam-diam dibungkus dollar di meja yang tak pernah menghadap doa,
birunya ditakar dengan angka, transaksi disepakati tanpa runding anak negeri terdiam penuh tanya, tanpa jawaban awannya disalin jadi kontrak tanpa nurani,
burung-burung kehilangan arah, terbang di antara janji yang patah,
dan kita menengadah dalam bisu yang menganga, menagih kembali langit yang dulu milik harapan, kini milik imprealis durjana…//(a.ah).
GADAI LANGIT (II)
Udara negeri tergadaikan di panggung yang hiruk pikuk,
napas dijadikan angka, diukur tanpa pernah merasakan sesak yang kita hirup dalam hampa,
langit pun sesak, bumi menahan batuk sunyi,
dan kita hidup menghirup sisa, dari udara yang pernah sepenuhnya merdeka…//(a.ah)
GADAI LANGIT (III)
Oksigen angkasa Indonesia terampas di senyap yang dipahat kepentingan,
dan kita hanya menghirup ampas—sisa dari napas yang dulu utuh dan lapang,
paru-paru tanpa udara akhirnya dada negeri hampa,
sementara langit menghitam, memikul jerit yang tak pernah sempat disuarakan dan kini menyempit–menghilangkan asa…//(a.ah).










