Medan

Luncurkan Buku “Ayo Kembali Kepada Al-Quran, Spirit Al-Quran Di Hati Drg Hayati Hasibuan

Luncurkan Buku “Ayo Kembali Kepada Al-Quran, Spirit Al-Quran Di Hati Drg Hayati Hasibuan
Drg Hayati Hasibuan (empat dari kanan), penulis buku Ayo Kembali Kepada Al-Quran, bersama hadirin saat peluncuran buku yang digelar di Medan, Sabtu (11/4).Waspada.id/Diurna Wantana
Kecil Besar
14px

USIA senja tak menghalangi setiap muslim untuk belajar dan mempelajari Al-Quran. Justru di masa tua, mempelajari kitab suci Al-Quran menjadi spirit spiritual dan menebar keteladanan bagi orang-orang di sekitarnya.

Prinsip itulah yang pegang erat-erat oleh Drg Hayati Hasibuan, seorang ibu 83 tahun yang membumikan Al-Quran lewat buku yang beliau tulis berjudul “Ayo Kembali Kepada Al-Quran”. Buku setebal 252 halaman itu menjadi dorongan bagi setiap pribadi muslim bahwa Quran tidak hanya sekadar dibaca-baca, tetapi menjadi ladang ilmu dan pahala.

Dalam acara peluncuran bukunya yang digelar, Sabtu (11/4) di Medan, Hayati mengisahkan buku yang dia tulis berangkat dari kegemarannya membaca Al-Quran. Di tengah kesibukannya saat masih aktif sebagai dosen PNS, seorang sahabatnya, Nilam Sari yang berhasil merayu, mengajak dan meyakinkannya untuk bersama-sama belajar mengaji Al-Quran, Tahsin Quran bersanad pada RBQ At-Tartil.

“Semula aku merasa keberatan karena faktor usia. Tak layak rasanya “opung-opung” setua diriku (78 tahun) belajar mengaji lagi bersama orang-orang muda. Alhamdulillah dengan niat lillahi ta’ala, kuteguhkan hatiku untuk mengikuti pengajian tersebut. Ternyata aku masih mampu untuk mengikuti pelajaran-pelajaran di majelis taklim tersebut, walaupun masih terbata-bata,” kata Hayati seperti yang tertuang dalam mukadimah buku tersebut.

Hayati mengaku di majelis pengajian itulah Allah mempertemukan dengan sahabat-sahabat yang punya “satu niat dan satu tujuan”.

Hayati salut dengan orang-orang muda, yang masih sempat menyisihkan waktu untuk “belajar mengaji”, di tengah kesibukan mereka sebagai wanita-wanita pekerja merangkap ibu -ibu rumah tangga.

“Diriku sebagai seorang nenek yang mengasihi cucu-cucunya dan mereka menyapaku dengan “Oma Hayati”. Semangat dan keceriaan orang-orang muda, telah mereka tularkan kepadaku, membuat hati berbahagia dan lupa usia,” katanya.

Dalam sambutan di acara peluncuran buku tersebut, Hayati menggambarkan bahwa Al-Quran bukan sekadar kitab untuk dibaca, melainkan pedoman hidup yang kian terasa kedahsyatannya justru ketika semakin didalami maknanya.

Di usia 83 tahun, akademisi kesehatan gigi itu tetap menunjukkan semangat membumikan nilai-nilai Al-Quran melalui peluncuran buku keempatnya, sebuah karya yang lahir dari perjalanan spiritual mendalam dalam mentadabburi firman Allah.

“Semakin Al-Quran ditadabburi, semakin terasa betapa seluruh isinya relevan dengan hidup dan kehidupan manusia,” ujar Hayati.

Ahmad Fauzi Nasution, putra sulung Drg Hayati menyatakan rasa haru dan bangga terhadap sang ibu yang di usia lanjut tetap produktif menulis dan menghadirkan karya beliau yang diabadikan dalam bentuk buku.

Hayati diketahui merupakan ibu dari empat anak dan nenek dari sebelas cucu. Selain akademisi bidang kedokteran gigi, ia juga aktif menulis di sejumlah media cetak.

Rektor Univa Medan Prof Saiful Akhyar Lubis mengapresiasi buku karya Drg Hayati Hasibuan ini, yang dianggapnya sebagai way of life dan bermanfaat bagi yang membacanya.

Ivan Mangunsong, editor buku tersebut mengakui buku ini murni berasal dari gagasan dan tulisan penulis sendiri. “Bahasanya indah, sesuai kaidah, mudah dipahami sehingga tidak banyak memerlukan editing dan mengajak pembaca untuk kembali menghargai Al-Quran,” kata Irvan. (dw)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE