MEDAN (Waspada.id): Ketua Forum Peduli Pembangunan dan Penegakan Hukum (P3H), Rahmad Hidayat Munthe menilai 100 hari kepemimpinan Kapolrestabes Medan Jean Calvijn Simanjuntak sebagai fase penting konsolidasi pemberantasan narkotika di Kota Medan.
Hal itu disampaikan Rahmad kepada Waspada.id di Medan, Kamis (26/2/2026). Ia menilai capaian tersebut harus dibaca bukan sekadar keberhasilan operasional, melainkan sebagai momentum strategis untuk membongkar struktur kejahatan yang lebih besar dan sistemik.
“Ini bukan hanya soal banyaknya kasus yang diungkap. Ini soal bagaimana negara hadir memutus mata rantai kerusakan sosial yang menghancurkan generasi muda,” tegas Ketua Bidang Lingkungan Hidup HMI Cabang Medan itu.
Ancaman Narkoba Sudah Masuk Level Darurat Sosial
Rahmad menilai, besarnya jumlah pengungkapan kasus dalam 100 hari terakhir justru menunjukkan bahwa peredaran narkoba di Medan telah berada pada level darurat sosial.
Ia menekankan bahwa narkotika tidak hanya merusak individu, tetapi juga berdampak pada:
- meningkatnya kriminalitas jalanan
- rusaknya ketahanan keluarga
- melemahnya produktivitas generasi muda
- potensi infiltrasi ekonomi ilegal
“Kalau kita melihat barang bukti ratusan kilogram dan puluhan ribu pil, ini bukan lagi kejahatan kecil. Ini jaringan yang punya sistem, punya modal, dan punya perlindungan,” ujarnya.
Penegakan Hukum Harus Naik Kelas
Rahmad mendorong agar pendekatan pemberantasan narkoba tidak berhenti pada penggerebekan dan penangkapan, tetapi naik ke level follow the money dan pembongkaran aktor intelektual.
Menurutnya, keberhasilan sejati bukan pada banyaknya tersangka, tetapi pada:
- Terungkapnya struktur jaringan.
- Terputusnya jalur distribusi.
- Disitanya aset hasil kejahatan.
- Ditutupnya ruang kompromi dan kebocoran internal.
“Kalau bandar tidak dimiskinkan dan jaringannya tidak diputus, maka kita hanya memotong ranting, bukan mencabut akar,” tegasnya.
Kolaborasi dan Transparansi Jadi Kunci
Sebagai aktivis kepemudaan dan lingkungan, Rahmad menilai perang melawan narkoba membutuhkan ekosistem perlawanan yang kolektif.
Ia mendorong:
- Pemerintah kota memperkuat program rehabilitasi dan edukasi berbasis komunitas.
- Aparat konsisten menjaga integritas internal.
- Masyarakat aktif melapor tanpa rasa takut.
- Kampus dan organisasi kepemudaan menjadi pusat gerakan anti-narkoba.
“Kita tidak boleh membiarkan Medan dicap sebagai pasar empuk narkotika. Ini soal harga diri kota dan masa depan anak-anak kita,” katanya.
Apresiasi Disertai Kewaspadaan Publik
Rahmad menegaskan bahwa Forum P3H memberikan dukungan moral terhadap langkah tegas Kapolrestabes Medan. Namun, dukungan tersebut bukan cek kosong.
“Kami apresiasi, tapi kami juga akan tetap kritis. Konsistensi adalah ujian sebenarnya. Jangan sampai semangat 100 hari hanya menjadi euforia sesaat,” ujarnya.
Ia berharap kepemimpinan Kombes Jean Calvijn menjadi titik balik pemberantasan narkoba yang lebih sistematis, berkeadilan, dan menyentuh akar persoalan.
“Perang ini belum selesai. Tapi 100 hari ini memberi sinyal bahwa arah kebijakan sudah berada di jalur yang tepat. Tinggal bagaimana konsistensi dan keberanian dijaga,” pungkas Rahmad. (id96)












