Medan

Ahli UGM: Kewajiban 20 Persen Tanah Eks HGU Tak Bisa Diterapkan Sepihak

Ahli UGM: Kewajiban 20 Persen Tanah Eks HGU Tak Bisa Diterapkan Sepihak
Sidang lanjutan perkara Citra Land di PN Medan, Senin (13/4).Waspada.id/Ist
Kecil Besar
14px

MEDAN (Waspada.id): Sidang lanjutan Perkara Citra Land di Pengadilan Tindak Pidana Negeri (PN) Medan kembali digelar Senin (13/4).

Dalam sidang terdahulu Jaksa Penuntut Umum menghadirkan ahli, pada sidang kali ini giliran para terdakwa atau advokatnya yang menghadirkan ahli yang terdiri dari ahli korporasi dan ahli Agraria dan Administrasi Pertanahan

Di persidangan, Ahli Hukum Agraria dan Administrasi Pertanahan dari UGM Yogyakarta, Prof Nurhasan Ismail, dan Dr. Yagus Suyadui SH M.Si dari Universitas Jayabaya (mantan Plt. Kepala Biro Hukum Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN) menilai Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak dapat serta-merta menerapkan Pasal 165 ayat (1) Kepmen ATR/BPN Nomor 18 Tahun 2021 untuk mewajibkan penyerahan 20 persen tanah kepada negara.

Ketentuan tersebut, menurut kedua ahli, tidak bisa langsung diterapkan dalam kasus pemberian Hak Guna Bangunan (HGB) yang berasal dari Hak Guna Usaha (HGU) milik PTPN I Regional I (dahulu PTPN II) kepada PT Nusa Dua Propertindo (NDP), tanpa mengaitkannya dengan Peraturan Pemerintah tentang Reforma Agraria serta UUD 1945.

“Pasal tersebut belum memiliki mekanisme pelaksanaan yang jelas terkait bagaimana pemenuhan penyerahan penyerahan 20 persen tanah HGU yang di ubah menjadi HGB sehingga kini masih diperdebatkan,” ujar Nurhasan saat menjawab pertanyaan tim penasihat hukum terdakwa Iman Subakti di hadapan Majelis Hakim Tipikor Medan.

Ia menjelaskan, ketentuan Pasal 165 ayat (1) Permen ATR/BPN Nomor 18 tahun 2021 tersebut bukan ketentuan yang berdiri sendiri, namun harus di pahami sebagai bagian dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan harus ditempatkan sebagai peraturan pelaksanaan dari Perpres No.86 Tahun 2018 tentang Reforma Agraria khususnya Pasal 7 ayat (1) huruf b yang kemudian diganti dengan Perpres No.62 Tahun 2023 khususnya Pasal 14 ayat (1) huruf b. dan di samping itu,

ketentuan Pasal 165 dan ketentuan lain dalam PermenATR/Kepala BPN No.18 Tahun 2021 tersebut belum mengatur lebih lanjut mekanisme atau prosedur administratif pemenuhan kewajiban penyerahan 20% tersebut.

“Karena ia merupakan bahagian dari kebijakan reforma agraria, maka tanah yang diserahkan akan digunakan untuk redistribusi kepada masyarakat. Dan pelaksanaan penyerahaanya tidak dapat dilakukan sepihak oleh negara,” ujarnya

Dijelaskannya, harus ada mekanisme yang adil, termasuk pemberian ganti rugi kepada pemegang hak, serta dilakukan secara simultan agar tidak bertentangan dengan undang-undang, dan tidak menimbulkan kesan negara mengambil tanah secara semena-mena, ” jelasnya.

Nurhasan juga membedakan antara “pemberian” dan “perubahan” hak atas tanah. Pemberian hak dilakukan jika tanah telah menjadi tanah negara, sedangkan perubahan hak terjadi jika masih ada hak yang melekat dan diajukan oleh subjek yang sama.

Dalam perkara ini, ia menegaskan yang terjadi adalah pemberian hak, bukan perubahan, karena HGU telah dilepaskan terlebih dahulu. Dengan demikian, kewajiban penyerahan 20 persen tanah hanya berlaku pada perubahan hak, bukan pemberian, dan Pasal 165 ayat (1) hanya dapat diterapkan dalam perubahan hak bukan pemberian hak.

Pendapat tersebut diperkuat oleh ahli lain, Dr Yagus Suyadi dari UGM. Ia menilai perkara ini lebih tepat mengacu pada Pasal 88 Kepmen ATR/BPN yang mengatur tentang pemberian hak.

Menurut Yagus, proses permohonan HGB dari tanah eks HGU yang telah dilepaskan dan menjadi tanah negara merupakan langkah sah dan sesuai ketentuan hukum.

Menanggapi keterangan para ahli, Hakim Anggota Yusafrihardi Girsang menyebut adanya peluang bagi terdakwa untuk mengajukan gugatan terhadap negara.

“Jika negara juga dibebani kewajiban ganti rugi, maka terbuka peluang bagi terdakwa untuk menggugat,” ujarnya.

Sementara itu, ahli hukum bisnis dari Universitas Diponegoro, Prof Nindyo Pramono, menjelaskan mekanisme inbreng dari HGU menjadi HGB milik PT NDP.

Lebih jauh lagi dipersidangan Prof. Nindyo menyatakan dalam kasus konkrit yang terjadi inbreng atau pemasukan modal dilakukan oleh sebuah Badan Hukum kepada anak usaha nya, modal itu dalam bentuk uang atau barang, jika barang maka modal tersebut selanjutnya akan dikonversi dalam bentuk aaham.

Adapun yang terjadi dalam kasus yang diadili adalah quasi inbreng yaitu pemasukan modal dalam bentuk barang tidak bergerak berupa tanah HGU milik PTPN II kepada anak Perusahannya yang bernma PT. NDP, dan kesemuanya adalah lazim dan dibenarkan menurut ketentuan hukum yang berlaku di BUMN (Pemen BUMN No.02 tahun 2010) serta Undang-Undang Perseroan Terbatas (PT).

“Jika inbreng dilakukan secara jujur, profesional, dan bertanggung jawab, maka tidak dapat dikategorikan sebagai perbuatan melawan hukum,” katanya.

Sidang akan dilanjutkan pekan depan dengan agenda mendengarkan keterangan ahli lainnya dari tim Advokat/penasihat hukum para terdakwa.(id23)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE