MEDAN (Waspada.id): Kolaborasi untuk menjaga bumi sebagai rumah bersama kembali ditegaskan dari kawasan Danau Toba melalui penandatanganan Nota Kesepahaman antara Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark (BP TCUGGp) dan Parsadaan Pomparan Toga Sinaga dan Boruna, Minggu (12/4), di Gedung Togsin, Jalan Bunga Terompet No. 139, Kelurahan Sempakata, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan.
Kesepakatan ini memperkuat komitmen lokal yang terhubung langsung dengan prinsip global UNESCO dalam mendorong pembangunan berkelanjutan berbasis geopark.
Nota kesepahaman tersebut ditandatangani General Manager BP TCUGGp, Azizul Kholis, dan Ketua Umum PPTSB, Edison Sinaga. Kerja sama ini mencakup bidang pendidikan, inovasi, pariwisata, ekonomi lokal, pembinaan generasi muda, hingga pelestarian budaya dan lingkungan untuk lima tahun ke depan.
Dalam kesempatan itu, PPTSB memaparkan rekam jejak organisasi sejak berdiri pada 1940, termasuk berbagai program konkret seperti penghijauan berbasis marga, pengelolaan kebun bibit, serta pengawasan kawasan hijau di sekitar Danau Toba. Sementara BP TCUGGp menyoroti capaian internasional berupa “Green Card” dari UNESCO, serta rencana pengembangan geosite baru, pelaksanaan Geofest 2026, dan penguatan program reboisasi.
Namun di balik optimisme tersebut, muncul suara kritis yang menegaskan arah kolaborasi. Penggiat lingkungan sekaligus anggota Dewan Pakar PPTSB, Wilmar Eliaser Simandjorang, menilai tantangan utama saat ini bukan lagi pada konsep, melainkan pada keberanian mengeksekusi.
Menurutnya, masih terdapat jarak antara rencana dan implementasi di lapangan. Status sebagai geopark kelas dunia, kata dia, menuntut standar kerja yang tidak biasa dan tidak cukup berhenti pada administrasi maupun sosialisasi.
“Kerja sama ini akan diuji bukan oleh dokumennya, tetapi oleh jejaknya di lapangan—apakah lingkungan semakin terjaga, masyarakat merasakan perubahan, dan generasi muda benar-benar terlibat,” tegasnya dalam pesan tertulis, Senin (13/4/2026).
Wilmar juga menekankan pentingnya peran BP TCUGGp dalam menjaga arah dan konsistensi implementasi, sementara PPTSB dinilai memiliki kekuatan sosial strategis melalui jaringan komunitas dan kedekatan kultural sebagai motor perubahan di tingkat akar rumput.
Diskusi yang berlangsung turut dihadiri sejumlah pimpinan PPTSB, di antaranya Eduard Sinaga, Aldon Sinaga, dan Yas Sinaga, serta Ketua Yayasan PPTSB Hombar Sinaga dan anggota Dewan Pakar Osbet Sinaga.
Dari pihak BP TCUGGp, hadir para manajer yakni Petrus Parlindungan Purba, Tikwan Raya Siregar, dan Ovi Vensus Samosir.
Pertemuan tersebut juga menekankan pentingnya pelibatan generasi muda dalam jaringan geopark global, pengembangan ruang edukasi seperti museum tematik, serta penguatan program berbasis rekomendasi UNESCO. Hal ini diarahkan agar geopark tidak sekadar menjadi simbol, tetapi benar-benar menjadi ruang hidup yang mengintegrasikan konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Dengan suasana yang hangat, pesan yang mengemuka tetap tegas: kolaborasi ini tidak boleh berhenti sebagai dokumen.
Dari tepian Danau Toba, dunia kembali diingatkan bahwa menjaga bumi bukan sekadar wacana, melainkan kerja nyata lintas generasi—dari komitmen menuju aksi, dari rencana menuju dampak. (fs)










