MEDAN (Waspada.Id): Pihak Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Energi Sumber Daya Mineral (Perindag ESDM) Sumut mengeluarkan pernyataan. Bahwa, kelangkaan minyak goreng bersubsidi merek Minyakita di sejumlah wilayah, disebabkan kendala distribusi, bukan keterbatasan produksi.
Pernyataan itu disampaikan Kepala Dinas Perindag ESDM Sumut Dedi J.P. Harahap, Jumat (17/4). Menjawab wartawan, dia mengakui terjadinya kelangkaan minyak goreng Minyakita di beberapa daerah di Sumut.
Untuk memastikannya, menurut Dedi, pihaknya telah membentuk Tim Monitoring yang dipimpin Kabid PPDN-TN Charles T.H. “Dan hasil monitoring tim, dipastikan, kelangkaan disebabkan oleh kendala distribusi, buksn keterbatasan produksi,” katanya.
Disampaikan Dedi, dari penelusuran Tim Monitoring, ditemukan bahwa hambatan utama terletak pada aspek pengangkutan. Yakni, karena keterbatasan armada angkut.
“kalau produksi sebenarnya mencukupi. Tapi distribusi belum optimal, terutama karena keterbatasan armada angkut,” sebutnya.
Dijelaskan Dedi, untuk produksi minyak goreng, sejumlah produsen utama memiliki kapasitas ptoduksi yang memadai. Seperti PT. Musim Mas, PT. Permata Grup, dan PT. Yorgo Anugerah Nusantara. Bahkan, dia bilang, masih terdapat stok yang belum terserap, di antaranya 908 ton produksi PT. Permata Hijau Sawit yang belum diambil oleh Bulog, akibat keterbatasan transportasi.
Begitupun, menurut Dedi, upaya untuk mengatasi persoalan transportasi terus dilakukan. Diantaranya, para produsen mrngaju berkomitmen mempercepat distribusi Minyakita, khususnya untuk kebutuhan non Program Bantuan Pangan (Non-Bapang).
Disampaikan Dedi, PT. Yorgo Anugerah Nusantara, tercatat telah menyalurkan lebih dari 1.394 ton, sejak awal April 2026.
Sementara itu, PT. Musim Mas dan PT. Permata Grup, dijadwalkan mulai mendistribusikan Minyakita non-Bapang pada pekan keempat April.
Sedangkan untuk potensi tantangan lainnya dalam penyaluran minyak goreng, menurut Dedi, juga mulai diantisipasi. Misalkan tentang keterbatasan bahan baku kemasan plastik, yang dipicu kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah, berpotensi memengaruhi stabilitas produksi dan harga Minyakita.
Sedangkan menyangkut ketersediaan stok Minyakita, dikatakan Dedi, relatif aman. Pernyataan itu didasari atas hasil
monitoring terhadap empat gudang Bulog di Kota Medan dan sekitarnya. Yakni Gudang Mustafa, Jemadi, Mabar, dan Labuhan Deli.
Dari hasil monitoring itu, kata Dedi, tercatat per 13 April 2026, total stok Minyakita tercatat mencapai 2.415 ton, dengan rincian 2.388 ton dialokasikan untuk Program Bantuan Pangan (Bapang) dan 27 ton untuk kebutuhan non-Bapang. Sedangkan stok beras medium dan premium juga tersedia dalam jumlah signifikan.
Data Januari hingga Maret 2026 menunjukkan adanya kesenjangan antara pasokan dari produsen ke Bulog dan realisasi penyaluran ke pengecer. Pada Januari, dari 1.474 ton pasokan, hanya sekitar 33 persen yang tersalurkan. Februari meningkat menjadi 47 persen, namun kembali menurun pada Maret menjadi sekitar 33 persen. Kondisi ini mengindikasikan masih adanya stok yang belum terdistribusi atau belum tercatat dalam sistem.
Kendala distribusi Program Bapang turut dipengaruhi keterbatasan bahan baku kemasan beras berupa biji plastik impor yang terdampak kenaikan harga global. Akibatnya, penyaluran bantuan terhambat karena distribusi Bapang mensyaratkan beras dan Minyakita disalurkan dalam satu paket.
Upaya mengatasi hal tersebut, imbuh Dedi Harahap, pihaknya mendorong adanya kebijakan dari pemerintah pusat agar Bulog Kanwil Sumut dapat menyalurkan bantuan secara parsial, dengan mendahulukan distribusi Minyakita kepada masyarakat.
Selain itu, kata Dedi, penguatan koordinasi antara Bulog dan Pemprovsu tentu sangat krusial, guna memastikan kelancaran distribusi, menjaga stabilitas harga, serta menjamin ketersediaan bahan pokok, khususnya di Kota Medan dan sekitarnya. “Kami optimis bahwa ke depan distribusi Minyakita tidak lagi terkendala di lapangan, sebagaimana hasil monitoring yang sudah dilakukan oleh Kementerian Perdagangan,” katanya. (Id144)










