Bangunan Baru Masjid Agung Medan Megah Dan Sejuk

  • Bagikan
TAMPAK jamaah melaksanakan salat sunnah sebelum berjamaah pada Kamis (7/12). Waspada/Anum Saskia

MEDAN (Waspada): Masjid Agung di Jalan Pangeran Diponegoro Medan, yang dibuka untuk umum sejak 29 November lalu, terasa berbeda dari bangunan masjid sebelumnya. Tampak kian megah dan terasa amat sejuk di dalam masjid tempat melaksanakan ibadah salat dengan suasana yang sangat luas.

Meski bangunan belum selesai dengan sempurna, namun para jamaah sudah bisa menikmati ruangan salat yang dilengkapi dengan tempat berwudu’. Tapi untuk bersuci(buang air) masih menggunakan kamar mandi yang lama.

Itulah sebabnya, jika Anda masuk pelataran Masjid Agung dan ingin melaksanakan shalat, petugas di area parkir akan mengarahkan lokasi salat dan tempat berwudu’.
“Sebelum ke lokasi shalat, jika ingin bersuci ke kamar mandi, silahkan di sini,”kata petugas Kamis(7/12) sembari mengarahkan jamaah.

Setelahnya, jamaah bisa mencari lokasi salat dengan memperhatikan arah ke lantai satu menggunakan lift atau eskalator. Untuk lift dibedakan antara jamaah laki-laki dan perempuan.

Selanjutnya ada tempat sepatu dan sandal dilengkapi dengan kotak infaq. Tentu saja jamaah yang menitipkan sandal atau sepatu bisa berpartisipasi untuk berinfaq.

Ruangan salat yang luas terasa semakin nyaman dengan pemandangan ornamen-ornamen yang indah dengan pintu kaca otomatis yang memudahkan jamaah masuk ke ruangan utama untuk salat. Selain itu, jamaah juga bisa mengikuti kegiatan ceramah agama pada Senin dan Kamis.

Meski belum sempurna, karena masih banyak ruangan dikerjakan oleh para pekerja, tapi jamaah yang salat berjamaah mulai ramai.

“Senang bisa salat berjamaah di Masjid Agung ini,”kata Ismail warga Aceh yang sedang berkunjung ke Kota Medan.

Lantas bagaimana dengan bangunan masjid yang lama? Amatan Waspada, masjid yang lama masih berdiri kokoh, para pendatang dari luar kota Medan yang akan salat juga memanfaatkan tempat ini untuk istirahat karena tempat ini masih terjaga kebersihannya.

Meskipun pada pintu-pintu masjid telah dituliskan, pindah ke masjid baru, namun tampaknya warga pendatang masih memanfaatkan tempat ini untuk istirahat sembari menunggu waktu salat berikutnya. (m22)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *