Medan

Janji Bobby yang Terhempas di Ujung Jembatan Kereta Api

Janji Bobby yang Terhempas di Ujung Jembatan Kereta Api
Dua siswi SMP sedang menyeberang di atas pipa besi Tirtanadi di Gang Buntu, Sukadamai, Medan Polonia, Sabtu (11/4).
Kecil Besar
14px

Kebutuhan menyeberang tak pernah ikut mati. Warga “mengadopsi” pipa Tirtanadi sebagai jembatan pengganti.

SATU pagi, Senin pukul 09.21 WIB, 16 September 2024, jembatan tua bekas lintasan kereta api di Gang Buntu, Sukadamai, kawasan Medan Polonia, jatuh ke dasar sungai. Sebelum ambruk, warga sekitar sempat panik dan merasakan getaran di rumahnya. “Tidak ada korban jiwa,” cerita Biah, 49 tahun, saksi mata di lokasi kejadian saat itu.

Cerita runtuhnya jembatan sontak viral di media sosial. Senin tengah malam, Wali Kota Bobby Nasution, turun langsung melakukan inspeksi ke lokasi jembatan milik PT Kereta Api Indonesia itu. Pada saat yang sama, atmosfer politik tengah menggelegak—Bobby disebut-sebut telah “mengantongi tiket” untuk bertarung dalam kontestasi Pemilihan Gubernur Sumatera Utara.

Cahaya lampu malam di Gang Buntu kawasan rel kereta api membelah gelap. Di hadapan Bobby, seorang ibu, Rabiatul Hadawiyah, menunjuk ke arah Sungai Deli yang telah “menelan” bangkai jembatan kereta api berlumur sejarah ekonomi dan transportasi di era penjajahan itu.

Di sisi kiri jembatan yang ambruk, di atas aliran sungai yang keruh dan deras, membentang pipa besi tua milik Perumda Tirtanadi. Pipa itu kini menjelma “jembatan” darurat bagi anak-anak yang hendak menuju sekolah di seberang. Tanpa pegangan, tanpa pengaman—hanya mengandalkan keseimbangan dan keberanian yang rapuh.

Setiap pagi, puluhan siswa SMP Negeri 34 Medan meniti pipa itu pada ketinggian delapan meter, mempertaruhkan nyawa demi selembar ijazah.

“Malam itu Pak Bobby dan beberapa stafnya datang ke sini,” ujar Rabiatul, mengenang. Nada bicaranya tak lagi menyisakan harap. “Beliau janji akan bantu bangun jembatan gantung yang layak.”

Janji itu, seketika, melambung di atas bekas rangka jembatan rel kereta api tua—peninggalan Kolonial Belanda yang dulu urat nadi ekonomi perkebunan Deli. Kini, ia hanya menyisakan beton retak dan besi berkarat. Terputus. Mati. Seperti janji Bobby.

Pagi kemarin, Sabtu 11 April 2026, dua siswi SMP, memulai hari dengan ritual sama: memanjat dan berjalan santai di atas pipa besi Tirtanadi. Di bawahnya, Sungai Deli mengalir deras, membawa lumpur dan ancaman. Di depannya, sekitar 400 meter perjalanan menuju sekolah. Di belakangnya, rumah di Gang Buntu yang sumpek terisolasi.

“Sudah sering anak-anak jatuh. Pernah hampir hanyut,” kata Rabiatul kepada waspada.id. Kalimat itu terdengar seperti pengulangan melelahkan—sebuah tragedi yang berubah menjadi rutinitas.

Nurhayati Tinambunan menimpali, suaranya datar: “Mau bagaimana lagi? Itu satu-satunya jalan.”

Pilihan memang tak pernah benar-benar ada. Jika memutar lewat jalur arteri, jarak menjadi berlipat, ongkos bertambah. Bagi warga dengan penghasilan pas-pasan, pipa itu bukan alternatif, melainkan keharusan. Jalan pintas yang berbahaya, tetapi gratis.

Jembatan rel tua yang roboh di Sukadamai adalah saksi bisu dari tiga zaman: masa kesultanan, kolonialisme Belanda, dan kemunduran pascakemerdekaan. Dibangun awal abad ke-20 oleh Deli Spoorweg Maatschappij, ia pernah mengangkut tembakau Deli—komoditas emas yang menjadikan Medan kota kosmopolitan di pinggir hutan tropis. Jalur ini menghubungkan perkebunan dengan pelabuhan Belawan, memutar roda ekonomi kolonial.

Namun sejarah bergerak ke arah lain. Sejak 1970-an, rel-rel kecil ditinggalkan. Truk dan jalan raya mengambil alih. Besi-besi rel dicabut, tetapi jembatan-jembatan dibiarkan membusuk. Di Sukadamai, yang tersisa hanya rangka dan kenangan.

Kebutuhan menyeberang tak pernah ikut mati. Warga pun “mengadopsi” pipa Perumda Tirtanadi sebagai pengganti. Solusi yang lahir dari keterpaksaan. Negara absen, rakyat menjembatani diri sendiri.

Ironi semakin terasa ketika menoleh ke kiri dan dari seberang jembatan. Beberapa ratus meter dari sana, kompleks Malibu Indah berdiri megah. Rumah-rumah besar, jalan beraspal mulus, dan fasilitas modern menjadi penanda kemajuan kota. Di satu sisi, kemewahan; di sisi lain, anak-anak merangkak di atas pipa.

Ketimpangan itu terlihat begitu telanjang. Tak perlu data statistik untuk menjelaskannya.

Kini, Bobby bukan lagi wali kota. Ia telah menjadi Gubernur Sumatera Utara, dengan kewenangan dan anggaran jauh lebih besar. Dinas PUPR berada di bawah kendalinya. Proyek infrastruktur dapat diperintahkan dengan satu tanda tangan.

Namun di Sukadamai, tak ada yang berubah. Pipa berkelir biru itu masih berselonjor seperti “anaconda”. Anak-anak masih meniti maut. Dan jembatan gantung yang dijanjikan tetap menjadi bayang-bayang di masa lalu dan kini.

Pertanyaannya bukan lagi apakah janji itu akan ditepati. Melainkan: mengapa janji itu pernah diucapkan?

Data Dinas Pendidikan menunjukkan puluhan siswa di kawasan ini terancam putus sekolah—bukan karena biaya, tetapi karena akses. Ketakutan menjadi penghalang utama. Studi lembaga pendidikan pada 2023 mencatat anak-anak di wilayah dengan infrastruktur berbahaya memiliki tingkat absensi jauh lebih tinggi. Bukan karena malas. Karena takut jatuh. Takut mati.

Ketakutan itu perlahan berubah menjadi apatisme. Warga lelah menagih. Mereka hafal ritme politik: datang menjelang pemilu, menghilang setelah menang.

Bobby bukan yang pertama datang membawa janji. Tapi ia yang paling diingat. Karena janjinya konkret. Spesifik. “Jembatan gantung yang layak.”

Dua tahun telah berlalu. Dua musim hujan mengguyur Sungai Deli yang jorok. Dua kali pula anak-anak tetap meniti pipa—pergi dan pulang sekolah—di tengah arus yang meninggi. Sementara Bobby naik kelas dalam karier politiknya.

Ya, Medan memang dibangun dari janji yang sering ditulis di angkasa—terdengar, tapi tak pernah bisa disentuh.

Di Sukadamai, warga tak meminta jembatan megah. Mereka hanya ingin layak: pijakan yang tidak licin, pegangan yang aman, ketinggian yang tidak mematikan. Kebutuhan dasar, bukan proyek prestise.

Sore hari, anak-anak itu kembali merangkak pulang. Matahari tenggelam di balik hunian elit Taman Malibu Indah, memantulkan cahaya ke permukaan pipa. Kilau itu menipu—seperti janji yang pernah diucapkan di tempat yang sama.

Nun jauh di Jalan Pangeran Diponegoro, kantor gubernur berdiri kokoh, penuh prestisius. Anggaran mengalir. Kekuasaan tersedia. Tapi apakah ingatan lama—di ujung jembatan kereta api yang runtuh—itu juga ikut tersimpan?

Atau paradoksnya: malam di Gang Buntu itu hanya sebuah adegan—sekilas teater politik yang selesai begitu kamera dimatikan?

Jembatan rel tua di Sukadamai kini menjelma monumen sunyi. Ia mengingatkan bahwa peninggalan kolonial yang ditinggalkan saja masih lebih “hadir” dibanding janji yang tak kunjung diwujudkan.

Dan pipa besi itu—saksi bisu anak-anak yang tak sadar berlatih menapaki reruntuhan—merekam segalanya: langkah goyah, peluh di balik senyum photo opportunity, janji-janji yang runtuh bersama gemeretak jembatan kereta tua warisan kolonial. Belanda sudah pulang, namun yang tertinggal bukan pembebasan, melainkan bayangan janji baru: Bobby Nasution, menantu presiden dua periode, yang mengira “pedigree” politik adalah jembatan.

Kini, Sungai Deli yang dicemari bau busuk sampah organik itu terus mengalir tiada henti—menulis dan mencuci noda sejarah, meski tetap tak mampu membersihkan “dosa janji” Gubernur Bobby yang tak kunjung menyeberang. | RAM GAREIRA.

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE